7. Tuntutan Dari Keluarga

1172 Kata
"Maka jangan salahkan aku jika harus bertindak tegas," ucap Darren yang berusaha menahan emosi. Morgan mengangkat satu alis, senyum santainya perlahan berubah menjadi senyum menantang. "Menarik. Siapa sangka Darren yang dulu cengeng, sekarang pemberani." "Semua orang berubah, termasuk aku," ucap Darren dengan tatapan tajam. Cecilia refleks menarik napas dalam, lalu melangkah ke belakang Darren dan menepuk pelan pundak pria itu. Dia melakukannya agar emosi pria itu tidak semakin terpancing. Emosi yang mungkin memicu pertengkaran di antara sepasang sepupu itu. "Pak Darren. Jangan diteruskan lagi, saya sudah biasa menghadapi tingkah Pak Morgan," bisik Cecilia. "Cecil! Kenapa kamu masih merasa biasa saja, padahal dia baru saja melecehkanmu," sahut Darren dengan raut wajah murka. "Saya benar-benar tidak apa-apa, Pak. Jadi saya minta Pak Darren jangan memperpanjang masalah ini," ucap Cecilia dengan lidah kelu, sebab apa yang dia ucapkan berbanding terbalik dengan yang ada di dalam pikirannya. Kalau ingin mengikuti kata hati, Cecilia pasti sudah menghajar Morgan agar pria itu tidak meremehkan dirinya. Tapi pada kenyataannya, dia hanya karyawan biasa yang masih membutuhkan pekerjaan. Menghajar Morgan sama saja mendorong Cecilia untuk kehilangan pekerjaan lebih cepat. Sementara Morgan yang menjadi topik pembicaraan, menaikkan sebelah alisnya dan menatap Darren dengan senyum kemenangan. "Kamu dengar sendiri 'kan apa yang Cecilia bilang? Dia aja nggak keberatan." "Cecilia memang nggak keberatan tapi aku yang keberatan. Sekarang cepat pergi dari sini sebelum kesabaranku habis," ucap Darren dengan nada penuh ultimatum. Morgan tertawa pendek, lalu melirik Darren sekilas sebelum kembali menatap Cecilia dengan tatapan penuh hasrat. "Baiklah. Aku pergi sekarang. Cecil, aku masih berharap kamu mau menerima tawaran kencan dariku," ucap Morgan sebelum meninggalkan ruangan Darren. Keheningan pun tercipta selama beberapa detik sebelum Darren menggebrak meja. "Kenapa kamu terlihat pasrah saat Morgan berkata tak pantas seperti itu? Apa memang sebenarnya kamu menyukai Morgan tapi pura-pura jual mahal? Kalau benar seperti itu, kamu adalah wanita licik." Kemarahan Darren sudah berada di ubun-ubun, membuat pria itu tak menyadari apa yang dia ucapkan. "Apa hak Bapak menilai saya seperti itu?!" tanya Cecilia dengan nada tinggi. Wanita itu menatap Darren lurus-lurus. Matanya yang biasanya tenang kini bergetar, bukan karena takut, melainkan karena tersinggung. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan emosi yang sejak tadi dia tekan rapat-rapat. "Asal Bapak tahu, saya tidak pernah sekalipun menyukai Pak Morgan," ucap Cecilia tajam. Darren terdiam sesaat. Napasnya masih berat, dadanya naik turun. Namun gengsinya membuat dia belum juga menarik ucapannya. "Lalu kenapa kamu diam saja saat Morgan melecehkan kamu tadi? Jujur sajalah kalau kamu juga menikmati perlakuan dari Morgan," tanya Darren yang semakin menyindir Cecilia. Cecilia tertawa kecil, tawa yang terdengar sinis. "Sepertinya pembicaraan ini tidak akan menemui ujungnya kalau kita berdua masih dalam keadaan emosi. Jadi lebih baik kita lanjutkan pekerjaan ini di tempat yang berbeda ...." "Itu juga kalau Bapak masih bisa fokus," imbuh Cecilia yang kini membereskan barang-barangnya. Sementara Darren hanya memandang Cecilia dalam diam, meskipun jantungnya berpacu cepat dan dadanya mengembang kempis, memberi ruang bagi amarahnya yang semakin meluap. Cecilia langsung menuju pantry begitu keluar dari ruangan Morgan, dia membuat coklat dingin untuk meredakan emosinya. "Mbak Cecil tumben di pantry jam segini?" Pertanyaan itu membuat Cecilia menoleh dan melihat sekertaris direktur keuangan yang mengajaknya berbicara. "Aku sumpek ada di ruangan Pak Darren," jawab Cecilia singkat. "Kalau gitu Mbak Cecil mau nggak makan siang bareng sama staf sekretaris?" tawar sekertaris direktur keuangan itu. Cecilia terdiam sejenak dan teringat jika dia sudah lama tidak berinteraksi di luar jam kerja bersama rekan-rekan yang lain. Pekerjaannya semakin padat saat Giovanni memintanya