Istana Musim Semi, meskipun dinamai demikian, bukan hanya dihuni oleh wangi bunga dan sinar mentari hangat. Di balik dinding-dinding marmer dan taman-taman berbunga, ada ruang-ruang dingin tempat para bangsawan bertukar senyum… dan saling menjatuhkan.
Setelah peristiwa kebocoran skema distribusi, nama Alerina mulai lebih sering dibicarakan — bukan hanya oleh anak-anak bangsawan muda yang kagum, tapi juga oleh mereka yang lebih tua, lebih berpengaruh, dan lebih licik.
“Anak itu terlalu cepat berkembang,” ujar Viscount Edevan dalam sebuah jamuan rahasia. “Dan terlalu dekat dengan Putra Mahkota.”
“Aku dengar dia mulai mengatur jalur pasokan madu dan gandum dari timur,” tambah Countess Mirelle, menyipitkan mata. “Kalau dibiarkan, dia akan punya jaringan dagang lebih kuat dari sebagian besar keluarga di dewan ekonomi.”
“Dia masih anak-anak,” kata satu suara netral — suara yang akan segera diabaikan.
Karena Alerina mungkin masih berusia lima tahun, tapi pengaruhnya sudah melampaui usianya. Ia bukan sekadar ‘teman bermain Cael’ lagi. Ia mulai dianggap ancaman.
Dan ancaman, di istana, tak pernah dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.
Suatu pagi, saat Alerina sedang memberi instruksi pada beberapa anak bangsawan lain di taman belakang istana — membagi tugas untuk proyek penyulingan air bersih bagi wilayah pinggiran — seorang wanita muncul. Tidak diundang, tidak diperkenalkan.
Wanita itu tinggi, anggun, dengan gaun hijau zamrud dan rambut keemasan digulung sempurna. Di balik senyum lembutnya, ada dingin yang membuat Alerina menggenggam rok kecilnya lebih erat.
“Aku Lady Seraphina Lorthen,” ujarnya, menunduk dengan gerakan yang terlalu sempurna. “Dewan kerajaan mengutusku untuk mengawasi perkembangan para murid baru… khususnya mereka yang memiliki bakat luar biasa.”
Cael yang baru datang dari arah paviliun, langsung berdiri di sisi Alerina. Wajahnya tenang, tapi dagunya sedikit terangkat. Sikap protektifnya membuat Lady Seraphina tersenyum miring.
“Yang Mulia, tentu Anda tahu bahwa tak semua bakat membawa kemakmuran. Beberapa justru membawa… perubahan yang mengguncang tatanan.”
“Kemajuan selalu mengguncang tatanan,” jawab Cael pelan. “Tatanan yang takut berubah, biasanya yang paling mudah runtuh.”
Lady Seraphina tertawa kecil. “Pandangan yang berani… dari anak seusiamu.”
Alerina hanya menatapnya. Ia tahu orang semacam ini. Di dunia lamanya, mereka duduk di balik meja, memakai jas mahal, menyebut ‘bakat’ sebagai komoditas, dan ‘inovasi’ sebagai ancaman jika tidak bisa dikendalikan. Mereka tak butuh alasan — cukup melihat siapa yang mulai tumbuh, lalu mencabutnya sebelum terlalu kuat.
Hari itu, Alerina menambahkan satu halaman di buku catatannya: Daftar Pengamat dan Lawan Terselubung.
Ia tak takut. Tapi ia juga tak bodoh.
Ia mulai memperketat catatan. Tidak semua anak bangsawan lagi yang bisa masuk ke ruang eksperimen. Ia membagi kerja ke dalam modul — satu tim hanya tahu satu bagian dari rancangan. Dan untuk proyek besar berikutnya, hanya ada tiga orang yang tahu keseluruhan: dirinya, Cael… dan seorang anak dari akademi teknik sihir bernama Thalien, yang akan segera datang sebagai murid pertukaran.
Di malam harinya, Alerina berdiri di balkon kamarnya, menatap langit yang penuh bintang.
“Ibu,” bisiknya, entah pada siapa. “Kalau aku terus melangkah, akan ada banyak yang mencoba menghentikanku. Tapi aku tidak akan berhenti. Karena aku ingin menciptakan dunia yang tidak membuat anak-anak harus memilih antara mimpi dan kelangsungan hidup.”
Di bawah cahaya rembulan, mata kecil Alerina tak lagi seperti anak-anak.
Mereka sudah menjadi mata seorang pemimpin yang baru saja sadar… bahwa langkah berikutnya akan membawa pertempuran yang lebih sunyi, tapi lebih dalam.
---