Mama

1832 Kata
Pita: Mama   Hari ini gue mau belajar memasak sama Lucky dong. Walaupun Lucky nggak mengizinkan awalnya karena takut gue mengeluh, terus berakhir mengacak-acak isi dapur, mending gue duduk manis di kursi makan sembari menunggu Lucky selesai memasak. Gue cemberut, merasa kesal karena nggak diperbolehkan sama Lucky. Gue terus merengek, meyakinkan cowok itu kalau gue bisa. Ya kalau mengeluh dikit-dikit, kan, nggak masalah. Namanya juga orang belajar masak. Mana gue nggak punya pengalaman apa-apa di dapur selain melihat kegiatan Lucky atau Bibi di rumah Papa yang lagi masak. Lucky akhirnya mengizinkan gue memasak, dengan catatan nggak boleh banyak protes atau pun mengeluh cuma karena disuruh pecahin telur kayak waktu itu. Gue mengangguk-angguk semangat. Menunjukkan satu Ibu jari gue lalu nyengir lebar. “Ketebelan, Pita!" Lagi-lagi Lucky memberitahu kalau potongan sayur gue terlalu tebal. Gue menghela napas, berusaha bersabar. “Iya, iya," kata gue. “Segini?” tanya gue menunjukkan hasil potongan yang baru. “Terlalu tipis,” Lucky menggelengkan kepala. Satu jarinya bergerak ke kanan lalu ke kiri. Gue mengembungkan pipi. Meletakkan pisau yang gue gunakan sejak tadi ke atas piring dengan kasar. Lucky tersentak kaget, mungkin aja dia ngeri kalau pisaunya malah terlempar ke arah lain. “Capek!” keluh gue, manja. “Ribet banget, sih, Ky. Ketimbang mau dimakan sendiri aja harus dipotong ukurannya sampe pas.” Lucky mengamati penampilan santai gue yang cuma mengenakan celana pendek berbahan jins, serta kaus oblong berwarna putih. Gue mendengus, mengusap ujung hidung gue yang tiba-tiba aja gatal. “Baru gitu aja udah ngeluh,” cibir Lucky melipat kedua tangan di depan d**a. “Gimana gue yang masak tiap hari buat lo. Kadang, nih, gue masak dua kali dalam sehari loh, Pit!" Wajah memberengut gue berubah seketika. Apa yang dibilang Lucky berhasil membuat rasa kesal gue jadi menguar entah ke mana. Iya, sih, Lucky aja tiap hari masak buat gue, kadang malam juga dia masih masak supaya gue mau makan. Cuma, memasak, tuh, emang nggak gampang. Nggak semudah orang berteori. Coba, deh, yang suka bacot masak tuh gampang, tapi nggak pernah masuk ke dapur, baku hantam aja yuk sama gue. “Ky!” Gue sama Lucky kompak menoleh ke belakang dan mendapati Aree yang udah rapi sedang berdiri di ambang pintu. “Apaan?” tanya Lucky ke Aree. “Ada tamu, tuh.” Lucky menatap Aree. “Siapa?” Aree mengangkat kedua bahunya cuek, lalu menjawab, “Mama mertua lo, katanya." “Kok, katanya?” gumam Lucky. “Lo, kan, tahu Mama mertua gue kayak gimana. Pernah ketemu juga beberapa kali di sini." “Iya,” jawab Aree, kemudian melanjutkan, "Tapi yang ini bukan Mama tiri Pita.” Dahi gue mengernyit, heran. Kalau bukan Mama tiri gue, emangnya Mama gue yang mana lagi? Gitu-gitu Papa gue orang yang setia. Nggak mungkin Papa gue diem-diem punya istri lain. “Mama kandung lo," sahut Aree, cuek. “Hah? Gimana?” Gue sama Lucky kompak bertanya. Aree nggak menjawab lagi. Cowok itu mencangkleng tasnya lalu pergi meninggalkan gue sama Lucky berdua di dapur. Yang dibilang sama Aree nggak bohong. Wanita yang datang ke rumah kontrakan kita memang Mama kandung gue. Gue sempat ragu saat melihat punggung seorang wanita di teras rumah. Ada koper besar di samping kakinya yang dibungkus celana bahan berwarna hitam. Lucky berdiri di samping gue, mengajak gue menemui wanita itu. Setelah wanita itu membalikkan badan menghadap ke arah gue, persis. d**a gue berdebar, selanjutnya, mata gue terasa berembun. Kedua kaki dan tangan gue kayak mati rasa. Apa lagi saat wanita itu memeluk gue erat sesekali menciumi wajah gue kayak kebiasaannya sebelum kabur meninggalkan rumah. Entah harus senang atau sedih sekarang. Gue senang karena Mama kembali. Tapi, gue nggak tahu dibalik alasan Mama menemui gue itu apa. Kenapa? Udah bosan berkelana mencari banyak laki-laki? Apa Mama udah nggak menarik lagi di mata para laki-laki, maka dari itu memutuskan mencari gue? Lucu, ya. Wanita itu yang membuat banyak dosa, gue yang menanggung kebencian Papa. Gue melepaskan pelukan Mama dengan kasar. Gue nggak peduli dianggap sebagai anak durhaka. Gue berhak marah. Gue berhak membenci Mama karena udah bikin hidup gue berantakan! Andai aja Mama nggak kabur bersama selingkuhannya, hidup gue bakalan baik-baik aja. Gue bakalan tumbuh dengan kehidupan normal sama kayak temen-temen gue yang lain. Apa Mama tahu gimana kehidupan gue setelah dia pergi? Gue dibilang anak buanganlah, anak dari wanita tukang selingkuh lah, dibilang anak pembantu karena selalu diantar-jemput sama Bibi setiap pulang sekolah. Mama nggak tahu sebanyak apa gue menderita, kan? Dan, sekarang, masih berani menunjukkan wajahnya di depan gue? Hidup gue jadi lebih baik dan bahagia setelah menikah sama Lucky. Ya walaupun masalah finansial kita serba pas-pasan, paling nggak, gue merasakan apa yang namanya bahagia. Kebahagiaan nggak harus selalu diukur karena uang dan kekayaan. Buktinya, gue sama Lucky bahagia kok biarpun cuma tiap hari makan sayur sama telur doang. “Mama kangen banget sama kamu, Pita,” Mama hendak memeluk gue lagi, tapi keburu gue tepis tangannya lalu berjalan mundur menjauhi Mama. “Mama minta maaf, Mama emang salah karena udah ninggalin Papa kamu." “Mama juga ninggalin aku saat itu," tandas gue. “Telat banget muncul sekarang. Aku rasa, bukan cuma makanan aja yang bisa kadaluwarsa, tapi juga maaf Mama.” “Pita...” Lucky berbisik di telinga gue, seolah sedang menegur sikap gue sama Mama. “Pit,” Mama meraih tangan gue, menggenggamnya erat-erat.  “Tolong Mama, Pit. Mama udah nggak punya siapa-siapa lagi. Mama nggak ada tempat tinggal. Cuma kamu satu-satunya orang yang Mama punya di dunia ini.” “Hah!" Gue mendengus, memalingkan muka. “Izinin Mama tinggal sama kalian, ya. Nggak apa-apa kalau harus tidur lantai sekali pun.” Ah, sekarang gue tahu apa alasan Mama kembali ke gue. Wanita itu udah nggak punya apa-apa lagi. Begitu dia kehilangan semuanya, dia menemui gue? *** Kalau bukan karena Lucky, gue nggak akan mengizinkan Mama tinggal di sini. Gue udah muak. Benci banget sama drama-drama yang Mama ciptakan dari dulu sampai sekarang. Mama menangis, bukan karena mengakui kesalahannya dan merasa bersalah karena pernah meninggalkan gue dan Papa dengan lari sama selingkuhanya. Segala macam sifat Mama sangat-sangat gue kenali. Meskipun Mama meninggalkan gue di usia yang sangat muda, tapi gue nggak pernah lupa apa aja yang pernah Mama lakukan. Kalau gue boleh jujur, Mama, tuh, wanita ular. “Setiap hari selalu gini, ya?” tanya Mama menepuk lengan kanannya. “Gini, gimana?” Gue balik nanya ke Mama. Ekspresi gue sama sekali nggak bersahabat. Nggak usah ditanya kenapa, karena jelas jawabannya cuma satu—Mama. Gue nggak setuju kalau Lucky mengizinkan Mama ikut tinggal di sini sama kita. Mau itu sementara atau nggak, gue nggak mau. Gue nggak peduli. Mama aja tega ninggalin gue dari kecil, kenapa gue nggak bisa tega sama Mama? Dia punya banyak pacar, kenapa nggak dia datangi aja mereka-mereka. Siapa tahu salah satu dari mereka memberi Mama tempat tinggal dan makan gratis. “Digigit nyamuk!” Mama berujar ketus. “Kalian nggak mau pasang AC, gitu? Terus, Mama lihat suami kamu tadi cuci baju nggak pake mesin cuci." Baru aja gue bilang, kan. Udah keluar sifat aslinya begitu ditinggal berdua sama gue doang di kamar. “Ranjang kalian minta diganti. Ini sempit, banget.” Mama mengoceh menepuk-nepuk kasur yang dia duduki. “Kontrakan kalian juga kecil banget. Nggak mau pindah ke rumah yang lebih besar? Paling nggak, punya tiga atau empat kamar!" Gue menutup novel dipangkuan, menolehkan kepala ke samping, menatap Mama, tajam. “Mama numpang cuma sementara, kan?” Raut wajah Mama berubah masam. Yang tadinya ngoceh panjang lebar sambil memasang wajah judes, sekarang berubah mendung. Sok, dramatis. Dikira FTV Azab, kali. “Kalau Mama mau tinggal di sini, ya terima aja. Mau banyak nyamuk kek, ranjangnya kecil, kek. Rumah ini kecil kek, atau apa pun yang Mama keluhkan. Kalau Mama nggak suka, Mama bisa pergi sekarang!” “Pita...,” Tai. Air mata buaya. “Lebih baik Mama nggak usah banyak berkomentar kalau masih mau tinggal di sini," kata gue, terdengar seperti mengancam Mama. *** Gara-gara ada Mama, gue sama Lucky tidurnya harus pisah. Lucky tidur di kamarnya Aree. Waktu Lucky menjelaskan kalau Mama gue bakalan tinggal sementara di sini, Aree langsung nanya, Mama gue mau tidur di mana? Sedangkan di rumah ini cuma ada dua kamar doang. Lucky bilang, “Tidur di kamar gue sama Pita. Gue numpang tidur di kamar lo.” Aree langsung memberi respons. “Ogah!” Gue sama Lucky jadi bingung. Aree paling pelit banget kalau soal berbagi kamar. Jangan kan sama Lucky, sama Douvan aja, adeknya sendiri, Aree nggak mau. Malah nyuruh Douvan tidur di meja makan aja katanya. Bangke, Aree! Lucky terus membujuk Aree dengan berbagai macam rayuan. Mau mengerjakan tugas-tugas Aree sebagai gantinya, mau membuatkan sarapan sampe Mama gue pergi dari rumah ini. Aree nggak langsung menjawab, mengangguk-anggukkan kepalanya, terus senyum-senyum nggak jelas. “Ya udah," katanya. “Tapi sementara! Lo tidur di lantai.” “Jahat banget lo, bule KW!” seru gue memukul kepala Aree, kesal. “Ya udah, iya.” Lucky pun mengalah. Pukul jam sebelas malam lewat gue keluar kamar. Gue nggak bisa tidur karena ada Mama, atau mungkin nggak ada Lucky di samping gue. Gue menarik kursi makan lalu duduk di sana sembari bertopang dagu. Mata gue rasanya berat banget kalau diajak melek, tapi nggak bisa tidur. Gue males, mood juga ambyar banget. Gue berharap Mama nggak terlalu lama di sini. “Pit, kok, di sini?” Lucky keluar dari kamar Aree, cowok itu mengenakan kaus abu-abu dan celana training berwarna hitam. “Luckyyyy,” Gue mengulurkan kedua tangan ke depan bak anak balita yang ingin digendong. Lucky menghampiri gue, ketawa receh kayak biasanya. Gue memeluk pinggangnya dari samping, mencebikkan bibir sok ngambek sama Lucky. Padahal, gue cuma kangen aja sama dia. Gimana ya, gue udah mulai terbiasa apa-apa sama Lucky. Tidur sama Lucky, makan sama Lucky, pokoknya apa pun gue lakukan bareng cowok itu. Lucky menepuk-nepuk kepala gue pelan. “Kenapa belum tidur, sih? Biasanya jam segini udah merem.” Gue mengangkat wajah, lalu bergumam, “Nggak bisa tidur." Lucky ketawa lagi, jari-jarinya mengelus rambut gue. “Mau banget gue tidurin?” ledeknya. Refleks gue memukul lengan Lucky yang menyentuh bahu gue. “Gue nggak lagi bercanda.” “Gue juga lagi serius,” bisik Lucky di telinga gue. Gue menarik tangan dari pinggang Lucky, menatap cowok itu selama beberapa detik. “Ya kali, Ky. Emang mau main di mana? Kamarnya pada diisi, tuh.” Satu jari gue menunjuk ke kamar kita sama Aree. “Apartemen Bang Lakka kosong,” gumam Lucky, terdengar seperti lagi bercanda. Yang gue tahu, Bang Lakka lebih sibuk di luar setelah putus sama Kak Chua. Nggak jarang Bang Lakka nongkrong sama temen-temennya ketimbang pulang dan istirahat di apartemennya. “Ayo,” Lucky menggandeng tangan gue. “Ke mana?” tanya gue ke Lucky. “Ke apartemennya Bang Lakka!" Lucky nyengir lebar. Gue beranjak dari kursi makan dan menatap Lucky nggak percaya. “Lo seriusan mau ngajak gue ke sana?” Lucky mengangguk-anggukkan kepala. “Iya," jawabnya. “Emang, lo bisa tidur tanpa gue?” bisiknya di telinga gue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN