Arda POV Akhirnya aku bisa kembali ke Jakarta. Enam hari yang terasa begitu lama itu akhirnya selesai juga. Kuhembus napas lega. Baru saja Sisil turun dari dalam taksi. Aku sengaja tidak meminta sopir datang menjemput ke bandara. “Jalan, Pak,” pintaku pada pria yang duduk di belakang kemudi. Malas duduk bersebelahan dengan Sisil, aku memilih duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja. Aku tertawa dalam hati, mengingat lagu masa kecilku. Taksi mulai bergerak. Aku sudah memberitahu pak sopir alamat tujuan ke dua setelah rumah Sisil. Kutarik punggung ke belakang, lalu kupejamkan mata. Selama 5 malam, aku tidak bisa benar-benar tidur. Bagaimana caraku bisa tidur nyenyak sedangkan aku tidur di sofa sempit. Tak sudi tidur satu ranjang dengan Sisil. Dari awal aku tidak menyukainya, sek

