Almira terdiam, ia tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya. Ia mengira jika hal tersebut hanya terjadi di drama televisi yang pernah ia lihat di waktu senggang.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Almira lagi.
Hans menghela napas, kepalanya mendongak dengan isi kepala yang bercabang-cabang.
“Saya akan tetap pada prinsip saya sendiri. Terima atau tidak, saya akan tetap menikah dengan kekasih saya, pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup, dan saya hanya ingin menikah dengan orang yang saya cintai.”
Hans berkata mantap, ia menoleh ke arah Almira dan menatap gadis itu lurus-lurus. Tatapan keduanya sempat terkunci selama beberapa saat, sampai kemudian si gadis mengalihkan pandangannya lebih dulu.
Ia berdeham, merapikan anak rambut ke belakang telinga sebagai pengalihan rasa gugup. Suhu tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas.
“Lalu apa sekarang? Sepertinya keluargamu juga tidak menerimaku. Jika dilihat dari respon mereka, rencanamu bisa gagal.”
Hans mengangguk, ia merebahkan diri di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan mengawang.
“Saya tidak mungkin membuat rencana sedangkal itu, saya tidak butuh mereka, entah setuju atau tidak, saya tidak peduli. Lagipula, rencana yang sebenarnya belum dimulai,” sahut pria itu tersenyum tipis.
Alis Almira sedikit naik, raut wajahnya menjadi terheran melihat pria di hadapannya yang terlihat begitu tenang.
“Kalau kamu bisa bersikap begitu percaya diri, dan tidak peduli dengan persetujuan mereka, kenapa kamu tidak melakukan hal ini pada kekasihmu langsung? Kenapa harus mencari orang lain?” Tanya Almira heran.
Bukankah akan lebih praktis jika Hans bisa melibatkan sang kekasih secara langsung, lagipula jika didengar pria itu begitu percaya diri.
“Ada beberapa hal yang saya tidak ingin kekasih saya terlibat di dalamnya, lagipula Oma bukan orang sembarangan. Dia bisa saja menyewa orang untuk mencelakai kekasih saya jika saya benar-benar melakukan hal ini dengannya,” jelas Hans lagi.
Almira melongo, setelahnya ia menghela napas kasar.
Wah, apa-apaan ini. Jadi pria ini sadar jika berhadapan dengan sang Oma akan berbahaya, dan dia sengaja mencari orang lain demi menyelamatkan kekasihnya sendiri?
Waw, itu akan terdengar romantis bila saja bukan dirinya yang harus menjadi orang lain itu sendiri.
“Memang apa yang bisa Oma, mu lakukan?” tanya Almira kemudian.
Dalam benaknya hanya terpikir sebuah ancaman layaknya pada drama romantis soal cinta beda kasta. Itu bukan hal sulit, selama bukan….
“Oma bisa saja membuatnya kesulitan, bahkan setelah berpisah dengan saya sekalipun. Yang aku maksud sulit di sini bukan hanya kesulitan biasa, hal itu termasuk dengan membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan dimanapun. Intinya Oma akan membuat hidup orang itu menderita.”
Almira menelan ludah gugup. Ia tahu perkataan Hans tidaklah main-main. Pria itu serius dengan raut wajahnya yang berkerut di bagian dahi.
“Serius?”
Almira masih mencoba untuk menyangkal perasaan ketakutannya sendiri. Tidak mungkin, ‘kan ada orang yang benar-benar bisa berbuat demikian?
“Ya. Kau tahu seberpengaruh apa bisnis keluarga Saitama.”
Almira termenung begitu nama keluarga Saitama terucap dari bibir Hans.
Keluarga Saitama. Siapa yang tidak mengenal keluarga pemegang bisnis raksasa dari berbagai sektor itu benar-benar hampir menguasai 70% pasar negeri dengan beragam produk juga acara hiburan yang mereka suguhkan.
Dan saat ini, dirinya harus berurusan dengan salah satu petinggi Saitama grup? Astaga, tamat sudah riwayat Almira setelah ini.
***
Hari semakin siang saat Almira mengembuskan napas entah yang keberapa kali. Beberapa saat lalu Hans berpamitan padanya jika ia akan keluar sebentar dikarenakan urusan mendadak dan memintanya untuk menunggu.
Tapi sudah hampir dua jam.pria itu pergi, ia belum juga kembali. Dan Almira mulai merasa bosan akibat tidak bisa melakukan apapun di dalam kamar Hans.
Dirinya merasa seperti terjebak tanpa bisa melakukan apapun.
Tok tok tok!
Terdengar suara ketukan pintu. Alis Almira menukik, berpikir jika itu mungkin saja Hans yang baru saja kembali.
Kakinya mulai melangkah, berjalan ke arah pintu sebelum ia menghentikan langkah secara tiba-tiba.
Jika orang yang ada di balik pintu adalah Hans, ia tentu takkan repot-repot untuk mengetuk pintu, lagipula ini kamarnya.
Jadi, siapa yang baru saja mengetuk tadi?
Mendadak, keringat dingin membanjiri area sekitar dahi. Pelan, teramat pelan Almira coba memutar handle pintu, jantungnya berdebar jauh lebih cepat daripada biasanya.
Ia menelan ludah gugup. Tenggorokannya terasa kering seperti saat puasa. Matanya tidak berkedip sekalipun sampai terasa kering.
“Boleh saya masuk?”
Suara halus itu terdengar seperti angin lembut. Almira tersadar dan kemudian bergeser dari tengah pintu, senyum kamu di wajahnya benar-benar terlihat kontras dengan senyum anggun wanita berambut gelap yang baru saja berjalan melewatinya.
Almira hanya bisa berdiri kaku dengan dua tangan yang saling tertaut di depan tubuh. Sesekali gadis itu melirik ke arah pintu kamar, berharap Hans segera muncul dan meredakan suasana canggung ini.
“Jadi…. Kamu kekasih, Hans?”
“Hah? Eh, maaf. Maksud saya, iya,” Jawab Almira tergagap.
Wanita dengan riasan sederhana itu lagi-lagi tersenyum. Ia menatap Almira selama beberapa saat sebelum menghela napas dan kembali mengajukan pertanyaan.
“Sudah berapa lama?”
“Eh, anu… itu….”
Almira menggaruk kepala belakang. Jujur saja ia kebingungan, dirinya tidak mendapatkan instruksi apapun dari Hans mengenai skenario pura-pura mereka, otaknya juga mendadak sulit untuk diajak bekerja sama mengarang cerita, padahal dulu dirinya adalah salah satu siswa yang paling jago dalam hal mengarang.
“Tidak perlu gugup, saya tidak akan mengigit kamu,” kata wanita itu terkekeh lirih.
Meski sang wanita berusaha untuk melucu, namun yang bisa Almira beri hanyalah tawa yang terkesan kaku dan dipaksakan.
“Sudahlah. Yang ingin saya tanyakan adalah, apa kamu benar-benar kekasih, Hans? Jawab yang jujur, karena saya sudah tahu siapa kamu sebenarnya.”
Belum sempat Almira membuka mulut, pintu lebih dulu terbuka dengan kasar. Di sana Hans muncul dengan raut wajah datarnya.
Kakinya yang panjang melangkah lebar-lebar. Ia menatap sekilas ke arah wanita muda yang tengah duduk pada sisi ranjang dan segera menggandeng tangan Almira, membawa gadis itu pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.
Hans terus menulikan telinga. Ia bahkan tidak memedulikan teriakan sang Oma yang mengkritisi sikap tidak sopannya itu.
Almira masuk ke dalam mobil dengan sedikit paksaan. Hans masuk tidak lama kemudian dan tanpa aba-aba pria itu langsung menginjak gas secara ugal-ugalan.
Almira tersentak, ia memegangi sabuk pengaman dengan terus merapalkan doa dalam hati.
Ia tidak mau mati muda, masih terlalu banyak hal yang ingin ia capai. Namun melihat bagaimana raut wajah Hans yang terlihat begitu emosi, membuat Almira tidak berani berkata apa-apa.
Lebih kurang lima belas menit keduanya berkendara dalam kecepatan tinggi. Pada akhirnya Hans menepikan kendaraannya dengan aman, di sebelah gedung sekolah tua.
Almira menghela napas, ia benar-benar merasa seperti akan mati beberapa saat yang lalu.
“Jangan pernah dekat-dekat dengan dia,” suara Hans tiba-tiba terdengar.
“Kenapa?” tanya Almira bingung.
“Kamu tidak perlu banyak tanya, dengarkan saja apa kataku.”
“Tapi aku perlu tahu. Setidaknya untuk melakukan sandiwara ini, aku harus tahu,” balas Almira tak kalah ngotot.
Hans menghela napas, ia meremat rambutnya sendiri dan menoleh ke arah si gadis.
“Dia ibuku. Lebih tepatnya…. Ibu tiriku.”