Aku terkesiap dan mulai mengamati ruangan di sekitarku. Aku masih di kamar tidur kami. Kejadian tadi benar-benar membuatku takut. Aku merasakan sesuatu yang hangat menjalari lenganku, Tama menatapku penuh rasa lega dan mengusap kepalaku pelan. "Aku bakal telepon Lisa sekarang," ujarnya. Dia sigap mengeluarkan handphonenya. Tama mengeratkan pegangannya pada jemariku. Dia berbicara cepat dan langsung memerintahkan Lisa untuk datang tanpa mau menunggu keputusan wanita itu. Setelahnya dia kembali memerintahkan sesuatu pada orang lain, suasan hari ini benar-benar kacau dan itu karena aku. Aku menatap ekspresi Tama. Dia terlihat seperti sosok yang aku temui di bawah tangga. Dia ingin bergerak menjauh tapi aku menahannya, dalam sekali gerak aku mencengkram kemeja Tama untuk mendekat padaku. "

