Eleana membulatkan matanya. Kemudian, mendongakkan kepala menatap wajah yang memiliki kemiripan dengan putra keduanya. Sontak, ia melepas tangan kekar tersebut dari pinggangnya. Sungguh, Eleana tak sudi disentuh oleh pria b******n seperti Erland.
"Siapa kamu? Main peluk-peluk saya gitu aja! Edward, lindungi saya dari pria kurang ajar ini!!" teriak Eleana yang memulai perannya sebagai Eira yang kehilangan ingatan.
"Nyonya, dia adalah Tuan Erland, suami Nyonya," jelas Edward dengan kepala tertunduk.
"Mommy!" teriak si kembar berhamburan, berebut memeluk tubuh sang mommy.
Erland memicingkan mata melihat interaksi antara istri dan anaknya. Setahunya, mereka tak memiliki hubungan yang baik, sama seperti hubungannya dengan Eira. Selain itu, ia juga sering mendapat laporan dari para pekerja di rumah yang mengatakan jika Eira selalu menyiksa anak-anak mereka. Namun, ia tak peduli. Akan tetapi, setelah mengetahui sebuah kebenaran itu, Erland memutuskan untuk menjadi ayah dan suami yang baik. Ia akan menebus semua salah dan dosanya. Terutama pada sang istri, Eira Eleanor Roosevelt.
"Bang Edzard sama Kak Ezra kemana?" tanya Eleana yang tak menemukan dua anaknya yang lain.
"Ada di UKS, Mom. Kak Ezra lagi tidur," jawab Eidlan.
Setelah mengecup pipi si kembar, Eleana menyuruh mereka untuk masuk ke mobil. Namun, si kembar membeku di tempat menyadari jika sang daddy ikut berada di sekolah.
"Daddy?" panggil Elan yang tak percaya jika kedua orangtuanya menjemput mereka.
"Iya, twins. Ini Daddy." Erland merentangkan kedua tangan, membuat si kembar berlari ke dalam pelukannya. Lalu, ia juga melakukan hal yang sama seperti istrinya, yaitu mengecup kedua pipi mereka.
Eleana mencebikkan bibir. Ia tak suka melihat kedekatan anak-anaknya dengan pria itu. Eleana tak peduli, jika Erland adalah suaminya. Tanpa memikirkan akibat, ia langsung menyeret lengan Edward untuk menemaninya mencari ruang UKS. Erland menatap tajam ke arah mereka. Sepertinya, ia harus memecat Edward yang berhasil menarik perhatian istrinya.
***
Hampir selama satu jam, Eleana memandang wajah Ezra yang tertidur. Selama itu juga, ia mengutuk Eira yang telah tega menusuk putranya sendiri. Apa yang dimimpikannya semalam, ternyata cuplikan kehidupan novel ini. Sungguh, Eleana merasa iba terhadap anak-anak tak berdosa itu.
"Mau sampai kapan kau menatap Ezra yang tertidur, Ei?" tanya Erland yang berhasil membuat istrinya terkejut setengah mati.
"Astaga! Lo bisa nggak sih, nggak ngagetin orang!" pekik Eleana dengan d**a berdebar kencang.
Erland bergeming. Ternyata, yang dikatakan mereka semua benar. Jika istrinya telah berubah seutuhnya. Termasuk gaya bicaranya juga.
"Sorry," ucapnya merasa sedikit bersalah.
"Gue nggak nerima maaf lo! Jadi, lo mending pergi dari sini!" usir Eleana seraya mendorong tubuhnya keluar kamar.
"E-Eh, apa-apaan ini? Kau usir aku? Aku suamimu, Ei!" teriak Erland menoleh ke arah Eleana yang berusaha mengusirnya.
'Lo suaminya Eira, bukan suami gue!' desis Eleana dalam hati.
Eleana merasa lega setelah berhasil mengusirnya. Lalu ia naik ke atas kasur dan membaringkan tubuh di sebelah Ezra yang masih pulas tertidur. Menjadi ibu adalah hal yang menakjubkan bagi Eleana. Meskipun, ia tak tahu sampai kapan dirinya terjebak dalam dunia ini. Yang pasti tujuannya adalah membahagiakan anak-anak Eira.
"Maafkan Mommy. Pasti sakit sekali, bukan?" lirihnya seraya mengelus perut Ezra—di mana luka tusukan itu berada. "Ezra anak kuat, hingga mampu bertahan. Sekali lagi, Mommy minta maaf."
