Bab 2: Api Kecil dalam Jiwa yang Lahir Kembali

573 Kata
Waktu berlalu seperti aliran sungai musim semi — tenang di permukaan, tapi menyembunyikan arus deras di bawahnya. Dalam tubuh mungil bayi bernama Alerina Elvanora Eldevira, bersemayam jiwa yang telah melewati dua kehidupan: satu sebagai mahasiswa sains yang mati muda karena ambisi, dan satu lagi… sebagai putri bangsawan di dunia yang memuja sihir dan darah biru. Dunia ini — Kerajaan Evandria — bak potongan lukisan dari dongeng yang terlupakan. Langitnya membentang luas dengan semburat ungu kala senja, hutan-hutannya berbisik dengan nyanyian roh, dan bintang-bintangnya... menari. Tapi bagi Alerina, yang paling memesona bukanlah sihir, melainkan potensi — potensi untuk menciptakan, mengubah, dan melampaui batas takdir yang diwariskan. Ia tak mengingat suara maut yang membawanya ke dunia ini, hanya rasa berat yang perlahan berubah menjadi ringan saat napas barunya dihembuskan. Sejak mampu membuka mata dan menggenggam, ia tahu: dirinya tak dilahirkan untuk menjadi gadis bangsawan yang patuh dan diam. Ia mencermati. Merekam. Menganalisis. Di saat bayi lain tertarik pada kilau manik-manik, Alerina terpikat pada bias cahaya lewat gelas air. Saat anak seusianya sibuk mengeja nama mereka sendiri, ia sudah mempertanyakan mengapa air mendidih dan bagaimana panas bisa berpindah. Ia menyusun kalimat dewasa dengan lisan mungilnya, mengejutkan siapa pun yang mendengarnya. “Putri kecil kita senang bermain laboratorium, ya?” menjadi candaan yang berulang di antara para pelayan. Tapi ketika ia mulai meminta air hujan pagi, serbuk dari bunga yang hanya mekar saat bulan purnama, atau paku tua berkarat, sebagian mulai resah. “Anak ini… bukan biasa,” gumam mereka. “Atau mungkin… titisan sesuatu.” Namun Alerina tak peduli. Ia menemukan ruang kosong di sayap timur kediaman Eldevira — gudang berdebu dengan jendela kecil. Tempat itu menjadi pelariannya, tempat di mana suara dunia meredup dan pikirannya menjadi terang. Di sanalah ia mendirikan laboratorium kecil dengan bantuan Leon, seorang bocah pelayan yang penasaran dan setia. Leon tak mengerti banyak, tapi matanya bersinar setiap kali Alerina menjelaskan sesuatu dengan semangat. “Kalau kita panaskan ini dan campurkan serbuk tulip hitam, mungkin bisa menghasilkan uap yang menurunkan suhu udara!” “Penye… apa, Putri?” “Penyejuk!” katanya sambil tersenyum lebar. “Seperti angin malam di musim panas.” Hari demi hari, tawa dan ledakan kecil mewarnai ruangan itu. Alerina tak hanya bermain eksperimen — ia membangun identitas. Tanpa sadar, namanya mulai beredar di kalangan anak bangsawan muda. Anak-anak keluarga terpandang datang — penasaran, lalu terpikat. Edric, dengan jubah mewah dan ketertarikan pada warna. Ruhan, yang selalu membawa cerita dari utara. Dan seorang anak laki-laki, berbeda dari yang lain — berambut perak terang, mata keemasan dingin… dan tanpa pengawal. Namanya Cael. Ia duduk diam, tak menyela, hanya mengamati. Tapi saat ledakan kecil dari campuran Alerina menyembur keluar dan membuat rambutnya mekar seperti singa, Cael tertawa. Suara jernih, nyaris asing — dan entah kenapa… menghangatkan udara di antara mereka. “Namaku Cael,” ujarnya setelah semua tenang. “Aku ingin belajar bersamamu.” Alerina mengangguk. Ia tidak tahu siapa dia. Tapi ia tahu matanya… menyimpan rasa penasaran yang sama. Seminggu kemudian, kereta kerajaan berhenti di depan rumah keluarga Eldevira. Ksatria berpakaian resmi turun dan menyampaikan pesan. “Yang Mulia Putra Mahkota menyampaikan salam. Ia telah memilih Lady Alerina sebagai rekan belajarnya di Istana Musim Semi.” Cangkir teh Lady Miriane jatuh dan pecah di atas lantai marmer. Para pelayan tercekat. Lord Elric menatap lekat-lekat anak perempuannya seakan melihatnya untuk pertama kali. Alerina hanya menatap langit dari jendela laboratoriumnya. Angin membawa aroma musim baru. Ia tahu, ini baru permulaan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN