Sejak tadi, Jovi hanya sibuk bertengkar dengan hatinya sendiri. Ia tak yakin dengan rasa yang dirasa. Tapi, kadang rasa tu berusaha meyakinkan kalau rasa itu memang ada dan perlu pengakuan dan ingin diungkapkan. Hanya saja, ada pemikiran yang menolak. Pantaskah kalau dirinya bersatu dengan Gavin dalam ikatan yang membuat mereka lebih dari sekedar saudara. Apa papanya akan menerima, lalu bagaimana dengan Gavin. Pria itu saja selalu tampak kaku dan dingin di setiap kesempatan. “Aku udah kelamaan di sini. Kayaknya Gavin bakal marah karena nunggu terlalu lama.” Jovi beranjak dan saat mulai memutar kenop pintu kamar. Ia mendadak jadi ragu untuk menemui Gavin. “Apa, aku bilang aja. Tapi, gimana kalau aku nggak suka beneran sama dia. Ah, kalau ada reparasi otak, aku mau deh ganti memori buat n

