Aku awalnya terkejut saat Tama mengatakan akan membawaku melihat rumah tempat kami tinggal dulu. Dan aku pikir kegiatan itu tidak akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini juga. "Maksud aku kita nggak usah terlalu terburu-buru buat ngelihat rumah yang kamu maksud itu," ucapku sedikit panik saat dia melajukan mobilnya menuju tempat yang akan menjadi awal penjelajahan kami. Aku gugup dan mengharapkan bisa menemukan hal yang baik dan bisa memicu ingatanku. Aku sangat berharap. Sebelumnya sesaat setelah aku menyetujui ajakannya, Tama langsung menghubungi seseorang lewat handphonenya. Dia membatalkan semua meeting perusahaan dan lebih memilih untuk membawaku pergi melihat tempat yang dia sebut rumah kami sebelumnya. Aku bisa mendengar protes dari seseorang di ujung telfon sana, tapi dia tidak

