Rumah memang sunyi—anak-anak terlelap, jam dinding berdetak pelan—tapi di dalam diri Violet, sesuatu terus bergerak. Bukan gelisah yang menusuk, melainkan arus pelan yang membawa banyak kemungkinan. Ia duduk di sofa dengan punggung bersandar, selimut tipis menutupi kakinya. Nadine masih di dekatnya, memegang cangkir yang sudah dingin, seolah kehangatan tidak lagi berasal dari minuman. “Besok,” kata Violet akhirnya, memecah keheningan, “aku ingin bicara dengan pengacara.” Nadine menoleh. Tidak kaget. “Tentang kesepakatan itu?” “Ya. Bukan untuk melawan.” Violet menghela napas. “Tapi untuk memastikan semuanya jelas. Untuk anak-anak.” Nadine mengangguk pelan. “Itu keputusan yang dewasa.” Violet tersenyum miring. “Aku lelah jadi orang yang hanya bereaksi.” Ia bangkit, merapikan selimut, l

