Episode 8

1218 Kata
Rima baru saja keluar dari sebuah Mesjid yang berada tak jauh dari komplek rumahnya. Di waktu senggang, Rima memang rutin menghadiri pengajian-pengajian untuk menambah ilmu agamanya dan memperluas wawasannya. Dan hari ini Ustadzah seakan menyindir Rima dan memberi masukan untuk Rima. 'Komunikasi' Itulah yang di bahas hari ini. Cara berkomunikasi yang baik dengan suami. Cara menjaga komunikasi supaya tidak sampai terjadi kesalahpahaman dan berujung suudzon dan fitnah. Semua beban yang ada di hati sebaiknya di ceritakan atau di bicarakan dengan suami secara baik-baik. Dan tanyakan berbagai pertanyaan yang mengusik pikiran supaya segalanya clear. Rima merasa sedikit lega dan tenang, akhirnya ia mendapat jawaban dari segala gundah di dalam hatinya. Ia tidak ingin sampai suudzon pada suaminya sendiri. "Assalamu'alaikum," ucap Rima saat masuk ke dalam rumahnya yang tampak sepi. Seorang pengurus rumah tangga di sana bergegas menghampirinya. "Wa'alaikumsalam." "Ada apa, Bik?" tanya Rima saat melihat asisten rumah tangganya tampak gelisah. "Tadi Tuan menghubungi ke rumah, katanya Nomor Nyonya tidak aktif," ucap pembantu itu. "Oh iya kebetulan handphone saya habis baterai, ada apa?" tanya Rima ikut merasa khawatir. "Tuan tadi bilang kalau Non Hulya di bawa ke rumah sakit, pihak sekolah menghubungi kalau Non Hulya pingsan di sekolah." "Astagfirulloh, di rumah sakit mana?" tanya Rima semakin gelisah, pantas saja hatinya tidak tenang sejak tadi. "Ini Nyonya." Asisten rumah tangga itu menyerahkan secarik kertas pada Rima, dan tanpa pikir panjang lagi Rima berlalu pergi. --- Rima sampai di sebuah rumah sakit, ia berlari menuju IGD dimana Hulya masih dalam penanganan Dokter. Sesampainya di sana, ia melihat Akbar bersama Kanaya. "Assalamu'alaikum," ucap Rima dengan tatapan bertanya-tanya kenapa Kanaya bisa ada di sini. "Wa'alaikumsalam, kamu ini bagaimana sih Rima!" Deg... Rima memandang Akbar dengan rasa sakit, pertama kalinya Akbar memanggil namanya bukan memanggilnya Umi lagi. "Kamu ini seorang Ibu, bagaimana bisa kamu mengabaikan Hulya?" "Sebenarnya kerjaan kamu apa saja di rumah? mengurus satu anak saja kamu tidak bisa! Lihat, kini Hulya sakit dan Dokter masih menanganinya sejak setengah jam yang lalu!" "A-abi?" Rima mendadak kelu untuk menjawab, hatinya terlanjur terluka dengan kata-kata yang di lontarkan suaminya itu. "Mas, tenangkan dirimu. Kita sedang berada di rumah sakit," ucap Kanaya berusaha melerai. "Ma-maafkan aku, Bi. Aku tadi sedang ke pengajian dan kebetulan handphoneku mati." Rima memberanikan menjawab dengan menundukkan kepalanya tak berani menatap manik mata suaminya. "Aku tidak pernah melarangmu untuk pergi ke pengajian, Rima. Tetapi kamu akan lebih mendapatkan pahala dengan fokus mengurus anakku dan aku. Setidaknya fokuskan pada putriku!" ucap Akbar penuh penekanan. Tak lama Dokter keluar dari ruang IGD membuat ketiganya beranjak mendekati Dokter tersebut. "Bagaimana Hulya?" tanya Akbar. "Kami akan melakukan tes darah padanya, kami belum bisa mendiagnosa. Setelah hasil lab keluar, kami akan segera memberitahu kalian. Prosesnya biasa memakan waktu satu jam." Setelah menjelaskan perihal itu, sang Dokter berlalu pergi meninggalkan mereka bersama beberapa perawat yang bertugas membawa sample darah Hulya. "Ya Allah, semoga bukan hal buruk yang terjadi pada Hulya," gumam Akbar mengusap wajahnya sendiri. "Insa Allah semuanya akan baik-baik saja," ucap Kanaya yang di angguki Akbar. Rima hanya menatap interaksi mereka berdua, sepertinya ucapan Kanaya begitu berpengaruh pada Akbar. Rima memalingkan wajahnya dan mengambil duduk di kursi tunggu dengan berbagai macam pikiran. Mungkin untuk sekarang, Rima harus fokus pada Hulya dulu. Kanaya duduk di samping Rima dan merangkul Rima. "Jangan di masukkan ke dalam hati ucapan mas Akbar yah, kau tau kan dia selalu begitu kalau sedang kalut," ucap Kanaya. Rima tidak menjawab dan hanya melirik Kanaya. Mendapat tatapan seperti itu dari Rima membuat Kanaya paham, semua pertanyaan yang tersirat di matanya. "Aku bekerja di kantor mas Akbar sebagai