Seorang Teman

986 Kata

"Luna," suara bariton itu berhasil membangunkanku. Keringat membasahi pelipisku dan nafasku pun ikut terengah-engah. Aku melirik sekeliling dan sadar jika aku bermimpi. "Kamu kelihatan nggak nyaman waktu tidur," kata Tama. Dia membantuku bangun dan menyeka keringat yang membasahi dahi dan pelipisku dengan tangannya. Gerakannya lembut dan penuh perhatian, tapi saat aku meliriknya dia tidak melihatku sama sekali. Aku pun mengalihkan pandanganku ke jendela. Matahari sudah bersinar cukup terik. "Aku nunggu kamu tadi malam," kataku pelan. Soal Tama yang tidak pulang sudah menjadi masalah besar untukku. "Sampai tengah malam dan kamu nggak pulang-pulang." Dia langsung melihatku saat mendengar kalimatku. "Harusnya kamu nggak usah tunggu aku." Dia mengomel dan membuatku menatapnya tidak percay

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN