GalauPOV Taka Ingatan itu hadir lagi. Aku benar-benar tak ingin menyimpannya di memoriku. Ingin kubuang jauh, agar tidak membuat bulu tangan ini meremang. Sungguh sangat tidak sopan, jika aku terus saja mengingat ketidaksengajaan yang sudah terjadi antara aku dan Non Anes. Tidak mudah memang karena itu pengalaman pertama bagiku. Normal bagi lelaki sepertiku, tetapi menjadi tidak normal, jika aku terus mengingatnya. Bahkan di mimpiku semalam, aku memegang dadanya. Ya ampun, mimpi mengesalkan! “Kenapa, Ka? Kamu gak ke hotel? Bukannya kata Anes, kamu boleh bekerja lagi di sana?” tegur Teh Arum saat melihatku uring-uringan tidak jelas di kursi plastik, depan jendela kontrakan. “Mm ... i-itu, Teh. Disuruh minggu depan saja ke sana,” jawabku asal. Tidak mungkin aku menceritakan hal yang sebe

