Bukan Mauku, tapi Mau AnakmuArum memperhatikan Taka dan Anes yang duduk di depannya dengan saling membuang pandangan. Keduanya bungkam dan tidak berani meneruskan ucapan mereka. Arum yang sudah mulai bisa menyeret kakinya untuk berjalan, seketika penasaran saat mendengar ada kegaduhan di teras antara Taka dan juga Anes. Walau suara keduanya tertahan hingga tidak ada tetangga yang menyadarinya. Namun, wanita itu dapat mendengar dengan baik. “Jadi, ada masalah apa antara kalian berdua? Siapa yang hamil?” tanya Arum dengan sorot mata tajam memperhatikan keduanya bergantian. Taka dan Anes masih diam seribu bahasa. Masih saling membuang pandangan. “Gak mungkin Taka yang hamil, ’kan? Saya lihat soalnya waktu Taka sunat. Lucu, deh, bentuknya.” Kekonyolan yang diucapkan Arum, sontak membuat Anes

