Sepanjang perjalanan menuju restoran, gadis berambut panjang itu terus berusaha menahan kesabarannya. Dia adalah Eleana Ellery Elenora. Eleana memiliki satu orang sahabat yang bernama Ellen. Gadis yang sangat menyukai novel online. Sampai-sampai, Eleana merasa bosan mendengar review dari setiap novel yang dibaca oleh sahabatnya. Dari sekian banyak review novel, hanya ada satu novel yang tidak disukai oleh Eleana, yaitu novel yang saat ini tengah direview langsung oleh Ellen.
"Pokoknya, El, ceritanya itu seru banget. Tokoh utama cowoknya itu bener-bener nggak waras. Masa iya, istrinya dijadiin pabrik pembuatan anak. Nih, dengerin baik-baik, ya! Jadi tuh, si Erland balik ke rumah cuma buat hamilin istrinya doang. Terus, abis itu dia pergi dalam waktu yang nggak ditentukan! Terus, si Eira yang lama-lama capek sendiri jadinya mulai siksa anak-anaknya!!" cerocos Ellen yang tampak begitu bersemangat menceritakan isi novel tersebut.
Ellen menggoyang-goyangkan lengan Eleana dan menatapnya lekat. "Semua anaknya itu laki-laki, El! Manalagi, ganteng-ganteng! Si penulis emang nggak nanggung buat pembacanya jatuh cinta sama tokoh-tokoh di novel 'Jangan Hamili Aku Lagi!'"
"Tunggu, maksud lo?" tanyanya mengerutkan kening bingung.
Eleana yang semula mengabaikan, seketika menjadi penasaran ketika mendengar jika tokoh utama pria muncul hanya untuk menghamili tokoh utama wanita. Sungguh, ia merasa tak habis pikir pada penulis yang tega membuat alur novel yang seperti itu.
"Iya, El. Terus, karena frustasi si Eira semakin menjadi. Dia terus siksa anak-anaknya. Sampai benih-benih benci itu tumbuh di hati mereka. Dan di saat anak pertamanya berusia tujuh belas tahun, dia mulai merencanakan pembunuhan terhadap ibunya sendiri!" jelas Ellen seraya memegang lengannya.
Eleana menatap lekat manik mata sahabatnya. "Sampe segitunya, Len?"
Ellen mengangguk. "Ya iyalah! Mana ada kakak yang tega ngeliat adik-adiknya disiksa oleh ibunya sendiri. Jadi tuh, si Edzard namanya, dia mencoba melindungi adik-adiknya atau merelakan dirinya yang menjalani hukuman, dan siksaan dari si Eira. Tapi Eira nggak ngebiarin. Dia tetep siksa anak-anaknya sama rata. Suer deh, gue gedeg banget sama si Eira. Untung si Edzard kuat. Dia mampu bertahan dan melindungi adik-adiknya."
"Nggak waras tuh, penulis novel!" umpat Eleana merasa tidak terima atas penyiksaan terhadap anak-anak yang tidak berdosa itu.
Tiba di restoran, mereka pun menempati meja yang tersisa. Eleana mengalah, ia memesan makanan dan minuman. Sementara Ellen, gadis itu terlihat sedang melanjutkan membaca komentar-komentar dari novel yang tadi di review. Eleana mengetahuinya, karena tak sengaja membaca komentar yang menyebutkan salah satu nama tokoh yang tadi disebutkan oleh sahabatnya.
"Len, gue ke toilet, ya. Dadakan mules ini," pamit Eleana berlari ke arah toilet.
"Oke, jangan lama-lama ya, El!" teriak Ellen pada sahabatnya yang telah menjauh. Ia terhanyut dalam membaca komentar dari setiap bab novel yang sangat menguras emosinya.
Eleana memegang dinding yang dingin sebagai penopangnya. Ia sudah tidak kuat menahan rasa mulas di perutnya. Saat pintu toilet terbuka dan gadis berambut sebahu itu keluar, ia langsung menerobos masuk.
Setelah selesai, Eleana memutuskan untuk berada di toilet lebih lama ketika rasa pusing menyerangnya. Inilah akibat jika dirinya terlambat makan. Namun, rasa pusing yang dirasakannya seperti berbeda. Samar-samar, ia melihat sebuah cahaya terang yang muncul di depannya. Eleana merasa tubuhnya tertarik, kemudian kegelapan pun menyelimutinya.