Admin. Dan tadi aku berpapasan dengan mas Akbar di kantor saat ia terlihat gelisah, ternyata Hulya masuk rumah sakit. Maka dari itu aku ikut kemari, aku ingin melihat keponakanku." Penjelasan Kanaya sedikit membuat hati Rima lega. "Kemarin aku melihat Mbak dengan mas Akbar ke rumah Budhe, apa kamu sudah berbaikan dengan Budhe?" tanya Rima. "Itu karena mas Akbar tidak mengijinkanku meninggalkan kontrakan, ia khawatir kalau mantan suamiku masih mengincar keselamatanku. Maka dari itu ia membawaku kembali pulang, dan alhamdulillah mereka menerimaku dengan tangan terbuka, walau awalnya ku pikir, aku akan di usir kembali," ucap Kanaya. "Budhe begitu menyayangi Mbak, dan ia begitu merindukan Mbak selama ini," ucap Rima. "Ya aku tau," jawab Kanaya. ~♥~ Hasil lab Hulya telah keluar dan Hulya di diagnosa positif terkena virus DBD (Demam Berdarah Dengue). Hulya harus di rawat di rumah sakit untuk beberapa waktu. Dan itu membuat Akbar merasa sangat kecewa pada Rima. Bisa-bisanya Rima teledor mengurus anak sampai Hulya harus di rawat di rumah sakit. Rima berjalan mendekati Akbar yang tengah duduk di kantin rumah sakit menikmati kopinya, kebetulan ada Kanaya yang menemani Hulya. "Abi," panggil Rima duduk di samping Akbar yang hanya menoleh ke arahnya. "Maafkan aku." "Rima, kamu lihat Hulya. Anak sekecil itu harus di rawat di rumah sakit dengan alat medis menancap di tubuhnya. Sebenarnya selama ini kamu fokus pada apa? Di rumah sudah aku siapkan asisten rumah tangga untuk membantu kamu. Lalu apa lagi? Kamu hanya harus fokus pada Hulya!" Rima tak mampu membendung lagi air matanya mendengar penuturan Akbar. "Maafkan aku, sungguh ampuni aku, Bi." Rima terisak di sisi Akbar yang masih berkeras hati. "Sudahlah sebaiknya kita kembali ke ruangan Hulya, takutnya dia mencari kita." Rima ikut beranjak mengikuti Akbar setelah menghapus air matanya. Sesampainya di ruangan Hulya, ternyata sudah ada Amierra bersama Neneknya Akbar atau Ibu dari Djavier. "Kamu ini bagaimana sih Rima! anak sakit kok di tinggal-tinggal. Untung ada Kanaya di sini yang mengurusi dan membantu Hulya untuk minum!" sewot Ibunya Djavier. "Tidak apa-apa Oma, tadi Rima dan mas Akbar sedang ada keperluan, jadi Kanaya menemani Hulya di sini," ucap Kanaya karena takut ada kesalahpahaman. "Tetap saja, kau ini seorang Ibu tetapi tidak becus mengurus anak! Mana sedang hamil juga, apa kau mampu mengurus dua anak nantinya? satu anak saja bisa sampai masuk rumah sakit begini!" Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang di rasakan Rima saat ini. Hatinya terluka karena di salahkan dari Nenek dan suaminya sendiri. Terkadang Rima berpikir, bukankah sakit itu hal biasa. Karena Allah lah yang menurunkan penyakit kepada hambanya, tetapi kenapa hal ini seperti sebuah kesalahan fatal untuk Rima. "Sudahlah Ma, ini di rumah sakit," ucap Amierra. Selama Rima di caci dan di marahi Neneknya, Akbar tidak berbicara sama sekali dan seakan membiarkan Rima terus di marahi Neneknya. Ia hanya berdiri di dekat blangkar Hulya yang terlelap dimana Kanaya juga duduk di sana. "Harusnya kamu contoh Kanaya! dia begitu telaten pada anak, walau dia belum memiliki anak." Final sudah kata-kata Neneknya Akbar bagaikan cambuk untuk meluluh lantahkan hati Rima. Dengan sekuat tenaga Rima menahan air matanya supaya tidak sampai jatuh. ~♥~ Rima dan Akbar bergantian menjaga Hulya di rumah sakit, terkadang Amierra dan Djavier juga Aisyah datang. Kanaya masih tetap datang dan menemani Hulya dan Rima. Siang itu Rima harus keluar untuk membeli obat Hulya yang stoknya telah habis di rumah sakit. Maka dari itu Rima harus mencarinya ke apotek di luar rumah sakit. Hulya hanya di temani Kanaya, tampaknya Hulya cepat akrab dengan Kanaya. Di saat Kanaya tengah membacakan cerita mengenai kisah seorang nabi kepada Hulya, Akbar masuk ke dalam ruangan. Gerakannya terhenti di ambang pintu menatap penampakan di depannya. Kanaya dan Hulya tampak akrab sekali. Tanpa mampu di tahan lagi, ada setitik rasa yang telah lama tersimpan kini mulai mekar kembali. ~♥~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN