10

2798 Kata
................. Di hari Minggu pagi yang cukup cerah ini, Riana siap menyambut Dion di kediaman orangtuanya sesuai dengan rencana mereka dua hari lalu. Wanita itu juga telah menyiapkan beberapa skenario serta karangan cerita salah satunya yakni memperkenalkan Dion sebagai seorang kekasih, dan jalinan asmara mereka sudah berlangsung selama hampir satu tahun. Riana sebenarnya tidak suka dengan kebohongan, tapi ia tak punya pilihan lain jika ingin semua tetap berjalan lancar. Memberitahukan kenyataan yang sesungguhnya bukan hal mudah bagi Riana saat ini, terutama tentang respons dari orangtuanya. Dan yang terpenting untuk Riana kini adalah ia bisa segera menikah, menyelamatkan kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam rahimya. Calon bayinya, tak lebih. Di sisi lain, Riana menghindari risiko akan terulang kembalinya perlakuan kasar yang diterima Dion tempo hari. Watak ayahnya juga bisa dikatakan keras. Tidak jauh berbeda dengan Pak Suarta, Ayah Dion. Jadi, ia tak lupa meminta pemuda itu mengikuti saja skenarionya tanpa ingin mendengar bantahan atau penolakan Dion. "Riana...," Panggilan tersebut Ibu Ida tujukan kepada putri sulung beliau yang pagi ini sedang ikut membantu memotong-motong sayuran untuk menu makanan spesial. Ibu Ida juga sudah melakukan persiapan lain guna menyambut tamu khusus yang akan datang bertandang tidak kurang dari dua jam lagi. "Kenapa, Bu?" tanya Riana sembari memandangi sang ibu. Wanita itu tak menampakkan kecurigaan, meskipun melihat senyum mengembang cukup lebar ibunya. "Siapa nama pacar kamu, Nak?" Kerutan-kerutan kemudian tercipta di bagian dahi Riana ketika mendengar pertanyaan sederhana yang sang ibu luncurkan. "Namanya Dion, Bu. Dion Ananta," jawab wanita itu tak berapa lama. "Ah, iya Dion. Orangnya bagaimana Dion itu, Nak? Ibu penasaran dengan calon menantu Ibu." Kedua mata Riana menjadi sedikit melebar karena apa yang ditanyakan ibunya. Dan di dalam kepala, wanita itu pun berupaya cepat-cepat untuk merangkai kata yang tepat dan akan digunakan sebagai jawaban. "Sifatnya Dion ya, Bu?" Riana lalu hanya mendapat anggukan kepala dari sang ibu. Namun, wanita itu tahu bahwa ibunya menunjukkan keantusiasan. "Menurut Riana, Dion pria yang baik, bertanggung jawab, dan pekerja keras." Bukan sengaja memuji atau berniat lebih banyak memerlihatkan sifat Dion yang unggul agar sang ibu kian terkesan, Riana mengatakan penilaian pribadinya dengan jujur mengenai pemuda itu. Terlepas dari hubungan mereka yang belum membaik, yakni terkhusus lagi tentang kebenciannya atas apa yang sudah dilakukan Dion. "Pantas saja putri Ibu ini bisa mudah kepincut dan jatuh cinta," komentar Ibu Ida. Aktivitas beliau yang sedang mengiris bahan-bahan serta bumbu untuk masakan pun terhenti sejenak. "Iya, Bu." Riana membalas singkat. "Dion suka makanan apa, Nak? Ibu akan buatkan," tanya Ibu Ida kembali. Riana diam hingga satu menit, tidak dapat langsung menjawab. Karena, ia sendiri tak mengetahui sama sekali makanan yang menjadi favorit Dion. Hal tersebut tak diperhatikan Riana. Dan kini cukup memberikan dampak akan skenario yang telah disusunnya dengan baik. Tidak memungkinkan juga baginya menghubungi Dion sekarang guna menanyakan apa yang disukai pemuda itu. "Nak, kenapa bengong?" "Sayur kangkung dan undang goreng tepung, Bu," jawab Riana buru-buru. Asal membalas. "Gampang itu," tanggap Ibu Ida dalam nada bicara yang santai dan ringan. Beliau masih terlihat begitu antusias serta senang. "Nak, kemarin sore saat kamu bilang ke Ibu dan Ayah akan memperkenal pacar kamu pada kami. Ibu lihat Ayah sudah tidak sabar." "Ibu rasa Ayah kamu akan menerima Dion dibanding Pradana dulu," lanjut Ibu Ida. Tubuh Riana seketika menegang dan kaku. "Kenapa Ibu harus menyebut nama Pradana?" Ada luka yang nyata terselip dalam suara pelan wanita itu. "Maaf, Nak. Ibu tidak ber—" "Tidak apa-apa, Bu. Riana juga sudah melupakan Pradana. Saat ini, Riana akan fokus bersama Dion," potong Riana cepat seraya mengulas senyum yang lebih lebar. Seakan-akan ingin menunjukkan jika dirinya bahagia menjalin hubungan sebagai kekasih dengan Dion. ............ Meski dapat berdiri dengan tegap dan kedua lutut, juga kaki dapat berfungsi secara baik untuk menopang tubuh serta menjaga keseimbangan. Jemari tangan pemuda itu bahkan masih bisa memencet bel di depan pintu utama kediaman orangtua Riana. Namun, Dion tidak mampu menghilangkan ketegangan yang melingkupi dirinya, terhitung sejak tiba di sana. Detak jantung Dion turut berdegup semakin kencang. Ia tak dapat tenang. Dan tidak hanya itu saja, Dion pun merasa bahwa kegugupannya timbul karena akan mengadakan pertemuan pertama bersama Ayah serta Ibu dari Riana guna melamar wanita itu. Dion sama sekali tak ragu, hanya tercipta ketakutan jika tidak akan diberi restu untuk menikahi Riana. Sunggingan senyum langsung Dion pamerkan tatkala daun pintu rumah terbuka lebar, menampakkan sosok wanita cantik yakni ibu dari calon buah hatinya. "Hai," ujar Dion sopan. Selepas menyapa, pemuda itu segera saja mengulurkan tangan kanannya yang tengah memegang sebuah buket bunga pada Riana. Ia sebenarnya tak sengaja membeli tadi di jalan. Dion tentu berharap jika Riana akan suka dengan pilihannya. Ya, paling tidak penolakan tak didapatkannya nanti. "Ini untukmu, semoga suka," ucap Dion serius ketika belum mendapat respon atau penerimaan dari Riana hampir lebih 10 detik berlalu. Wanita itu hanya memerlihatkan tatapan yang hingga kini masih sulit baginya untuk diterjemahkan. Tetapi, sorot dingin tak terlalu terpancar. "Tidak suka sama bunga ya?" tanya Dion kemudian. Rasa penasarannya tumbuh. Riana menggelengkan kepala sedetik setelah pertanyaan dari Dion dapat tertangkap baik oleh kedua indera pendengarannya. "Suka. Terima kasih ya," jawab wanita itu dengan suara yang sedikit ramah. Tidak sedingin biasanya. Dion mengangguk. Senyumnya kian mengembang. "Sama-sama," balas pemuda itu. "Aku juga bawa kue buat Bapak dan Ibumu, Riana," ujar Dion seraya kemudian menyerahkan kotak kue berukuran besar. "Terima kasih." Riana mengulang kata yang sama, dan lantas mengambilnya. Kali ini, senyum tipis dicetak wanita itu di wajah. "Ayo masuk, Dion. Ayah dan Ibuku sudah menunggu kamu." "Kak, ajak calon kakak iparku masuk! Jangan lama-lama berdiri berduaan di depan pintu!" "Aish, itu anak kenapa suka sekali kalau ngomong keras-keras." Riana menggerutu kesal karena mendengar teriakan adik bungsunya. Reaksi yang Dion malah berkebalikan, sedikit berbeda dengan calon istrinya. Tawa kecil dikeluarkan Dion akibat tak tahan melihat ekspresi Riana yang menurutnya lucu. Namun kemudian, pemuda itu menghentikan suara tawa secara cepag ketika diberi kode lewat mata untuk segera masuk ke dalam rumah. Dion pun mengangguk singkat lalu bergegas melangkahkan kakinya. ................... "Om Swastyastu, Bli." Adik laki-laki Riana menyapa sangat ramah disertai cengiran yang cukup lebar. "Selamat datang di rumah kami, calon Kakak ipar gue," ceplosnya secara sengaja. "Belajar ngomong yang sopan. Jangan asal bicara," celetuk Riana mencoba mengingatkan sang adik supaya tidak lupa menjaga kesopanan. Langkah kaki Dion langsung terhenti tak jauh dari sofa ruang tamu rumah orangtua Riana. Dan sebagai bentuk balasan pertamanya, pemuda itu lalu mengukir senyum bersahabat. "Om Swastyastu," ucap Dion sopan. "Nama kamu siapa, Dek?" Pemuda itu bertanya. Mengawali interaksi lebih lanjut. Tentu disamping memperoleh informasi. "Made Liantara Bhakti Dharma. Tapi, panggil aja gue Lian, Bli. Biar kagak panjang. Kalau Bli, namanya Dion pasti ya?" Anggukan cepat dilakukan Dion atas pertanyaan Lian. "Haha. Iya." "Udah dibilang ngomong nggak boleh asal. Dion lebih tua dari kamu, Lian. Bicara yang sopan." Peringatan untuk yang kedua kali diluncurkan Riana. "Ya maaf, Kak. Nggak maksud gitu sebenarnya," jawab Lian memohon maaf. "Kagak apa-apa, Lian. Santai aja," ujar Dion menengahi perdebatan kecil di antara calon istri dan adik iparnya. "Makasih, Bli. Suksma, " sahut Lian dan raut ekspresi cengengesan yang terpatri di wajah. "Mau nanya nih. Bli Dion sama Kak Riana udah lama pacaran ya? Tapi, kenapa Bli nggak lancong ke sini?" Dalam sekejap kedua mata Riana pun membulat tatkala dihadapkan dengan pertanyaan sang adik. "Jangan suka ikut campur masalah Kakak. Urus aja kuliah kamu biar nggak dapat lagi nilai C," ucap Riana tak pernah bosan mengingatkan adiknya. "Galak kali Kakak satu ini," komentar Lian berani. "Ayo duduk, Dion." Persila Riana lalu dan memilih menghiraukan ucapan dari sang adik. "Akan aku buatkan kamu minuman dulu di dapur. Mau minum apa kamu, Dion?" tawar Riana tidak berselang lama setelah calon suaminya duduk di sofa. "Kopi saja," sahut Dion cepat sembari tetap mempertahankan senyum yang terpatri, meski tak ada balasan dari Riana. Wanita itu melenggang pergi ke dapur ketika telah memperoleh jawaban. "Sabar, Bli. Kak Riana emang punya sifat cuek yang agak-agak." Dion hanya menganggukkan kepala serta melebarkan senyum. "Tenang, Lian. Udah kebal kok sama sifatnya yang satu itu." "Walau cuek. Tapi tetap aja sayang ya 'kan, Bli?" Lian menggoda. "Sayang banget malah." ................. Baru lima menit menunggu di ruang tamu sendirian, Dion semakin tidak bisa tenang. Duduknya pun tak dapat tenang. Padahal, ia belum bertemu orangtua Riana. Banyak pikiran yang masih senantiasa menghantui Dion dan membuatnya gugup serta merasa cemas. Ketakutan dalam dirinya yang sedari tadi hadir, tidak mampu cepat dienyahkan begitu saja walau Riana sudah memberi isyarat bahwa semua akan berjalan lancar sesuai rencana. Bukan hal mudah untuk Dion dalam menyembunyikan fakta sebenarnya, kesalahan fatal yang dilakukannya