Tanpa sadar air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Eleana memang bukan pelakunya, tetapi entah mengapa ia merasa bersalah dan menyesal. Apakah, itu adalah perasaan Eira yang sesungguhnya? Karena bagaimana pun juga, tak ada seorang ibu yang tega menyakiti anak-anaknya tanpa sebab. Eleana harus menggali semua ingatan Eira yang lenyap begitu saja. Ia harus mulai mencari petunjuk-petunjuk masa lalu untuk mengetahui semua yang terjadi.
"Mommy temenin Ezra tidur, ya?" Eleana memeluk erat tubuh putranya yang sudah terjaga. Sayangnya, Ezra masih dalam kepura-puraan. Anak laki-laki itu merasakan sesak di dadanya mendengar permintaan maaf dari sang mommy yang terdengar begitu tulus. Dari luar, Ezra memang terlihat dingin dan tidak peduli. Akan tetapi, dibalik itu, ia adalah pribadi yang sangat menyayangi dan memedulikan keluarganya.
'Pertama kalinya, Mommy memelukku,' batin Ezra merasa gembira.
Tak lama seseorang membuka pintu kamar. Ia tampak memanyunkan bibir melihat pemandangan di depannya. Elan, anak itu juga ingin merasakan tidur dipeluk oleh sang mommy. Melihat kembarannya yang terdiam, Eidlan pun mengikuti arah pandangnya. Pantas saja, Elan memasang wajah masam.
"Lan, kita ikutan tidur siang bersama Mommy saja!" usul Eidlan seraya melangkah masuk, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Elan mendengkus, pada akhirnya ia mengalah. Ia mengikuti kembarannya merebahkan tubuh di sofa sebelah kiri kamar ini. Keduanya sama-sama menatap ke arah Eleana yang terlelap. Rasa keanehan muncul ketika melihat Ezra yang tampak nyaman dalam pelukannya.
'Dulu, Kak Ezra sangat membenci Mommy. Tapi mengapa sekarang, Kak Ezra terlihat nyaman dipelukkan Mommy?' benak Elan merasa heran.
'Aku tahu, Lan, jika kau iri dengan Kak Ezra. Karena Kak Ezra adalah orang pertama yang dipeluk Mommy saat tidur,' batin Eidlan beralih menatap ke arah kembarannya.
Suasana sunyi dan hangat di kamar ini, membuat keduanya merasa kantuk. Perlahan, Eidlan menutup matanya dan disusul oleh Elan.
***
Di lantai bawah, Edzard kebingungan melihat rumahnya yang sepi. Ia dan Emmanuel mendatangi halaman samping rumah—tempat di mana mereka semua sering menghabiskan waktu bersama. Namun, si kembar tak ada di sana. Kemudian mereka beralih ke dapur. Biasanya, siang-siang seperti ini Eidlan dan Elan akan meminta dibuatkan jus buah pada Bi Ela. Lagi-lagi, tak ada orang yang mereka temukan.
"Abang, Nuel mau Mommy!" rengek Emmanuel merindukan Mommy-nya.
"Coba kita ke kamar Kak kembar. Semoga mereka ada di sana." Edzard menggandeng tangan adiknya yang paling kecil menuju kamar si kembar.
Dengan pelan, Edzard membuka pintu. Ia terbelalak melihat ketiga adiknya tidur dalam satu kasur bersama sang Mommy. Untungnya, kasur si kembar berukuran raksasa hingga dapat menampung tubuh mereka semua.
"Eh, Nuel! Jangan lari-lari!" teriaknya pada Emmanuel yang berlari dan naik ke atas kasur, menempati tempat disebelah sang mommy. Lalu, anak itu memepetkan tubuh pada Eleana.
"Ya ampun, Nuel..." Edzard menggelengkan kepala melihat Emmanuel yang memeluk erat tubuh mommy mereka.
Kasur raksasa itu adalah permintaan hadiah ulang tahun si kembar pada sang daddy. Mereka yang sering merasa ketakutan setiap malam, memutuskan untuk tidur bersama dalam satu kasur, dengan Emmanuel di bagian tengah. Mengingat itu semua, membuat hati Edzard teriris.
"Aku juga ikutan tidur ya, Ez." Edzard merebahkan tubuh di belakang adiknya. Ia berharap, keluarga mereka akan seperti ini ke depannya. Tak ada lagi siksaan dan hukuman yang mereka dapati. Sungguh, ia tidak bisa terus-terusan melindungi keempat adiknya. Karena sebenarnya, ia juga sudah tidak tahan.
'Edzard harap, Mommy tidak kembali seperti dulu lagi,' batinnya.
Tidur Eleana terganggu saat merasakan sebuah tangan kekar memeluk perutnya. Wanita itu tak sadar jika dirinya berada di dunia novel. Pikirannya masih terlarut ke dalam dunia nyata. Karena biasanya, Ethania—sahabat Eleana selalu memeluknya ketika tidur. Namun, persahabatan mereka hancur sebab kesalahpahaman. Sayangnya, Eleana tak mengingat fakta tersebut. Wanita itu masih menganggap Ethania sebagai sahabatnya.
"Eughh... Ethan, jangan peluk gue..." gumam Eleana sembari menyingkirkan tangannya.
Erland menautkan kedua alis. Ia seperti mendengar istrinya menyebut nama seseorang. Untuk memastikan, ia kembali memeluk Eleana dengan erat. Membuat wanita itu merasa sesak. "Ethan! Jauhin tangan lo! Jangan ganggu gue tidur!!" ucap Eleana tanpa membuka matanya.
"Ethan siapa, hm?" Erland seperti tak terima jika istrinya menyebut nama yang diduganya adalah seorang pria. Dengan tersulut amarah, ia mencium bibir Eleana secara rakus. Eleana yang merasa bibirnya bersentuhan bahkan dilumat oleh benda kenyal milik seseorang langsung membuka mata lebar-lebar. Ia terkejut melihat Erland yang melumat bibirnya.
"Hmmpp..." Sekuat tenaga, Eleana mendorong tubuh Erland dari atas tubuhnya. Tanpa sadar, air mata Eleana mengalir. Seumur hidupnya, ia tak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Ia merasa tersakiti. Bibir ranumnya sudah ternodai oleh ciuman kasar suami Eira.
"Apa yang lo lakuin, heh?!" pekik Eleana menatap penuh amarah ke arahnya.
Napas Erland memburu. Pria itu mencengkeram dagu Eleana. "Kau cuma milik aku, Eira!"
"Lepasin! Sakit!!" Eleana berusaha keras melepas cengkeramannya. Namun, Erland malah memegang kedua tangan Eleana dan kembali melumat bibir istrinya.
Dengan sengaja, Eleana menendang aset berharga milik pria itu. Sungguh, ia merasa seperti tengah dilecehkan. Jika dirinya adalah Eira, yang notabenenya istri Erland, mungkin akan menerima. Akan tetapi, ia adalah Eleana—gadis yang belum pernah merasakan cinta.
Terpaksa, Erland melepaskan istrinya. Ia mengaduh kesakitan dan memilih pergi dari kamar. Meninggalkan Eleana yang mulai terisak.
"Hikss... Bibir gue... Erland b******n!" umpat Eleana di sela isak tangisnya. "Pasti lo, 'kan yang mindahin gue ke sini," lanjutnya yang teringat jika mereka tidur di kamar si kembar setelah berpindah dari kamar Ezra.
Di lain sisi, Erland terus memikirkan nama yang disebut istrinya di dalam tidur. Rasa sakit yang ia rasakan, tidak mengalahkan rasa penasarannya. Terlalu lama berpikir, ia pun memutuskan untuk menghubungi seseorang yang bisa membantunya.
Erland meraih ponsel yang terletak di atas meja kerjanya, lalu menghubungi seseorang. "Cari orang yang bernama Ethan dan apa hubungannya dengan istri saya!"
"..."
"Saya tidak mau tau, pokoknya malam ini kau harus melaporkan informasi tentang dia!" pekiknya kemudian mengakhiri panggilan sepihak.
Erland mengacak rambut frustasi. Selama ini, Eira tak pernah menyebut nama pria lain. Entah dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, tetapi tidak dengan istrinya yang sekarang. Erland pikir, Ethan adalah orang di masa lalu istrinya. Atau, sedikit demi sedikit ingatan Eira kembali? Tidak. Erland tak berharap hal itu dapat terjadi secepat ini. Jika bisa, lebih baik istrinya kehilangan ingatan untuk selamanya.
"Aku mencintaimu, Ei. Sangat mencintaimu," lirihnya seraya menatap foto pernikahan mereka di dinding sebelah kanan ruangan ini.