ENAM BELAS

1671 Kata
[If you want me in your life, put me there. And I shouldn't have to fight for a spot -Me_heart_broken (twitter)-]   Aku tidak tahu bagaimana lagi mengusir cowok keras kepala itu, kecuali dengan kalimat telakku tadi. buktinya ia terdiam membeku dan tidak mengikutiku lagi. Elang berjalan ke arah berlawanan denganku. Apa aku menyakitinya? Lalu apa peduliku? Bukankah ia juga sudah menghancurkan hatiku? Lantas kenapa aku merasa hatiku juga ikut sakit melihatnya seperti itu? Apalagi dia kan sudah menjelaskan dan minta maaf berkali-kali, Kirei—pikiranku yang lain makin membuatku goyah. Kepalaku menoleh ke belakang dan melihat punggung Elang menjauh. Tidak, aku tidak akan berlari lagi ke sana—karena itu berarti aku kembali ke lubang yang sama. *** Eva menghampiriku ketika bokongku baru saja menyentuh kursi di kantin, aku tidak mungkin masuk ke dalam kelas karena sudah sangat terlambat. Matanya menyorotku sinis dan ia menarik kursinya dengan kasar—duduk di depanku dengan wajah kerasnya. "Lo ngapain di gudang olah raga sama Elang?" Aku menghela napas sembari melengos darinya, "Apa aku harus laporan sama kamu?" sahutku, dan katakan saja aku memang sengaja membuatnya kesal. Tangannya menggebrak meja, "Sialan lo!" makinya. "Kelihatannya aja lugu, sok polos, tapi ditempel sama Elang lo tunduk juga!" tudingnya, "dia udah berhasil bikin lo enggak perawan lagi, kan? Lo suka kan ada di bawahnya? Atau lebih suka di atas, huh? Tapi percaya sama gue, di mana pun posisi lo, kalau lawan mainnya Elang, lo pasti akan minta ulang berkali-kali!" ujarnya dengan ekspresi bangga, sedangkan aku menatapnya dengan jijik. "Apa kamu sebangga ini menceritakan kemurahan diri kamu ke setiap orang? Apa yang tersisa di kamu kalau begitu?" semburku membuatnya bungkam sambil melongo dan melotot. Gemeletuk giginya terdengar, ia berusaha menahan emosinya. Kemudian tiba-tiba dia tertawa, "Gue itu bukannya murahan sayang, hanya saja enggak ada laki-laki yang sanggup menolak pesona gue dan enggak bisa menahan dirinya saat ngeliat gue. Ya Elang itulah salah satunya. Lo tahu sudah berapa kali gu—." "Cukup, Va! Aku sama sekali enggak peduli!" Aku beranjak dan meninggalkan Eva yang menggeram kesal. Dan aku masih merinding mengingat kata-kata Eva tadi. "...dia udah berhasil bikin lo enggak perawan lagi, kan? Lo suka kan ada di bawahnya? Atau lebih suka di atas, huh? Tapi percaya sama gue, di mana pun posisi lo, kalau lawan mainnya Elang, lo pasti akan minta ulang berkali-kali!" *** [Di mana?] Bunyi pesan yang dikirim Elang. Aku memang harus bersikap profesional dalam hal ini, tapi lagi-lagi aku meragukan diriku sendiri bila berdekatan dengannya. Aku menjawab pesannya. [ Di perpustakaan.] Ini akan terasa sangat berat—mengendalikan perasaanku. Mataku mengedar ruangan perpustakaan, tidak terlalu ramai. Jadi enggak masalah bertemu Elang di sini, batinku. Lima menit kemudian, Elang muncul dari balik pintu perpustakaan dan segera menuju mejaku, bukannya duduk di seberangku, dia malah menarik kursi di sebelahku lebih dekat dan duduk di sana. Aku sempat menahan napas melihat aksinya ini. Kemana Elang yang tadi terlihat sakit hati? "Sebaiknya kamu duduk di sana," kataku sambil menunjuk kursi di depanku dengan daguku. Elang menggeleng, "Enggak, aku mau di sini," katanya—ada yang aneh dengannya. Dan aku berdiri, "Oke kalau begitu aku yang pindah...." Aku mendengarnya berdecak kesal ketika aku mendaratkan bokongku di kursi yang ada di seberangnya. "Kamu mau belajar materi apa?" Matanya kelihatan berpikir, "Bagaimana kalau cara membuat wanita kepala batu menjadi lunak?" "Aku serius, Lang." "Aku dua rius, aku enggak ngerti sama kamu, Rei. Kamu suka aku dan sebaliknya, kenapa kita enggak bisa bareng?" lontarnya—yang aneh adalah ia bicara tanpa gue-lo lagi. Aku menghela napas panjang, dan terdiam sesaat, "Kamu sudah tahu jawabannya, Lang." "Enggak, aku enggak tahu." "Kalau kamu enggak mau bahas materi bimbingan, aku pergi," kataku tegas. Ia menghela napas sambil menatapku tajam, "Sebenarnya dalam hati kamu tahu, kalau perasaan aku ini real, tapi kamu menyangkal itu, kan Rei?" tebaknya. "Aku bukan hanya menyangkal, aku ingin menghapusnya," desisku sambil menatapnya skeptis. Dan dia bungkam. Aku merasa puas di saat aku bisa membuatnya terdiam tanpa kata-kata. Kuberikan lembaran soal pada Elang untuk dikerjakan, setelahnya aku memberikan pertanyaan lisan. Lima belas menit pertama sesi tanya jawab berjalan lancar, berikutnya Elang lebih banyak diam sambil menatapku dengan tatapan aneh. Sampai akhirnya aku memberi tugas untuk membaca lebih dulu materinya. Tapi lagi-lagi pandangannya bukan pada buku, melainkan kepadaku, "Aku minta kamu untuk baca bukunya, Lang." "Tapi aku lebih suka baca kamu...," katanya membuat pipiku merah padam. Untuk menutupi rasa maluku, maka aku menutup wajahku dengan buku. Ya Tuhan, bibirku tersenyum bahkan di saat aku benci setengah mati sama mahluk tampan di depanku ini. Aku tidak bisa membiarkan Elang mempermainkan perasaanku terus seperti ini. Wajahku yang merah masih tersembunyi di balik buku—aku tidak boleh jatuh dalam perangkapnya lagi. Aroma parfum Elang tercium menusuk hidungku, alisku berkerut ketika menyadari bahwa wajahnya berada sangat dekat denganku. Spontan buku yang kupegang menyentuh bahunya cukup keras. "Apa-apaan sih?" hardikku tidak bisa keras. Karena kami ada di perpustakaan. "Kamulah yang apa-apaan? Ngapain nutupin muka? Udah ketauan juga kalau kamu suka!" Sial. Aku mengusir Elang agar kembali lagi ke tempat duduknya, tapi dia tidak mau pergi. Aku hendak berdiri sebelum tangan Elang mencekal pergelangan tanganku dan menahanku agar tetap duduk. "Rei...." suaranya membuatku bergeming dan menatapnya. Namun aku segera menggeleng dan tidak mau terbuai suara merdunya. "Kamu sadar enggak sih apa yang sudah kamu lakuin ke aku?" tanyanya. "Aku enggak ngelakuin apa-apa...." "Kamu bikin aku enggak bisa berpaling—dari kamu. Wajah kamu itu selalu ada di sini, sini dan di sini," ujarnya sambil menunjuk matanya, kepalanya dan jantungnya. "Enggak usah ngegombal, Lang. Enggak mempan!" sahutku dan aku hendak berdiri lagi sembari melepaskan tangannya, tapi cekalan tangan Elang malah semakin kuat. "Kamu mau aku berlutut supaya kamu maafin aku, Rei?" katanya. "Aku pengin kita bisa kayak waktu itu, Rei...." Aku menghela napas, "Lang, kamu tahu itu enggak mungkin...." Dan aku melepas cekalan tangannya dengan perlahan. Bimbel ini benar-benar tidak akan berjalan lancar, karena Elang terus menerus mengungkapkan perasaannya yang palsu. Rasa sukanya padaku hanyalah karena ia belum berhasil membuatku berada di bawahnya, itu benar! Tapi begitu aku masuk dalam perangkapnya dan BOOM! Dia pasti akan berpaling ke mangsa lainnya. Elang akhirnya melepaskan tanganku dan membiarkanku berdiri, aku merapikan bukuku dan bergegas keluar meninggalkannya. Tentu saja ia tidak tinggal diam, Elang mengejarku dan menyamai langkahku. "Kirei tunggu!!" seru Elang. Seperti biasa ia mengejar dan menyamai langkahnya denganku sampai ke gerbang kampus. Aku berhenti dan menatapnya, "Apa kamu enggak malu kalau banyak orang melihat seorang Langit Segara mengejar-ngejar seorang Kirei, Lang?" tanyaku sarkastis. "Aku enggak peduli!" "Tapi aku peduli, dan aku mohon jauhin aku." "Enggak!" Aku mendengkus pelan, "Pergi sekarang, atau aku akan benar-benar enggak kenal kamu lagi, Lang." tukasku seraya melanjutkan langkahku menuju ke halte bis dan kali ini Elang membiarkanku. "AARRGH! f**k!!" makinya keras, "apa lihat-lihat?! PERGI SANA!!" semburnya pada setiap orang yang melihatnya. Suara makiannya samar-samar masih terdengar. Sepertinya ia akan selalu begitu, tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi kenapa ada dorongan dari dalam diriku untuk memutar balik langkahku dan menenangkannya? Mungkin memberinya pelukan atau apapun yang bisa membuatnya berhenti berteriak-teriak seperti itu di tempat umum. Dari halte kulihat motor Elang yang keluar dari kampus dengan sangat kencang. Kelihatan sekali kalau ia sedang dalam keadaan emosi. Ya Tuhan perasaan cemas langsung menyelimuti dadaku. Aku berusaha untuk tidak peduli padanya, tapi perasaan khawatir itu malah makin terasa. Aku malah gusar karena tidak bisa menghubungi ponselnya. *** Sial. Dan di sinilah aku sekarang, sedang melihatnya memukuli lawan mainnya secara membabi buta si atas arena tinju. Aku menatapnya cemas ketika seseorang menarik tubuh Elang dan mengamankan lawannya yang menjadi sasaran emosinya yang meledak-ledak itu. Pria setengah baya yang kukira adalah pelatihnya itu mengusir Elang dari arena karena ia sudah membahayakan partner latihannya. Aku baru tahu kalau Elang suka olah raga ini—dan Leo tadi yang memberitahuku tentang tempat ini. Ia turun dari arena dan aku berjalan menghampirinya, matanya yang merah berkilat menatapku syok, kelamaan tatapan itu melembut. "Rei?" Alisnya bersatu dengan ekspresi heran melihatku ada di depannya sekarang. Aku menelan ludah melihat wajahnya yang basah oleh keringat, bahuku meninggi sambil menghela napas, "Aku sendiri enggak tahu kenapa bisa ada di sini, yang pasti aku cemas melihat kamu pergi seperti tadi," kataku hampir menangis. Elang meraih tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku malah terisak sambil melingkarkan tanganku di pinggangnya. Ya Tuhan, aku sepertinya memang jatuh dalam perangkapbadboy ini. Hatiku lega ketika melihatnya baik-baik saja tadi, tidak terbayang apa yang terjadi padaku kalau saja Elang mengalami kecelakaan dengan motornya setelah bertengkar denganku. "Thanks God, Rei. Aku senang kamu ada di sini." Aku mendongak menatapnya matanya, mencoba membaca kesungguhan pada raut wajahnya, ibu jarinya menyapu sisa air mataku. "Kenapa kamu nangis?" Aku menggeleng sambil mengedikkan bahu, karena aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku menangis. Ia mendekapku lagi, tapi kali ini aku menolaknya, "Kamu basah...," dalihku dan ia terkekeh sambil melihat dirinya sendiri. "Kamu tunggu sini!" ujarnya sambil berlari cepat ke arah ruang ganti. Aku mencari tempat duduk dan menunggunya di sana. Elang kembali lima menit kemudian, dengan kaus bersih dan kering. Aroma parfum khasnya menyeruak ke dalam hidungku, darahku berdesir seiring dengan tangannya yang langsung meraih tanganku dan menggandengku keluar dari tempat itu. Ia belum melepaskan tangannya sampai kami tiba di parkiran motornya. "Terima kasih kamu mau kasih aku kesempatan sekali lagi, Rei" katanya sambil memindahkan tangannya pada daguku dan mengangkatnya, membuat mataku beradu pandang dengannya. Aku mengangguk ragu-ragu, "Terus terang aku takut, Lang, karena aku tahu aku bukanlah tipe kamu." "Aku mau berubah jadi lebih baik, untuk kamu, Rei...," janjinya. Lesungnya juga semakin dalam karena ia tersenyum geli, "Dan memangnya kamu tahu tipe aku gimana?" tanyanya sambil melepas daguku dan naik ke motornya. "Yaa...yang seperti Eva, Cheva atau gadis-gadis lain dengan 'big boobs' dan seksi...," kataku. Ia makin terkekeh geli, "Kamu salah, seperti kamulah tipe aku, d**a mungil yang menggemaskan...," katanya v****r membuatku memukul lengannya pelan. Ia memberikan tangannya untuk membantuku naik ke atas motornya. "Ditambah aku enggak mau jauh dari kamu!" Pipiku menghangat seketika—bersamaan dengan merambatnya kehangatan yang terjadi ketika aku memeluk punggungnya dengan erat—merapatkan diriku, seolah ingin melebur menjadi satu dengannya. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN