Albi jadi sedih. Dia jadi teringat sosok ayahnya. Dia iri dengan anak kecil itu. Andai, anak kecil itu adalah dirinya. Pasti sangat menyenangkan, bisa bermain bersama seorang ayah. Masalah perasaan, memang tidak bisa dibohongi. Di depan Lia, Albi bisa tampak ceria, bahagia, dan seperti tanpa beban. Padahal, sebenarnya dia sangat rapuh dan terpukul. Dia hanyalah seorang remaja yang sangat rindu akan sosok papanya. Rindu kasih sayang yang tak pernah hilang ditelan masa. Dua tahun tanpa sosok papa, membuatnya sangat terpukul. Sebagian dari jati dirinya, seakan hilang bersama kepergian papanya untuk selama-lamanya. Dan itu, tidak akan pernah kembali lagi. "Pa, andai papa masih hidup," ucap Albi sambil memandangi langit. "Al tidak akan seperti sekarang." "Al kesepian, tanpa papa." "Kenap

