Merusak HoneymoonKusambar tas selempang yang berisi dompet dan dua ponsel. Dengan berlari, aku menuruni anak tangga, bukan hanya satu anak tangga, melainkan dua sekaligus. Brugh! Aku jatuh tersungkur sesaat. Namun, itu tak menyurutkan semangatku untuk menyusul Julian yang mobilnya belum keluar dari pekarangan rumah. Aku bangkit kembali, lalu berlari dengan kencang menuju mobil yang sudah siap dikendarai oleh Mang Ismun. “Mau apa kamu, Anes?” tanya Bu Erlita—mama mertuaku, sekaligus mama mertua Kak Mira. Semua mata memandang aneh dan tak suka padaku. Apa aku peduli? Tentu tidak. Tanpa menjawab pertanyaan mertua, sekaligus tatapan heran Julian, aku masuk ke dalam mobil yang akan membawa pasangan mesra ini untuk berbulan madu. “Keluar! Mau apa kamu?” Dengan kasarnya, Julian menarik tangan