pada wanita itu. Namun, Riana malah melarangnya mengaku secara jujur. Ia tak ingin terlihat sebagai pengecut, tapi akan sulit juga jika dirinya tidak menuruti permintaan Riana. Dion akhirnya berpasrah serta memilih mengikuti alur skenario wanita itu agar masalah mereka tak perlu bertambah. "Biar aku bantu," ucap Dion sembari langsung bangun dari sofa, hendak menghampiri Riana yang berjalan ke arahnya. Namun lagi-lagi, pemuda itu harus mengurungkan niatan ketika memperoleh gelengan singkat Riana, sebuah tanda penolakan. "Aku bisa sendiri membawakannya untuk kamu." Jawaban tersebut telah berarti mutlak dan Dion sesegera mungkin kembali mendudukkan diri di sofa. Sementara, matanya tak terlepas dari sosok Riana yang semakin berjalan mendekat seraya membawa nampan berisikan gelas cangkir serta piring dengan kue kering, juga jajanan Bali. "Lian kemana?" "Tadi pamit pergi, katanya mau main basket di lapangan sama teman." Dion membalas pertanyaan yang diajukan oleh Riana. Senyum pemuda itu tak memudar saat kontak mata terjadi di antara mereka. "Minum dulu kopinya mumpung lagi hangat. Gulanya aku cuma kasih satu sendok. Aku tahu kamu tidak suka kopi yang manis." "Terima kasih," ujar Dion ramah dan langsung menerima cangkir yang diberikan Riana. Kemudian, pemuda itu menyeruputnya. "Ibu masih masak di dapur. Ayah juga belum selesai sembahyang. Tunggu seben—" Ucapan Riana pun terpotong karena menaruh curiga akan ekspresi yang ditunjukkan Dion. "Kenapa? Kopinya terlalu manis? Mau aku buatkan ulang?" Dion menggeleng. "Bukan kebanyakan gula, Riana. Rasanya malah asin. Apa kamu ganti dengan garam?" "Asin? Garam?" ulang Riana seolah tak percaya. Mata wanita itu tampak membulat. .............. ............. Meskipun restu telah mereka peroleh. Tetapi, baik Riana atau Dion sama-sama masih belum dapat memercayai reaksi yang diperlihatkan oleh Bapak Wisnu serta Ibu Ida. Dion tadi berkata sejujurnya dan juga meminta maaf karena kehamilan Riana yang terjadi sebelum mereka menikah. Tentu tak sampai membatalkan skenario yang sudah mereka sepakati bersama. Dan ajaib, tak ada kemarahan yang sedikit pun ditunjukkan Ayah Riana. Hal tersebut membuat Dion tidak bisa berpikir lebih lanjut. Tapi, pemuda itu tetap merasa bersyukur dengan penerimaan Ayah Riana. Beliau malah menyambut baik dari keinginan Dion mengajak orangtuanya datang untuk membahas membicarakan hari baik pernikahan mereka. Setelah perbincangan serius di ruang tamu selesai. Orangtua Riana lebih dulu mengajak Dion makan bersama sebelum meninggalkan rumah guna menghadiri suatu acara. Kehangatan dan keakraban begitu kental mengisi jamuan makan yang menghidangkan masakan-masakan spesial buatan Ibu dari Riana. "Tumis kangkung dan udang goreng kesukaan, Nak Dion?" tanya Ibu Ida antusias. Udang dan kangkung? Itu jenis makanan yang aku paling hindari karena alergi. Dion membatin. "Iya, Bi. Itu makanan-makanan yang saya suka," bohong Dion. Tidak enak jika menolak makanan yang sudah disiapkan. Menghargai lebih penting saat ini. "Silakan dicoba. Riana yang memasak tadi," beri tahu calon ibu mertuanya itu. "Terima kasih," kata Dion sopan. Lalu, melirik Riana sejenak. Namun, wanita itu asyik menyantap makanan, seperti tak berniat melakukan interaksi apa pun. Sementara, dengan ragu-ragu Dion menyendok nasi, kangkung tumis, dan udang di piring masuk ke dalam mulutnya. Kunyahan pelan dilakukan pemuda itu. Tentu juga berharap jika alerginya tidak akan kambuh untuk saat ini saja. Atau paling minimal dirinya "Sepertinya Ayah dan Ibu sekarang harus benar-benar pergi. Teman Ayah menelepon terus. Kalian nikmati makanannya ya, terutama Nak Dion. Tambah lagi kalau masih lapar." Pak Wisnu berucap santai dengan suara berat beliau. "Ibu tinggal dulu ya." Ibu Ida ikut berpamitan. Dion pun segera mengangguk serta tersenyum ramah ke arah calon ayah dan ibu mertuanya. Sedangkan, dengan langkah terburu-buru kedua orangtua Riana beranjak bangun dari kursi makan masing-masing, lantas beranjak pergi supaya tiba di tempat tujuan tak terlambat. "Hati-hati di jalan. Ayah naik mobil jangan ngebut," ujar Riana berpesan. Dan hanya dibalas dengan lambaian oleh ayah dan sang ibu. Kini tinggal mereka berdua yang tersisa di dalam rumah. Dion susah payah menelan makanan yang sudah dikunyah berulang kali untuk masuk ke kerongkongannya. Memang rasa makanan tersebut enak. Tapi, bahan utamanya tetap tak bisa bersahabat dengan tubuh Dion. "Kamu kenapa?" Riana pun langsung bertanya kala menyadari perubahan ekspresi wajah calon suaminya. Dion menggeleng kuat. Tidak dapat menjawab menggunakan kata. Rasa mual mendadak menghampiri dan membuatnya begitu ingin muntah detik ini juga. Alergi tampaknya cepat menyerang. "Di mana kamar mandi?" tanyanya. Rasa mual masih saja mendominasi. "Di sana." Riana memberi tahu letak kamar mandi dengan jari telunjuk tangan kanannya. Tak jauh dari ruang makan. Dan secepat kilat pula Dion berlari ke arah kamar mandi. Sepertinya, ia harus memuntahkan hampir seluruh makanan yang baru ditelannya. Dion tak akan bisa berkompromi dengan alerginya. Terhitung sejak lima tahun lalu. ................... "Kamu kenapa?" tanya Riana langsung saat Dion telah keluar dari kamar mandi. "Aku alergi kangkung dan udang. Kalau dimakan akan muntah," jawab pemuda itu. Walau rasa mual sudah tak sehebat tadi, namun kepeningan di kepala belum hilang. "Apa?!" Riana tampak kaget karena jawaban dari Dion. "Aku tidak tahu kamu alergi makanan-makanan tersebut." Riana merasa tak enak hati. Ia hampir mencelakai seseorang. "Tidak apa. Masakanmu enak. Aku suka," puji Dion secara tulus. "Apa kamu masih merasa mual dan muntah, Dion?" tanya Riana dalam nada yang cemas. "Sudah berkurang. Tapi, kepalaku sekarang terasa pusing," jawab Dion apa adanya. Namun, masih tetap bisa memamerkan senyum. Tanpa ada paksaan tentunya. "Tidurlah di kamarku. Kamu butuh istirahat." Riana menyarankan. Ia lalu menarik tangan Dion, tapi pemuda itu tak menunjukkan pergerakan. "Aku tidak menerima penolakan, Dion. Ikut aku ke kamar. Kamu harus istirahat dan tidur. Aku akan membuatkan bubur beras merah." "Baiklah, Riana. Makasih." Dion lantas memilih menurut saja. Tak baik juga rasanya menolakan niatan tulus dari wanita itu. Dan tidak dapat pula Dion mungkiri jika jantungnya berdegup lebih kencang kembali karena Riana yang menggenggam tangannya. Dion kian menyadari bahwa tumbuh perasaan lain di hatinya untuk wanita itu. Tak hanya sebatas pada tanggung jawab akibat perbuatannya belaka. .................. Riana baru selesai memasak bubur beras merah 20 menit kemudian. Ia pun segera menyusul Dion ke dalam kamar. Selain bubur, Riana turut membawa segelas teh hitam hangat di nampan. Wanita itu berharap jika kondisi Dion akan cepat pulih. Riana belum dapat menghilangkan rasa bersalahnya dan kesal sendiri. "Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Riana mendapati Dion yang hanya berbaring di atas tempat tidur, tetapi tidak memejamkan matanya. "Aku tidak bisa tidur," sahut Dion. Ia lantas bangun manakala Riana sudah mengambil posisi duduk di tepian ranjang dan menatapnya cemas. "Makanlah bubur ini dulu. Mungkin pusingmu dapat berkurang," ucap Riana seraya menyodorkan mangkuk berisi bubur dan teh hitam hangat. "Terima kasih. Maaf aku malah jadi merepotkan," ujar Dion sungkan. Ia kemudian menyuap satu sendok bubur ke dalam mulut. "Rasa bubur ini enak," komentarnya jujur. "Ingin tambah?" Riana menawarkan saat melihat pemuda yang akan jadi calon suaminya itu memakan dengan lahap bubur yang dibuat olehnya. "Tidak. Ini saja cukup," tolak Dion halus. Sebenarnya ia sudah kenyang. Tapi untuk menghargai Riana yang telah membuatkannya bubur. Jadi Dion menghabiskan bubur itu tanpa tersisa. "Aku minta maaf, Dion. Karenaku alergi kamu harus kambuh." Riana mengungkapkan penyesalannya. "Tidak apa kok. Tapi, lain kali jangan masak kangkung dan udang lagi ya." Riana menganggukkan kepala pelan sambil mengulas senyuman yang lebih lebar. "Apakah kepalamu masih pusing?" tanya wanita itu kemudian. "Lumayan," jawab Dion jujur. Tidak butuh waktu yang lama bagi Riana naik ke atas tempat tidurnya. Ia lantas mengambil sebuah bantal dan ditaruh di pangkuannya. "Aku akan memijat kepalamu, Dion." "Rebahkan kepala kamu di sini," pinta wanita itu sembari menepuk-nepuk bantal beberapa kali, memberikan isyarat pada calon suaminya. "Iya, baiklah," balas Dion lagi-lagi menurut. Dengan sedikit canggung, ia pun menaruhkan kepalanya di atas bantal yang empuk tersebut. Tanpa bisa dicegah, jantungnya terus saja berdetak tak normal. "Kamu sering melakukan ini?" tanya Dion penasaran. Kini, ia memejamkan mata karena pijatan-pijatan lembut tangam Riana yang lembut di bagian kepala. "Iya. Jika Ayah, Ibu atau Lian sakit kepala. Aku biasa memijat kepala mereka." Dion hanya mampu tersenyum penuh arti, tetap menutup mata secara rapat karena kenyamanan yang semakin menyusup ke dalam dirinya. Pemuda itu seolah ingin agar waktu berjalan dengan lambat, dan momen seperti ini bersama Riana tak perlu berakhir cepat. "Dion...," "Ada apa, Riana?" Kali ini Dion harus membuka matanya dan menatap tepat ke iris cokelat dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. "Terima kasih sudah menolongku malam itu. Meski, aku belum dapat menerima dan memaafkan perbuatan yang sudah kamu lakukan padaku, Dion," ujar Riana secara jujur. Ia telah mengetahui niatan baik Dion untuk membantu dirinya terlepas dari rencana jahat seorang klien. Riana ingin berterima kasih. Namun, wanita itu tak kunjung bisa memaafkan kesalahan fatal yang dilakukan oleh Dion.  .......................................................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN