Namun, Bagus tetap pada pendiriannya. Ia lebih memilih Meisya. Di tempat terbuka itu, ia berjanji akan menikahi Meisya dan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat.
Akhirnya, malam itu tepatnya saat hari baru saja gelap, mobil masuk ke halaman rumah orang tuanya. Dengan hati mantap, tangan bergandengan, Bagus dan Meisya masuk ke dalam. Bagus sudah yakin, kedua orang tuanya pasti akan mengizinkan ia menikahi wanita itu.
Saat itu keadaan rumah Tama tampak sepi. Bagus menatap sekeliling yang tak terdapat seorang pun di sana.
"Mungkin mama lagi di kamar. Kalau papa sepertinya masih di rumah sakit. Duduk aja dulu, Mei!"
"Iya, Mas." Meisya langsung duduk di sana dengan sangat hati-hati.
Akhir-akhir ini, ia sangat lemas karena efek mual. Namun, karena banyaknya masalah, ia lebih sering emosional.
Bagus berjalan menuju kamar mamanya, saat diketuk, tak ada sahutan. Bagus segera membukanya. Ternyata memang tak ada orang di kamar itu. Rumah sepertinya memang tak ada orang.
Bagus pun kembali lagi ke ruang tengah bersama Meisya. Lelaki itu duduk dan menatap kekasihnya. "Kamu mau minum apa? Aku akan ambilkan."
"Apa aja, Mas. Air putih juga enggak apa-apa," balas Meisya. Ia merasa tak nyaman di rumah itu.
"Oke, aku ambilkan dulu. Kamu tunggu di sini aja!" Bagus tersenyum bahagia karena berhasil meyakinkan gadis itu untuk diajak ke rumah.
Selama ditinggal Bagus, Meisya membuka tasnya lalu melihat pesan dalam ponsel. Hatinya tak tenang, degup jantungnya pun tak bisa diatur. Dengan cepat, Meisya membalas pesan dari Ardi itu.
Setelah terkirim, ia memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas. Lalu bersikap tenang setelah melihat Bagus di dapur menuang air putih. Detlk berikutnya, suara mobil masuk ke dalam halaman. Meisya menduga yang datang itu pasti orang tua Bagus.
Tangan dan kakinya mendadak dingin. Apalagi Bagus tak kunjung muncul. Benar saja saat gadis itu celingak-celinguk ke samping berharap Bagus datang, dari arah pintu masuk muncul dua orang tua Bagus yang tengah bicara satu sama lain.
"Besok kita harus ke rumah mereka, Mas."
"Oke. Besok aku tidak ada jadwal."
Di tengah pembicaraan santai itu, kedua orang tua Bagus tak sengaja menatap kembali ke depan. Lalu mereka sama-sama melihat Meisya yang gugup lalu berdiri menunduk, memberikan sapaan.
"Malam, Om, Tante."
Dua orang sepuh itu saling bertatapan. Mereka diam lalu berjalan ke depan dan berakhir di ruang tamu. Tatapan dan wajah mereka tak dapat membohongi keterkejutan.
"Kamu sama siapa?" tanya Tama dengan nada dingin.
"Maaf, Om. Saya ke sini atas permintaan ...."
Belum sempat dijawab oleh Meisya, Bagus menyerobot. "Aku yang mengajaknya ke sini, Mah, Pah." Lelaki itu mendekat dengan segelas air putih. Lalu meminta mereka semua untuk duduk.
"Mama enggak suka sekali kalau kamu jadi berubah kurang sopan begini, Gus. Ada apa sebenarnya?" ungkap wanita tua itu.
Bagus menghela napas panjang. Ia siap untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Meisya. "Mah, Pah, Bagus minta maaf. Bagus memang kurang ajar. Kalian boleh menghukum Bagus. Bagus juga sudah siap kalau ... Mama dan Papa menarik semua warisan yang sudah Bagus dapatkan. Termasuk posisi utama di perusahaan."
"Mama enggak suka ucapan berbelit-belit, Gus! Katakan apa yang sudah terjadi? Jangan buat kami menunggu lama!" Lagi-lagi, wanita tua itu mengutarakan kekesalannya.
"Maaf, Ma. Bagus minta ijin untuk menikahi Meisya secepatnya."
Setelah ucapan itu lolos keluar dari lisan manis putra mereka, dua orang sepuh itu langsung terkejut bukan main. Nafisah, sang mama langsung memegangi dadanya yang nyeri. Lalu Tama membantu istrinya berdiri dan meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun sebagai jawaban.
Di kamar, dua orang tua itu terlihat begitu sedih. Tak lama, Bagus mengejar dan berusaha menjelaskan. Bagus bersimpuh di kaki mamanya yang duduk di tepi ranjang.
"Mah, maafkan Bagus. Bagus sudah menjadi anak durhaka. Bagus tak sengaja membuat Meisya hamil, Mah, Pah."
"Apa?"
"Astaghfirullah!"
Orang tua Bagus semakin terkejut lagi. Tangis pecah di wajah Nafisah. "Mama tidak mau lagi melihat wajahmu, Gus! Sejak kapan kami mendidikmu menjadi begini? Ya Allah, Engkau telah menimpakan musibah apa lagi ini, ya Allah." Tangisan semakin menggema seisi ruang kamar.
"Mah, Bagus minta maaf." Lelaki tampan itu pun tak dapat menyembunyikan penyesalannya.
"Bagus, kamu sudah menghancurkan dia masa depan dua gadis sekaligus!" bentak Tama dengan wajah merah.
"Maafkan Bagus, Pah."
"Kamu sudah menghacurkan perasaan menantu kami. Lantas, kau ingin memberikan kami menantu lagi? Jangan harap kami akan merestuimu. Silakan nikahi gadis di ruang tengah itu, tapi lepaskan Rumaisa."
"Pah, sejak awal memang Bagus enggak suka sama gadis itu."
"Ceraikan Rumaisa, Gus!" ucap Ammar yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu kamar. "Biar aku yang menikahinya nanti. Lagian, gadis sebaik Rumaisa itu limited edition. Kau enggak akan dapat seperti dia lagi."
Bagus hanya diam sambil menatap kemarahannya. Ia tak mau menjawab perkataan kakaknya itu karena mereka memang terlibat perseteruan.
"Bagus tetap akan meminta izin dan ridho Mama, Papa."
"Kalian keluar sekarang!" Tama menarik napas dalam-dalam. Lalu meminta istrinya istirahat. Tama meminta dua putranya keluar dari kamar lalu mereka semua berjalan menuju ke ruang tengah. Di mana Meisya masih juga menunggu di sana.
Setelah mereka semua duduk, pria itu itu berkata, "Aku hendak bertanya satu hal padamu, Nak. Apa benar Bagus telah menghamilimu?"
Meisya tampak gemetaran. Ia bimbang dalam menjawab pertanyaan tersebut. Haruskan ia mengatakan yang sebenarnya atau memilih selamat.
"Ii--iya, Om." Gadis itu menunduk.
"Kalau begitu, terserah kalian mau menikah dalam waktu dekat atau menunggu bayi itu lahir. Asal kamu tau saja, ada gadis lain yang hatinya tak kalah hancur mendengar kabar ini. Dia adalah istri sah Bagus, Nak. Saya harap kamu juga tau."
Tama lantas berdiri dan pergi setelah memberikan jawaban. Begitu juga dengan Ammar langsung meninggalkan adiknya itu dengan Meisya berdua. Setelah dirasa semua urusan malam itu selesai, Bagus lantas mengantar Meisya pulang.
Pria itu berjanji di depan pintu gerbang rumah Meisya kalau besok ia akan menikahinya. Semua persiapan akan diurus oleh orangnya. Meisya hanya mengangguk dengan perasaan setengah sedih. Wajahnya sendu, penuh dengan bekas air mata.
Malam itu, Bagus pulang ke rumahnya sendiri. Ia baru saja membuka pintu, rumah itu pun tampak sepi. Tak terdengar suara apa pun, karena memang hari sudah sangat larut. Jas hitam tergeletak di atas sofa, Bagus naik ke lantai atas.
Pria berpenampilan kacau itu membuka pintu, di sana terlihat rapi sekali. Aromanya wangi dan nyaman untuk langsung tidur. Sesaat ia teringat Rumaisa yang biasanya terdengar cerewet saat ia pulang larut, tetapi sekarang kamar itu tampak tak berpenghuni.
Bagus mencoba mencari Rumaisa di kamar mandi, ternyata kosong. Setiap sudut ruang tidur itu tak berbekas jejak Rumaisa. Kali ini langkah Bagus semakin cepat. Ia melongok ke lantai bawah pun tampak sepi. Di dapur juga tak ada suara gadis itu. Bagus kembali ke kamar dan ia membuka lemari baju Rumaisa. Kosong. Nihil. Hanya ada bekas bag paper berlogo mewah yang sempat Ammar bawa untuk gadis itu tempo lalu. Isinya pun masih utuh, satu set pakaian muslimah dan juga ponsel bersegel.
"Kamu pergi?" gumam Bagus sendiri. "Terserah! Lagian kau bukan siapa-siapa. Kamu ada maupun tak ada, aku tidak kehilangan apa pun."
Namun, dalam hati sebenarnya ia merasa bersalah. Bukan salah Rumaisa ketika pernikahan mereka terjadi saat itu.
Pagi itu, Bagus sudah terlihat rapi. Pakaiannya sudah ganti dengan jas hitam lengkap dengan dasinya. Ia turun dari lantai atas lalu keluar rumah setelah menguncinya. Mobil sudah siap mengantar itu ia masuki, lalu melesat ke jalanan yang masih sedikit sepi.
Sampai di rumah Meisya, di sana sudah tampak berdatangan rekan kerja dan teman-temannya beberapa orang saja karena Meisya sejak dahulu sudah tinggal sendiri dan tak punya siapa-siapa.
"Gus, di dalam sudah ada penghulu," ujar Ardi yang baru saja keluar dari rumah itu karena mendengar kabar kalau Bagus sudah datang.
"Oke." Bagus pun masuk bersama dengan Ardi.
Setelah bersalaman dengan penghulu, Bagus segera duduk di lantai dengan alas karpet. Ia menatap sekeliling rumah itu, Meisya tak juga keluar setelah 20 menit menunggu.
"Di, mana Meisya?" tanya Bagus pada Ardi yang duduk di sebelahnya.
"Paling masih di kamar. Kamu tunggu aja sebentar lagi. Dia pasti akan datang," balas Ardi, lalu kembali berbicara dengan seseorang di sebelahnya.
Namun, mendadak perasaan Bagus tak enak. Ia gundah dan sesaat teringat peristiwa akad nikah bersama Rumaisa waktu itu.