Bab_6_Masa lalu

980 Kata
Disebuah rumah yang besar berklasik tradisional, digundah dengan keheningan berbagai masalah akan keputusan yang diambil. Seseorang menghela nafas kasar atas permintaan orang yang disayangnya. " Baiklah lah jika itu keinginan nenek. tapi berikan Devan, Waktu untuk memikirkan nya kembali sebelum mengambil keputusan yang menyangkut masa depan ku." Yah, dia adalah Devan Pratama Lubis, pengusahaan kaya raya nomor 3 di Indonesia yang banyak memecah ekor berbagai cabang dimana-mana, sekaligus cucu dari nenek lta. " Sudah berapa kali Nenek, beri kamu kesempatan untuk memikirkannya, sudah satu tahun kamu mengelak berbagai alasan, kerja kah, ini kah, itu kah. Mulai sekarang nenek cabut dari harta wari…." " Baiklah Nek, Devan setuju." Potong Devan cepat, karena tidak ingin dicoret dari harta warisan. Apa lagi ia sudah bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan nya sampai besar dan sukses. " Tapi Nek, Devan ingin ketemu dengan pilihan Nenek, atau Devan pilih sendiri! " Tegas Devan tanpa mau digugat lagi. " Baiklah Devan, kalau itu yang kamu inginkan. Nenek berharap kamu suka dengan pilihan ku," senyumnya. " Akhirnya setuju juga, dari setahun memujuknya menikah dengan pilihanku," leganya didalam hati. "Tapi.. Bu, aku tidak setuju. Devan, menikah dengan anak panti yang gak jelas asal-usulnya, lagi pula Devan, sudah memiliki pacar dan hampir bertunangan," bantah Monika, Mamanya Devan. " Ibu, tidak terima bantahanmu. Lagi pula apa bagusnya pacar Devan, yang kerjaannya selalu berfoya-foya!" Tegas nek lta, tidak mau dibantah. "Tapi..Bu." " Sudah Ma, biarkan saja." " Tapi Pa, Mama gak mau Devan, meni…. " " Mama, gak usah pikirkan biar ini menjadi urusan Devan," sahut Devan, disela keberatan Monika. " Itu baru cucu Nenek, baiklah. Nanti nenek akan kirimkan data perempuan itu, sebaiknya kamu istirahat. Besok kalian saja yang pergi berkunjung ke panti, nenek ada pekerjaan yang harus diselesaikan." " Ogah," keberatan Monika. " Tidak ada bantahan." Sebenarnya Devan, sama sekali tidak menyukai perjodohan ini. Tapi harus gimana, dari pada dicoret dari warisan, karena ia mempunyai rencana sendiri dengan perjodohan ini. " Hallo Rel, coba kamu carikan tentang gadis keinginan nenek yang dijodohkan dengan ku, sedetail mungkin beserta fotonya!" Tegas nya langsung menutup hpnya. Hingga beberapa saat. Ting… Devan, melihat hp nya yang berisi sebuah pesan yang diinginkan. " Rupanya kamu," pikirnya mengingat sesuatu. " Kita ketemu lagi, dari sekian tahun ke tahun" 'Itulah resiko yang telah mencampuri urusan ku' senyum jahatnya didalam hati. Entah apa yang akan dilakukannya, seperti mempunyai dendam dimasa lalu. Membuatnya tidak sabaran untuk membalasnya. Apakah itu masalah besar maupun kecil Devan, akan tetap membalasnya. **** Beberapa tahun yang lalu. Seorang anak lelaki berumur 12 tahun, sedang menemani neneknya, disebuah panti. Dikampung halaman neneknya. Lebih tepatnya terpaksa menemani neneknya, di panti ini. Membuat nya risih disekitar itu. " Sungguh membuat aku jijik, apa salahku hingga sepatu mahalku terkena lempur yang mengerikan saat melihat nya, apa lagi anak dipanti ini membuatku risih akan tatapan nya". Gerutunya menjauh dari neneknya. " Anda disini saja tunggu, saya mau keliling sekitar sini dulu. Awas kalau bilang sama nenek, akan saya suruh pecat anda! " Ngancamnya pada supir pribadi neneknya. " A-mpun tuan, jangan pecat saya. Saya janji tidak akan bilang sama nenek." Takut nya. " Bagus." Ya dia adalah Devan, sedang berada di panti dikampung halaman neneknya. Devan terus berjalan, dengan mata yang tajam saat menatap lawannya . Membuat anak panti itu menciut karena ketakutan. Sehingga Devan, menjauh dari tempat itu ingin menuju ke dalam mobil. " Sungguh membosankan saja, sebaiknya aku tidur didalam mobil saja," ketusnya yang terus berjalan. Hingga tiba-tiba, kejadian insiden tanpa terduga. Bruk ! " Ma-afkan saya, karena tidak sengaja menumpahkan air, karena kakak yang menabraknya," ucap lelaki umur 7 tahun yang menabrak Devan. " Jadi Lo, nyalahin saya hah!" Marahnya tidak terima. " Dan satu lagi saya, bukan kakak lo." Tunjuknya, membuat lelaki itu tidak berani menatap cucu kesayangan nenek lta, yang sudah berjasa dipanti ini. Ya dia sempat melihat Devan, datang dengan nenek lta, untuk bertemu dengan lbunya. Sebelum itu, lbunya lelaki itu sudah memperingati jangan mencari masalah dengan keluarga nenek lta, apa lagi dengan cucu kesayangan nya. " Maa-f, sekali lagi saya minta maaf." Tapi bukan Devan, namanya yang bisa terima maaf seseorang. Sebelum membalasnya. Dan Devan, menakuti lelaki berumur 7 tahun yang tak lain adalah Aldi. Karena sudah membuat nya terusik. " Sebagai ganti maafnya kamu harus membersihkan sepatu ku sampai kinclong, gimana?" " Baiklah say-a mau." Belum sempat memegang sepatunya Devan, malah mendorong Aldi dengan kakinya. " Lakukan yang benar!" Bentaknya membuat nya senang. Sedangkan dari lain, seorang anak kecil sudah merah padam melihat Abangnya diperlakukan tak manusiawi, oleh anak cari masalah. Anak kecil itu berlari dan. " Berhentilah Bang, bangun. Abang tidak bersalah biar aku yang selesai kan, cepatlah pergi sebelum lbu ngomel karena airnya belum sampai."ucapnya membantu membangun Abangnya. Meski tidak yakin membiarkan adiknya berurusan dengan Devan, yang notabenya cucu kesayangan nek lta. Akhirnya Aldi, terpaksa meninggalkan adiknya dengan Devan. Walau Devan, tidak terima dengan kehadiran anak kecil itu yang sudah mengganggu kesenangan nya. " Beraninya ikut campur uru… " "Kenapa tidak berani, emang siapa Anda dan saya." Potongnya membuat muka Devan, merah. ' kan sama-sama makan nasi,' lanjut anak kecil itu dalam hati. " Beraninya kau.. !" Geram Devan, mendorong anak kecil berumur 5 tahun. " Awas kau, sudah berani mendorong ku. Dasar anak mama," ketus anak perempuan itu sambil bangun serta menepis sentuhan akibat didorong oleh Devan, dan… " Hiyak… rasain," balasnya anak kecil itu menendang burung Devan. Karena tidak tau harus tendang dimana, dengan badannya yang kecil. Mau tidak mau anak kecil itu menendangnya disana. "Aaaduhh…. Mama," rintihannya kesakitan. " Rasain emang enak, sebaik aku pergi saja." " Dan kalian awas kalau ngadu sama lbu, sebaiknya kalian pergi dan diam sebelum aku perlakuan seperti lelaki itu." Ancamnya pada mereka yang melihatnya langsung bubar seketika. ' Awas kamu, akan kubalas suatu saat nanti,' batinnya. Yah anak kecil berumur 5 tahun yang tak lain adalah Janna, yang sikapnya tanpa takut jikalau berhubungan dengan orang yang ia sayangi dan keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN