Belajar Memasak

1196 Kata
"Eh, penganten baru udah kerja aja." Imam tersenyum saat disapa salah satu pelanggann yang datang. "Ya harus. Buat masa depan." "Mau nambah angin nih, Mam. Kempes ban belakang." "Iya, boleh. Wan, nambah angin katanya." "Iya, A." Wawan adalah nama pekerja yang membantu Imam. Usianya jauh lebih muda. Laki-laki itu menunda sejenak memasangkan skotlet pada motor, menyiapkan selang ngin dari dekat kompresor kemudian memompa ban motor pelanggann yang sangat mengenali Imam. Imam sendiri sedang melayani satu pembeli yang memilih jenis sparepart di dekat etalase. Ada beberapa motor lain yang berjejer antre diperbaiki di luar. "Makasi, Mam." Orang tadi berseru lagi saat ban motornya selesai di isi angin. "Sama-sama." Dia lalu pamit setelah membayar tarif pada Wawan. Pemuda itu menyerahkan lagi uangnya pada Imam. Wawan kembali melajutkan memasangkan skotlet yang ditunggui satu orang sebaya dengannya. Sementara Imam bersiap mengganti lampu motor bagian depan pelanggann yang rusak. Seperti itulah kegiatan Imam. Dia berbaur dengan motor-motor yang datang dan peralatannya. Harga lebih murah membuat bengkel tersebut ramai pengunjung. Imam pintar memilih supplier yang tepat untuk semua onderdil yang dibutuhkan, hingga bisa memberi harga terjangkau. Juga karena tidak adanya beban bayar sewa. Dulunya Imam seorang mekanik di bengkel resmi kemudian resign membuka bengkel sendiri dan sudah berjalan lebih dari lima tahun. Teman-teman Imam sering menyervis motornya ke sana, juga keluarga dan tetangga. Pengunjung selewat juga kerap ada yang datang. Ganti oli, ganti kampas rem, ngisi angin, dan lain-lain, ada saja. Salsa kesal sendiri berada dalam kamar Imam. Gadis itu tampak bosan menscroll media sosial di ponselnya sambil bersandar pada besi ranjang, kemudian mengamati sekitar. Keningnya mengeryit tidak menyukai dekorasinya. Cat warna abu, juga beberapa poster motor. Salsa baru menyadarinya sekarang. "Padahal, dulunya A Mpi pernah mondok juga. Kok kamarnya malah begini." Bibir gadis itu manyun sedikit. Kemudian dia termenung sejenak seperti teringat sesuatu. "Oh, iya, dia kan sekarang punya usaha bengkel. Hmm ... kirain mau jadi hafiz atau ustad." Gadis itu lalu teringat pada impiannya. Rasanya dia ingin cepat masuk kampus. "Hadeeh, gak bawa laptop lagi. Belum daftar SBMPTN. Harus secepatnya ini. Berkas persyaratannya udah kusiapin jauh-jauh hari di rumah." Dia melihat pada ponsel dalam genggaman. "Kurang enak lewat hape rasanya. Tapi, dicoba dulu deh." Salsa duduk bersila mengambil bantal di pangkuan. Kemudian mengotak-atik ponselnya mencari laman web yang dituju. Wajahnya mulai serius mau mengisi data pribadi sebagai calon mahasiswa. "Sa, Salsa." Baru mengetik nama di kolom kotak Salsa dikejutkan dengan suara Ibu mertunya juga ketukan pintu. "Ya, Bu." Salsa menyahut. Dia buru-buru bangkit menunda ponsel di seprai dan membuka pintu. Rasidah berdiri di hadapannya. "Ikut Ibu ke warung, yuk. Beli sayur, kita masak buat makan siang Imam." "Oh, i-iya, Buk." "Ibu tunggu di luar, ya." Rasidah pergi. Salsa menghela napas. Dia melirik ke belakang sekilas, pada ponselnya yang tergeletak. Terpaksa menunda mendaftar online. Kemudian menyusul Ibu mertua. "Ke mana, Bu?" Satu Mbak-mbak sedang menyapu di teras petak kontrakan menyapa saat Salsa dan Rasidah lewat. "Biasa, ke warung," jawab Rasidah. Pertanyaan itu ditunjukkan padanya. Salsa sedikit malu diperhatikan orang-orang yang kebetulan berada di luar kontrakan empat pintu itu. Mereka menyapa hal sama, ada yang menanyakannya juga sebagai menantu. Begitu pun dengan penghuni rumah sebrangnya. Mereka tersekat jalan yang tidak begitu besar. "Mm ... Rani di mana, Bu? Kata A Mpi diem di salah satu kontrakan Ibu juga." "Iya. Tapi, bukan di deretan yang tadi." "Oh, masih ada lagi?" Rasidah tersenyum. "Hanya tiga pintu. Belum lama dibangun. Masih di sekitar sini." "Oh ...." Salsa tidak begitu hapal. Hanya empat kontrakan tadi yang berdampingan dengan rumah orang tua Imam. Dan dari dulu dia tahu itu. "Wah, Bu Rasidah datang sama menantu nih." Mbak pemilik warung sayur pun menyapa hal sama pada ibu mertua Salsa saat mereka datang untuk berbelanja. "Iya, Mbak. Biar si mbak tau." "Begitu. Eh, cantik." "Perempuan pasti cantik, Mbak." "Namanya siapa, Neng?" "Salsa." "Tuuh, namanya juga cakep. Pintar si Imam nyari calon istri, ya." Pipi Salsa bersemu merah, tak henti tersenyum. Rasidah juga sama tersenyum. "Masih kerabat, Mbak. Bukan orang jauh." "O ... baguslah biar makin erat tali silaturahminya." "Iyaa." "Eh, gak ke pasar emangnya, Bu?" "Gak, mau ke Mbak aja deh belanjanya yang lebih deket." "Kirain. Pasar juga gak jauh-jauh amat dari sini. Oke deh kalo gitu. Beli sayur apa Bu Rasidah?" "Sebentar milih dulu." "Silakan." Rasidah mengambil dua ikat kangkung segar dan tempe. Menantunya ikut menyentuh sayur-sayur yang tersedia. "Kita numis kangkung aja, ya, Sa. Sama goreng tempe bacem." "Terserah Ibu." "Ayam ungkep masih ada di kulkas tinggal goreng. Ditambahin beli ikan aja kali ya, bisa buat sore." "Iya." Salsa tidak berani berkata banyak selain menurut saja. Tidak biasa belanja sayur. Di kediaman orang tuanya, semua Masitah yang urus hingga matang. Salsa belum bisa masak. Sekarang pun dia kebingungan bagaimana saat di dapur bersama Ibu mertuanya sepulang dari sini? Di perhatikannya lagi Rasidah yang mengambil ikan etem di plastik mengumpulkan dengan sayur pilihannya. "Mbak, cabe, bawang, tomatnya, dibungkusin lima ribu ya." Rasidah juga membeli bumbu. "Siap, Ibu." Si mbak langsung mengambilkan pesanannya. Membiarkan dua pembeli lain masih memilih-milih jenis sayuran. "Buat nambahin yang di rumah takut gak cukup cabe bawangnya. Buat bikin sambal juga. Yang gitu-gitu tuh cepet abis dari pada kunyit, lengkuas, atau jahe." Rasidah berceloteh. Salsa yang mendengarkan mengangguk merespon. Padahal dia belum hapal lengkuas seperti apa. Yang dia tahu kunyit sama jahe. Keningnya pun sedikit mengeryit memikirkan satu jenis itu. Dia juga tidak tahu bumbu mana yang cepat habis. "Tambahin penyedap rasa ayam deh dua, Mbak." Si Mbak mengambilkan tidak jauh di atasnya yang menggantung. "Apalagi?" "Udah, Mbak. Jadi berapa?" Mbak itu pun menghitung semua belanjaan Rasidah memasukkannya dalam plastik satu persatu. Rasidah membayar tanpa menawar. Setelah mengambil kembalian dia dan Salsa pun pamit. Salsalah yang menjinjing plastik belanjaan. Walau risih dia harus lakukan. Apa kata orang jika Rasidah yang membawanya? Gadis itu sedikit berpikir. Sepanjang perjalanan ke rumah, Ibu Mertua terus mengajak mengobrol, Salsa menimpali sambil tersenyum. Mereka langsung masak. Belanjaan tadi langsung dieksekusi di dapur. Daun kangkung sudah dipetik. Tempe sudah dipotong-potong dan di rendam di wadah berisi air penyedap rasa. Salsa menggoreng ayam. Gadis itu ketakutan, tapi ditahan. "Aw!" Terlonjak saat minyak panas sedikit mengenai tangannya. Dia mengusap-usapnya cepat menunda sodet. "Hati-hati, Sa." Rasidah sedang mengiris bumbu pada talenan. Salsa memberanikan diri kembali membalikkan ayam gorengnya. Minyak mengenai tangannya lagi diiringi suara letupan cukup kencang yang mengagetkan. Gadis itu menjerit kembali, bahkan langsung menghindar. Rasidah menunda kegiatannya segera menghampiri menantunya itu. Dia mengambil alih tugasnya membalikkan dengan mudah ayam-ayam di wajan. Tanpa takut atau ragu. Salsa diam memperhatikan di belakang. Rasanya ingin menangis. Dia ingat Ibunya lagi. Di sini tidak nyaman. Terpaksa menjalani apa yang dia belum bisa. Harus gesit dan mau bantu ini itu. Salsa tidak kepikiran sama sekali untuk hidup seperti ini dulu. Sungguh. "Tangan kamu gak apa-apa kan?" Rasidah berbalik. Salsa berusaha tersenyum dan menggeleng. Namun, Rasidah seperti mengetahui. Dia menghela napas. "Kamu belum bisa masak, ya? Maafin Ibu, sudah minta bantu-bantu." "Gak apa-apa kok, Bu. Belajar ... biar bisa kan." Rasidah lalu tersenyum mendengarnya. Gadis semuda dia tentu memasak belum mahir. Apalagi Salsa kebanyakan diam di asrama moderen. Makan tinggal makan, tersedia. Tanpa repot-repot masak dulu. Dia mengusap pipinya sekilas. Kemudan menggoreng ayam kembali. Air mata Salsa luruh perlahan. Pura-pura baik-baik saja tidak enak. Rasanya dia ingin pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN