Bab5

873 Kata
Andreas berdiri di depan pintu rumah megah yang selama lima tahun terakhir hanya menjadi tempat singgah, bukan pulang. Rumah itu mewah, lengkap, bahkan disebut banyak orang sebagai simbol keberhasilan—tapi bagi Andreas, itu hanyalah kotak kosong yang perlahan menggerogoti dirinya dari dalam. Malam itu, angin bertiup lembut namun dingin, menyusup ke dalam jasnya seperti kenangan-kenangan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Dia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu perlahan. Cahaya lampu temaram menyambutnya. Suasana rumah terasa hening, seperti biasa. Dingin dan berjarak. Di sofa panjang yang menghadap jendela besar, Nadine duduk anggun dengan segelas anggur di tangan. Gaun tidur sutra membungkus tubuhnya dengan sempurna, namun wajahnya menyimpan letih yang tak bisa ditutupi oleh riasan tipisnya. “Kau pulang lebih awal dari biasanya,” katanya datar, tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya. Andreas menggantung jasnya di sandaran kursi makan. Suaranya pelan, tapi tegas, “Kita perlu bicara.” Nadine meneguk anggurnya perlahan, lalu meletakkan gelas itu di atas meja kaca. Tatapannya tajam, namun matanya kosong. “Akhirnya.” Andreas berjalan ke ruang tamu dan duduk di seberangnya. Sesaat, dia hanya menatap wanita itu—wanita yang dulu pernah dia cintai habis-habisan. Tapi kini, yang tersisa hanya kenangan dan keheningan yang menyiksa. “Aku ingin kita bercerai,” ucapnya akhirnya. Nadine langsung menoleh. Kali ini, reaksinya tak bisa disembunyikan. Matanya membesar sejenak, lalu menyipit. “Akhirnya kau mengatakannya juga. Sudah kutunggu cukup lama.” Dia mengambil kembali gelas anggurnya, meneguk habis isinya. Lalu, dengan nada getir, dia menambahkan, “Apa aku harus bertanya berapa lama kau tidur dengan sekretarismu?” Andreas menghela napas. Dia tidak terkejut. Dia tahu Nadine bukan wanita bodoh—dia hanya diam selama ini karena memilih tak peduli. “Beberapa bulan,” jawabnya jujur. Nadine terkekeh singkat. “Setidaknya kau tidak berdusta.” “Ini bukan soal siapa bersalah. Kita sama-sama tahu hubungan ini sudah mati. Kita hanya berpura-pura terlalu lama.” “Kau pikir hanya kau yang menderita?” Nadine berdiri, berjalan ke jendela, menatap bayangan kota yang gemerlap. “Aku... sudah lama merasa hampa juga, Mas. Aku tahu kau tak lagi menyentuhku dengan cinta. Aku tahu kau menjauh.” “Karena kau juga menjauh, Nadine. Kita saling hilang.” Andreas berdiri pelan, suaranya tetap tenang. “Kau sibuk dengan dunia sosialmu, gala dinner, charity palsu. Semua demi image. Tapi kita tak pernah lagi bicara sebagai suami istri.” “Apa itu salahku?” Nadine berbalik. Matanya memerah. “Kau pikir mudah menjadi aku? Menjaga citra, menolak jadi perempuan biasa hanya karena semua orang ingin melihatku tunduk?” “Tidak. Aku tidak pernah ingin menundukkanmu, Nadine,” jawab Andreas, mendekatinya. “Tapi aku ingin rumah. Anak. Keluarga. Dan kau... selalu menolak itu.” Nadine terdiam. Pandangannya menunduk. Bahunya sedikit gemetar. Beberapa detik kemudian, dia berbisik pelan, nyaris tak terdengar, “Aku takut, Mas.” Andreas mematung. “Takut apa?” “Takut kehilangan diriku sendiri. Takut jika aku punya anak, semua yang kuperjuangkan lenyap. Aku dibesarkan dengan satu pesan dari ibuku—jangan pernah bergantung pada lelaki, bahkan suamimu sendiri.” Ada jeda yang panjang. Hening yang menyakitkan. “Aku mengerti,” kata Adrian akhirnya. “Tapi kita tidak berjalan di jalur yang sama, Nadine. Aku mencintaimu dulu... tapi itu berubah. Sekarang aku mencintai Violet. Dan dia... dia sedang mengandung anakku.” Nadine seperti tertampar. Wajahnya berubah. Tangannya mengepal, dan untuk pertama kalinya, air mata jatuh dari matanya. Dia cepat menghapusnya, menegakkan kepala, mencoba tetap angkuh. “Anak, ya...” gumamnya. “Itu hal yang tak pernah bisa kuberikan padamu, bukan?” “Bukan soal bisa atau tidak. Ini tentang keinginan. Kita berdua sudah terlalu jauh. Dan aku tak ingin hidup dalam kebohongan lagi.” Nadine menatap cermin besar di dinding ruang makan. Di sana, dia melihat bayangan dirinya—rapih, cantik, elegan. Tapi retak. Cermin itu retak dalam pikirannya, memantulkan citra dirinya yang rapuh, sendirian, dan kehilangan. “Kalau begitu... selesaikan semuanya,” katanya pelan. “Kita urus perceraian ini secara baik. Aku tak mau drama. Aku terlalu lelah untuk berpura-pura lagi.” Andreas menatapnya lama. Ada sedih di sana. Bukan karena kehilangan cinta, tapi kehilangan seseorang yang dulu begitu dia perjuangkan. Namun kini, keduanya tahu, mempertahankan hubungan ini hanya akan membuat luka makin dalam. “Terima kasih, Nadine,” ucapnya pelan. Nadine mengangguk. “Aku tidak benci padamu, Dri. Aku hanya benci pada versi kita yang gagal jadi bahagia.” Tak ada kemesraan ataupun kasih sayang saat itu. Semuanya terasa hampa, seperti orang asing. Saat Adrian keluar dari rumah malam itu, hujan rintik mulai turun dari langit Jakarta. Dia berdiri di teras sebentar, menatap rumah yang sebentar lagi akan menjadi masa lalu. Rumah yang selama ini dia pikir adalah lambang sukses, kini menjadi simbol dari kehidupan yang kehilangan arah. Langkahnya pelan menuruni anak tangga. Udara dingin malam menyambutnya, tapi ada sesuatu yang terasa ringan di dadanya. Bukan kebahagiaan. Bukan juga kemenangan. Tapi kelegaan. Seolah beban bertahun-tahun yang menempel di punggungnya akhirnya dia letakkan. Di balik semua luka dan perpisahan, dia tahu satu hal pasti: saat cermin retak tak bisa lagi dipoles, maka satu-satunya pilihan adalah menatap ke depan—pada kehidupan baru, cinta yang jujur, dan keluarga yang benar-benar hidup. Kini, dia siap melangkah ke sana. Meninggalkan bayangan, menuju terang yang menunggu di ujung jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN