Begitu pintu lift eksekutif tertutup, keheningan di dalamnya terasa begitu mencekik. Cecilia bisa melihat pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Bahunya bergetar dan riasan di sekitar matanya mulai luntur terkena tetesan air mata yang tak sanggup lagi dia bendung. "Maaf atas kekacauan tadi. Saya akan segera mengajukan surat pengunduran diri jika itu yang Bapak inginkan," bisik Cecilia lirih, memecah keheningan dengan suara serak. Darren tidak menjawab. Pria itu tetap menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Begitu lift sampai di lantai tujuannya, Darren menarik lengan Cecilia, menuntunnya masuk ke dalam ruang kerja pribadinya dan mengunci pintu dari dalam. Darren berbalik, matanya yang tajam mengunci tatapan Cecilia yang basah oleh air mata. "Pengunduran diri? Kamu

