Bab 4. Belum Terlihat Baik

1157 Kata
Malam telah merajai hari, meja makan yang biasanya dihuni oleh dua manusia, kali ini ada satu lagi nyawa yang ikut di sana. Jovita Zabrina Chandra, dirinya mulai memberanikan diri untuk ikut serta makan malam di meja makan bersama keluarga angkatnya. Tapi, sejak mulai duduk, gadis itu hanya diam membisu. Tak bicara atau menyapa. Pandangan matanya juga tak teralihkan sedikitpun dari makanan. Gavin pikir itu bentuk kesombongan yang cukup parah. Yang benar saja, dirinya sebagai anak pemilik rumah, justru merasa diacuhkan dengan wajah dingin Jovi yang seperti tak peduli pada manusia. “Aku udah selesai makan. Kalau gitu, aku mau balik duluan ke kamar,” ucap Jovi. Ia mengarahkan pandangannya sekilas pada papa angkatnya, kevin Armano. Lalu mengambil alat bantunya untuk berjalan. Gadis itu tidak peduli kalau gavin, kakak angkatnya coba mencuri lihat diirnya. Padahal semapt kasihan juga pada Jovi beberapa saat lalu. Tapi, kasihan itu kembali menghilang, berganti tak suka dan malas mengenalnya. “Mari Nona, saya bantu!” ucap asisten rumah tangga, Bella, yang memang bertugas untuk melayani Jovi secara pribadi semenjak masuk jadi keluarga Armano. Papa angkatnya memang sengaja memberinya asisten pribadi, agar Jovi bisa dengan mudah melakukan kegiatan sehari-hari. Apalagi gadis tersebut juga belum bisa berjalan normal. Apa yang dilakukan maish sangat terbatas. Gavin menghela nafas. Terdengar panjang dan kesal. “Lihat Pa, dia bahkan nggak kasih sedikit sopannya pada aku. Dia mungkin nggak nganggep aku kakak angkatnya.” Gavin mulai berkomentar, nadanya terdengar jelas kalau tidak suka. Ia lalu menyandarkan diri di kursi meja makan dengan malas. Dengan wajah tenang dan datar. Kevin, Papanya berusaha obyektif. Tak mungkin dirinya mengatakan sesuatu yang mendukung putranya itu. Meski sebenarnya Jovi memang terasa dingin. Apalagi dilihat dari sorot matanya yang tajam, seperti tak mau mengenal orang. “Dia sudah berusaha sejauh ini. Dia bahkan sudah mau makan malam bareng sama kita. Apa kamu nggak lihat gimana kaku bahasa tubuh Jovi.” “Papa jangan bicara sesuatu yang berat, aku nggak mudeng. Mana tau aku sama bahasa tubuh cewek kayak dia.” “Kasih dia waktu. Atau kalau kamu emang kakak yang baik. Kamu aja dulu yang pedekate sama dia.” Gavin menatap papanya tak percaya. “Papa nggak salah ngomong kayak gitu?” Tanpa merasa bersalah sama sekali. Kevin menjawabnya dengan tegas. “Enggak!” “Pa! Masak aku yang dekatin dia dulu sih! Yang bener aja. Dia aja sama aku nggak ada sopan-sopannya.” “Gavin! Jovi itu bukannya nggak mau sopan sama kamu. Tapi, dia itu memang butuh waktu untuk menerima apa yang sudah terjadi sama keluarganya.” Gavin merasa kehilangan selera makan. Ia menarik nafas dalam dan mengelap sisa makanan yang mungkin tertinggal di ujung bibirnya. “Aku mau balik ke kamar aja. Tiba-tiba ngerasa kenyang abis debat sama papa.” “Gavin!! Dia butuh kita buat pulih. Dia nggak bisa respon sama laki-laki sekarang. Gavin! Dengerin papa ngomong! Gavinnn!” Tidak peduli papanya memanggil dengan nada cukup panjang. Gavin tetap pergi ke kamar, meninggalkan meja makan dengan kesal dan emosi. “Papa nggak sayang sama aku!” gerutu Gavin sabil berjalan menuju kamarnya. ** Bagaimanapun juga menerima sosok baru dalam keluarganya. Apalagi sosok itu lawan jenis, dan langsung mendapat perlakuan baik dari papanya, sungguh membuat seorang Gavin Armano merasa cemburu. Cemburu sosial lebih tepatnya. Ia kesal dan tak mau berhubungan baik rasanya dengan Jovi. Mungkin kadang tak tega juga melihat kondisi Jovi yang terbatas. Tapi, ayolah, memangnya kesombongan dan wajah angkuh Jovi yang juga dingin itu, apa tidak bisa sedikitpun dikurangi kadarnya. Mengapa dia tak bisa senyum sekali sekedar untuk menghormati dirinya sebagai kakak. “Padahal kan papa udah mau nolongin dia. Memang, kayaknya dia nggak ada usaha sama sekali untuk menghargai aku, sama papa aja dia masih nyempetin ngomong. Sama aku, hahhhhh …, ngerasa nggak butuh.” Gavin mengambil langkah ke meja belajar. Ia merasa lebih baik menyibukkan diri dengan buku-bukunya. Hobinya membaca membuat dirinya kadang bisa lupa dengan masalah yang sedang terjadi, termasuk seperti sekarang ini. Makanya rumah keluarga Armano ada perpustakaan khusus untuk memfasilitasi hobi Gavin itu. "Menyebalkan!" Gavin masih mengeluh. Kesalnya ingin dilampiaskan, tapi meski sudah dilampiaskan, sosok Jovi juga akan tetap ada di sini. ** Pagi datang dengan cara yang indah, beberapa jam sudah dilalui oleh Gavin di sekolahnya. Saat itu, semua yang terjadi di rumahnya bisa ia lupakan untuk sesaat. Lalu, saat motor kesayangannya sudah melaju dan sampai di halaman parkir rumah. Saat sepasang matanya melihat mobil yang biasa dikendarai dokter yang menangani Jovi, suasana hatinya kembali kacau. Sambil melepas helm, dan turun dari motor. Ia menghela nafas dan ngedumel sesuka hati. “Aku bosen rumahku dipakai keluar masuk orang yang kepentingannya cuma buat Jovi. Kalau udah kayak gini gimana caranya aku nggak iri sama dia.” Sampai di ruang tamu, apa yang dipikirkan memang benar. Sudah ada dokter Ana. Dokter untuk psikologis Jovi. Ia sedang menyarankan Jovi untuk latihan jalan tanpa tongkat. Ketika Jovi berjalan melangkah, ketika gadis itu sudah berhasil bergerak dua langkah lebih tanpa tongkat. Ternyata kedua kakinya belum mampu dan membuat ia terjatuh. “Aww …!” jerit Jovi tersungkur ke lantai. Suster yang kebetulan juga bertugas menjaga Jovi dan Bibi Bella asisten pribadinya segera mendekat untuk menolong. Saat itu, Gavin melihat gadis itu berteriak. Menolak segala bantuan yang diberikan kedua orang tersebut. “Aku nggak butuh bantuan buat berdiri. AKU BISA SENDIRI!” Jovi mengatakannya dengan berteriak. Kedua matanya terlihat berair sambil meremas kedua tangannya seperti menahan kesal. Atau lebih tepatnya emosi. Sontak kedua orang yang akan membantu itu menepi, menjauh dari Jovi. Memandang Jovi dengan pilu dan hati teriris. Tak tega sebenarnya menatap Jovi yang tampak lemah, tapi masih ingin berusaha. Gadis itu, bukannya tak terima dengan ketentuan takdir yang sudah terjadi pada hidupnya. Tapi, sungguh hatinya sudah berusaha belajar untuk menerima. Hanya saja butuh waktu melalui semua ini, juga berusaha seperti sedia kala dengan segala perubahan yang terjadi itu sulit, sulit sekali. Apalagi untuk Jovi yang masih remaja. “Dok! Kalau aku nggak bisa jalan, mana mungkin aku bisa jadi penari balet profesional,” ucap Jovi dengan pandangan mata yang kosong. “Kenapa jadi gini sih Dok! Aku kan udah kehilangan keluargaku, masak aku kudu kehilangan cita-citaku!!” tambah Jovi lagi. Ia mengatakannya dengan jujur dan dari lubuk hatinya paling dalam. Hening, tak ada yang bisa memberikan jawaban dari pertanyaan Jovi. Begitu juga dokter Ana. Gavin masih terpaku di tempatnya berdiri, memandang ke arah Jovi berada. Sementara, gadis itu tak tahu ada Gavin datang. Sekali lagi, Jovi berusaha berdiri tapi gagal. Dokter Ana mendekat dan mengulurkan tangan. “Sini! Biar dokter bantu!” Jovi menolak. “Jawab dulu pertanyaanku dok! Apa aku udah nggak bisa ngejar mimpiku buat jadi penari balet. Apa kakiku ini bakal cacat selamanya?” Dokter Ana merasa lidahnya keluh. Ia cemas, kalau berkata jujur. Memang cacat itu tak bisa hilang, dan itu akan membuat Jovi berhenti berjuang. “JAWAB DOK!!! Kenapa diam saja???” Jovi menangis, ia biarkan tubuhnya meringkuk di lantai. Mungkin saat itu rasanya ia sudah jatuh di jurang paling dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN