Tifa POV. Aku hanya bisa elus d*da sambil geleng-geleng kepala. Si Topan sepertinya lupa umur. Astaga, bisa-bisanya dia bercanda segitunya dengan emak. Dan bisa-bisanya juga emak meladeni si Topan. “Gigit saja anak nakal itu, Topan ganteng. Mamih tidak keberatan." “Nanti Topan coba sekali dulu, Mih. Kalau berhasil, Topan lanjutin lagi.” “Sinting,” ujarku sebelum berdecak. “Keluar dulu, Mih,” pamitku sambil mulai kuayun kedua kakiku. Bisa kaku hati kalau terus berada di tengah emak dan si Topan. Dua-duanya sama. Agak-agak. Mau bilang emakku agak sinting, takut dosa. Kudengar suara Topan berpamitan. Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki terdengar di belakangku. “Kamu mau coba nyetir, Beb?” Aku mencebik mendengar panggilan si Topan. “Belum pernah nyetir mobil seperti ini, kan?”

