Pagi itu, Tama sudah pergi sebelum matahari benar-benar naik. Rumah masih setengah tidur ketika ia menutup kancing terakhir kemejanya. Setrika sudah dingin, lipatan rapi. Jas tergantung di lengannya, beratnya terasa familiar. Ia meneguk kopi cepat, hampir tanpa rasa, hanya untuk memastikan matanya terbuka dan pikirannya bergerak. Ia berjalan pelan melewati lorong. Berhenti di depan pintu kamar anak-anak. Raka, Rama, dan Rajen masih tertidur. Wajah mereka tenang, pipi sedikit memerah, napas kecil teratur. Tama berdiri di ambang pintu lebih lama dari yang ia rencanakan. Matanya menyusuri tiga tubuh kecil itu, satu per satu, seolah ingin menghafal detail yang terlalu sering ia lewatkan. Ia menutup pintu perlahan. Bunyi klik kunci terasa terlalu keras di telinganya sendiri. Di luar, udar

