“Mama, sakit!” pekik Ragarta saat Diandra memukul lengannya dengan gulungan kertas karton. “Tuh mulut siapa yang ngajarin? Minta Mama masukin lagi ke perut Mama, hah? Atau mau Mama ceburin ke laut selatan jadi tumbal pesugihan, biar Mama semakin kaya raya?” cerocos Diandra. Namun sebelum Ragarta menjawab Viana datang dengan membawa dua cangkir teh untuk Ragarta dan Diandra. “Datang juga kamu Vi! Ngapain kamu ke rumah sakit?” tanya Diandra. “Hanya periksa kesehatan, Ma!” jawabnya. “Oh begitu, ya sudah! Gar kamu minum teh mu lalu kita berangkat.” “Ke mana, Ma?” tanya Viana. “Orang seperti dirimu mana tahu tempat-tempat bagus, ikut saja gak usah protes!” ketus Ragarta. “Maaf, Tuan! Saya tidak bertanya pada Anda!” ucap Viana. “Kamu memang tidak punya hak untuk berbicara, kamu harus ing