untuk menjadi mentor sang putra. Dan Cecilia mulai membuat dan menyusun rencana pekerjaan Giovanni sejak 3 bulan yang lalu. Baru saja Cecilia akan mengiyakan tawaran itu, ponselnya bergetar. Raut wajahnya berubah saat melihat nama sang ibu tertera pada layar. Helaan napas panjang tanpa sadar keluar dari bibir yang dioles lipstik berwarna merah menyala itu. "Maaf. Mungkin lain kali saja aku ikut makan bareng kalian. Oh iya, aku permisi dulu mau angkat telepon," ucap Cecilia yang segera meninggalkan pantry. Cecilia memilih lantai teratas gedung kantor untuk menerima panggilan dari sang ibu. Karena dia tahu setiap percakapan dengan Rebecca selalu menimbulkan perdebatan. Bahkan tak jarang ucapan Rebecca membuat Cecilia mempertanyakan statusnya sebagai anak kandung dari orang tuanya. "Akhirnya kamu angkat juga. Ke mana sih kamu dari tadi," suara sang ibu yang marah menyapa indra pendengaran Cecilia. "Mah. Ini jam kerja, jadi wajar kalau aku nggak sempet angkat telepon," ucap Cecilia yang kini memejamkan mata. "Halah. Alasan saja kamu, bilang saja kamu nggak mau terima telepon Mama," sahut Rebecca. "Terus Mama telepon mau ngapain?" tanya Cecilia. "Mama mau minta uang, ngga banyak cuma 2 juta," jawab Rebecca dengan nada santai. "Mah! Buat apa uang itu? 5 hari lalu Mama minta 4 juta. Apa Mama kena jebakan pinjol?" Cecilia yang terkejut langsung melontarkan tuduhan. Sebuah tindakan yang segera disesali olehnya. "Kamu kok perhitungan banget sama Mama? Mama minta uang juga buat adik-adik kamu," balas Rebecca dengan nada marah. Ucapan itu membuat d**a Cecilia terasa sesak. Dia menutup mata lebih rapat, menahan rasa perih yang selalu muncul setiap kali pembicaraan berujung pada uang. "Mah, aku nggak pernah perhitungan," ucap Cecilia pelan, mencoba menurunkan nada suaranya. "Tapi Mama juga harus jujur sama aku untuk apa uang itu. Dan lagi aku nggak bisa kirim sekarang. Aku juga punya kebutuhan sendiri—" "Kebutuhan apa lagi?" potong Rebecca cepat. "Kamu 'kan kerja di perusahaan besar. Masa cuma segitu saja kamu keberatan?" potong Rebecca dengan amarah yang jelas terdengar. Cecilia tertawa miris. "Kerja di perusahaan besar bukan berarti kebutuhan hidup aku gratis, Mah. Aku harus bayar kos, makan, transport dan keperluan lain. Belum lagi aku masih nabung." "Halah, nabung buat apa? Kamu itu perempuan. Ujung-ujungnya juga bakal nikah dan ditanggung suami," sahut Rebecca tanpa ragu. Ucapan itu seperti pisau yang menusuk. Cecilia membuka mata, menatap langit siang yang cerah dari lantai teratas gedung. Ironis, langit tampak begitu tenang, sementara pikirannya kacau. "Mah," suara Cecilia bergetar, "aku kerja mati-matian bukan supaya bisa dianggap sebagai ATM berjalan." "Jadi kamu mau Mama gimana?" Rebecca meninggi. "Adik-adikmu masih sekolah. Papa kamu juga penghasilannya nggak menentu." Cecilia menghela napas panjang. "Aku tahu dan aku nggak pernah lepas tangan. Tapi Mama juga nggak bisa mendadak minta uang terus." Keheningan pun tercipta di seberang sana sampai suara Rebecca terdengar lebih dingin. "Jadi kamu nggak mau kasih?" Cecilia menggigit bibirnya. Inilah bagian yang paling dia benci, saat apa pun jawabannya, dia tetap jadi pihak yang salah. "Aku cuma bisa transfer satu juta, Mah. Bulan ini pengeluaran aku lagi banyak," ucap Cecilia akhirnya. "Apa?! Satu juta! Kamu pikir satu juta itu cukup. Makanya punya otak itu dipake!" suara Rebecca langsung meninggi. “Bukan begitu, Mah ...." "Sudahlah," potong Rebecca tajam. "Mama kecewa sama kamu. Padahal sejak kecil Mama selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu, tapi ini balasan kamu sama kami." Setelah mengatakan itu panggilan terputus begitu saja. Cecilia menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa berat, tenggorokannya tercekat. Dia menatap layar ponsel beberapa detik sebelum akhirnya mengunci layar dan menyandarkan punggung ke dinding. Berbagai pertanyaan pun berputar di dalam benaknya. Kenapa selalu begini akhirnya? Kenapa setiap kali dia berusaha berdiri untuk dirinya sendiri, malah dia justru dianggap durhaka?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN