“Vi! Buka pintunya,” ucap Ragarta seraya mengetuk pintu kamar Viana. “Ada ap–“ Suara Viana terhenti saat tiba-tiba Ragarta memeluknya, tubuhnya terasa kaku saat Ragarta tiba-tiba memeluknya dan semakin mengeratkan pelukannya. Entah apa yang terjadi pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Viana hanya dia saja meskipun berkali-kali Ragarta mencoba mengusap punggungnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Viana. Helaan napas sesekali terdengar kasar dari Ragarta, terasa jika pria itu tengah melepaskan segala penatnya. “Kamu kenapa?” tanya Viana dan berusaha melepas pelukan suaminya tersebut. “Biarkan seperti ini sebentar, lagi pula tidak akan ada yang menggerebek kita!” ucap Ragarta semakin mengeratkan pelukannya. “Aku risih!” ucap Viana. Ragarta pun mengurai pelukannya dan menarik

