BAB 5 : ADU KATA

1429 Kata
Kini keempat orang dewasa itu sudah duduk di masing-masing tempat duduk, wajah Galeo memancarkan kecemasan sedangkan Nada sudah semakin gemas. Ia teringat dengan salah satu wasiat Nadi sebelum dia berpulang, meski bukan tertulis secara hitam di atas kertas hanya berupa lisan itu bukannya juga sebuah wasiat? Awalnya Nada memang memikirkan wasiat Nadi itu konyol karena Nada rasa itu tak akan mungkin. Mengingat hubungan Galeo dan Nada seperti bagai minyak dan air. Tak banyak keduanya bertegur sapa seperti layaknya kakak pada adiknya, mereka lebih sering merasa canggung dan berakhir menghindar. Sebisa mungkin Nada memang ingin menghindar di keberadaan Galeo disaat Nadi masih hidup, karena hatinya tak cukup kuat melihat raut bahagia keduanya. Dan sekarang Nada mengumpulkan kedua orangtuanya dan juga meminta kehadiran Galeo karena sebuah keputusannya yang sudah matang-matang ia pikirkan. Membayangkan Aira akan mendapat ibu baru membuat Nada tak rela melepaskan Aira juga dan keegoisannya kemarin tak masuk akal, ia terlalu kesal karena keadaan seakan membaliknya dengan begitu drastis. “Mama, Papa—Maaf Nada meminta waktu kalian sebentar untuk mendengar keputusan yang Nada pilih.” ujar Nada dengan kehati-hatian “Nada sudah memikirkan ini beribu-beribu kali pertimbangan semoga keputusan Nada ini menjadi hal yang membuat Papa dan Mama lega—dan Mama tidak menangis diam-diam saat menggendong Aira.” “Nada—“ “Lanjutkan, Nak. Kami akan mendengar keputusanmu,” potong Bachtiar dan Nada pun mengangguk “Nada menerima wasiat yang dikatakan Nadi Ma, Pa—bukan semata-semata Nada mengambil kesempitan dalam kesempatan karena keputusan ini Nada ambil dengan segala keputusan yang memang tidak mudah—membatalkan hubungan dengan Mas Mahendra dan Nada memilih untuk mengurus dan menjaga Aira,” ujar Nada penuh dengan keseriusan “Saya tidak setuju.” potong cepat Galeo “Dimananya kamu tidak bisa setuju Galeo?” tanya Bachtiar “Istri saya tetap Nadi, Pa.” “Oke terserah dengan kata Abang mau tetap mencintai Nadi atau tak mencintai Nadi—karena disini aku menjalankan pesan Nadi yang menyuruhku untuk menjaga Aira—ponakaanku yang mau Abang bawa pergi dari keluarga ini maka dari itu aku menyetujui rencana pernikahan antara aku dan kamu agar Aira tidak Abang bawa pergi, paham!” gemas Nada pada Galeo “Pembicaraan macam apa ini!” gerutu Galeo lagi “GALEO PAMUNGKAS PRADIPA, SAMPAI KAPAN KAMU AKAN MENJADI MANUSIA KERAS KEPALA?!” “Mami?” “Apa?! Masih mau egois juga kamu, anakmu saat ini masih kecil Galeo ia masih membutuhkan sosok ibu dalam hidupnya. Tolonglah kamu ini pikirkan anakmu juga.” tembak Bilqis dengan berapi-api “Mami tahu kamu mencintai Nadi tapi tolonglah Nak semakin terbelenggu pada masa lalu juga tak baik, ini bukan berarti Mami tak sayang sama Nadi, Mami sayang sama Nadi cuman Nadi sudah bahagia disana,” ungkap Bilqis lagi “Mi, ini tak gampang—“ “Mudah, kalo kamu menurut—atau lebih baik kita langsung nikahkan saja mereka, gemas saya ini Jeng Mila dan Pak Bachtiar.” Putus Balqis geram “Mamii!” “Tantee,” “Benar juga Jeng, awas ya kalian nanti kalo sudah kami nikahkan terus malu-malu tapi mau,” “Jadi bucin tahu rasa—awalnya nolak-nolak akhirnya Mau aja.” Dan perkataan dua kaum hawa berbeda generasi dengan Nada itu sukses membuat Bachtiar, Nada dan juga Galeo menggelengkan kepala heran. Dinikahkan secara paksa?  Ini bukanlah cara yang Nada idamkan. Sungguh. ΩΩΩ Nada menimang Aira dalam gendongannya, bayi mungil nan cantik itu dengan tenang tertidur di pelukkan hangatnya. Aira Zahra Pradipa, putri kecil Nadi ini begitu cantik dengan lesung pipit yang masih samar terlihat. Bagaimana mungkin Nada mengikhlakan bayi mungil ini di bawa bapaknya entah kemana tanpa tujuan pasti, Nada menyadari, Aira memang anak kandung Galeo namun cara Galeo memutuskan suatu hal terasa konyol. Membawa bayi sebegini mungil apa dia bisa? Mengurusi dirinya saja masih kerepotan maka dari itu Nada mengalahkan hatinya untuk memilih mempertahan Aira dan mengakhiri hubungannya dengan Mahendra. Ngomong-ngomong tentang Mahendra laki-laki itu dua hari ini memang tak mengganggu kegiatan Nada namun begitu bukan berarti Nada lengah tenang, tidak. Nada yakin Mahendra tak akan tinggal diam, dengan kejadian kemarin sungguh Nada tak pernah menyangka. “Nada?” panggil sang Mama “Iya Ma, kenapa?” “Aira sudah tidur?” “Udah baru aja—dia cepet kalo tidur.” Nada sembari memperlihatkan Aira yang pulas “Semoga setelah ini, hidupmu semakin bahagia ya, Nak.” “Mamaaa—Nada malah maunya lihat Mama dan Papa bahagia.” “Terima kasih sudah menyingkirkan egomu demi Aira—keponakaanmu, maaf Mama dan Papa merepotkanmu, Nada.” sendu Mila “Enggak ada yang merepotkan Mama, ini bakti Nada kan—karena Mama dan Papa sudah begitu adil memberiku kasih sayang pada Nadi dan juga Bang Javier, terima kasih Ma,” “Ugghh! Kenapa jadi nangis begini—sini peluk Mama,” “Sebentar Nada taruh Aira dulu di boxnya.” Kemudian Nada masuk dalam pelukan hangat Mila, ibu yang begitu luar biasa untuk Nadi, wanita terkuat yang pernah Nada temui, wanita yang sudah begitu sudi merewatnya sebegitu baik. “Nanti kalo sudah nikah, sering-sering kesini ya—anak Mama tinggal kamu sama Jaja.” “Ihhh—Mama ngomongnya gitu—kan selagi Aira masih bayi kita akan tetep disini kok emangnya mau kemana?” tanya Nada “Ikut suamimu ke rumahnya—harus nurut ya nanti kam—“ “Wessss! Ada acara apa nih, kok pake peyuk-peyuk Jaja enggak di ajak.” “Husshh—suara kamu itu di kecilin dong Bang, keponakaanmu lagi tidur.” “Abis Jaja enggak di ajakin Mama meluk,” ngambek Javier “Sini—“ pinta Mila Dan akhirnya mereka berpelukan bersama, Mila begitu bahagia memiliki anak-anak seperti mereka dan juga Nadi putri yang sudah mendahuluinya pergi. Sekarang apapun akan Mila usahakan untuk kedua anaknya seperti kebahagiaan mereka berdua. ΩΩΩ “Nad?” panggil Javier “Kenapa Bang?” Nada mengalihkan perhatiannya dari menata baju Aira “Gue denger—lo setuju nikah sama Galeo?” Nada menghela nafas lelah, pertanyaan ini lagi. “Iya Bang,” “Soal Mahendra?” “Aku udah mengakhiri hubunganku sama dia—“ “Alhamdulillah—eh terus itu pergelangan tangan lo kenapa?” kepo Javier “Oh ini? Enggak kenapa-napa Bang cuman gosong biasa.” Nada mencoba menyembunyikan “Bohong!” tebak Javier “Siapa yang lukain adik gue, ngomong!” “Panjang Abang ceritanya ih—berantem dikitlah sama Mahendra terus untung Bang Galeo ada terus nolongin.” jelas singkat Nada “Tapi Abang jangan asal balas nonjok lagi ya—kekuatan karate Abang cukup buat ngajarin murid-murid Abang aja,” pinta Nada “Hahh—ya udah kalo dia macem-macem bilang ke Abang, biar Abang gibeng.” Emosi Javier “Iyaaa siapp—mending sekarang Abang temenin Nada jaga Aira gimana, gantian begadangnya.” Pinta Nada dengan mata dikedip-kedipkan “Ck! Iya-iya—gue bawa game gue ya,” “Iya, asal nggak berisik aja Abang.” Mempunyai Abang seperti Javier menjadikan ia sebagai adik yang begitu ia lindungi, selain Nadi yang selalu melindunginya Javier juga menjadi sosok penjaga untuk keduanya. ΩΩΩ Galeo tak bisa diam saja dengan apa yang dikatakan Nada beberapa hari lalu, bahkan ia mendapat ancaman pada sang Ibu bahwa ia akan membawa Aira pergi bersamanya bila Galeo masih saja egois dengan keadaan mereka. Masalahnya Galeo enggan mendapat pikiran negatif dari orang-orang sekitarnya. Mengetahui istrinya baru saja meninggal kenapa ia begitu cepat kembali memutuskan menikah padahal saja Nadi meninggal belum ada 40 hari setelah kepergiannya, ia bukan tipe laki-laki yang mengharuskan ia segera mendapat pendamping tidak. Overthingking Galeo benar-benar parah, apalagi menyangkut kelanjutan hidupnya bersama Aira. Apa harus ia menerima juga rencana konyol ini—menikah dengan saudara kandung istrinya? Pernikahan ini lebih pantas di sebut pernikahan turun ranjang. Galeo mengerang keras, menghela nafas sesak. Ia benar-benar didesak sang Mami dan juga Mama mertuanya. Menerima Nada juga tak akan membuat Galeo menyesal kata mereka, memang selama Galeo mengenal Nada namun bukan akrab, ia menilai Nada adalah perempuan dengan penuh keibuan jadi siapapun yang memilikinya sebagai ibu, anak itu begitu beruntung apalagi Nada adalah guru Taman Kanak-Kanak . “Le, dari pada lo berulang kali ngehela nafas begitu mulu, mending lo pergi kemana kek—pusing gue dengernya, mau istirahat gue.” kesal Sean siang itu “Sean—pas lo mau nikah lagi perasaan lo gimana?” “Ya seneng—tidur ada yang nemenin lagi, enggak tidur sendirian,” jawab Sean dengan datar “Bukan itu maksud gue—maksud gue, saat lo mutusin buat nikah lagi apa juga mikirin diri lo sendiri.” “Gue ngerasa belum siap aja, takut yang lalu keulang lagi—emang kenapa deh lo nanya begini aneh amat?” tanya Sean dengan ingin tahu “Galeo kan di suruh kawin sama adik gue Sean,” nimbrung Javier “Kambing! Nyantol aja lo—“ “Yang stress nggak cuman lo ya Le, adik gue juga sama-sama stressnya.” imbuh Javier  “Apalagi lo tahukan demi pernikahan ini dia lebih milih putus sama Mahendra—“ “Mahendra yang badannya sebabon itu?” Sean ikut menimbrung “Iya—mana berani-beraninya dia main kasar sama Nada,” “Gue cabut dulu!” potong Galeo Membuat kedua sahabatnya sukses melongo dengan apa yang di lakukan Galeo barusan “Kayaknya dia kena syndrome bingung, Sean.” Sean menggedikkan bahunya tenang. “Bentar lagi dia juga bakal jadi bucin,” jawab Sean dengan malas “Kek lo dong—hahahahaha—“ “Anjritttt!” ΩΩΩ Galeo sudah berada tepat di depan sekolah dimana Nada berkerja—Galeo harus membicarakan lebih lanjut tentang pernikahan konyol ini. Galeo saat ini benar-benar berada di batas kebingungan. Apa harus ia menerima pernikahan ini dengan setengah hati? Apa harus ia kembali melukai dua orangtuanya dengan berharap pernikahan ini tetap berlanjut. Bila di telisik kembali—bila di pikir-pikir lagi memang benar ia terlalu egois terutama pada Aira putrinya , ia hanya menikahi Nada bukan menyerahkan seluruh hidupnya. Namun Galeo lupa bahwa karma akan tetap ada—seacuh apapun Galeo pada keadaan bila Tuhan sudah berkehendak ia jatuh cinta ia bisa apa? Lari? Bisa namun semakin gila dan kepikiran. “Nada—aku sudah ada di depan sekolah—emm—bisa kita bertemu sebentar.” Pesan Galeo pada sambungan teleponnya “Bi—bisa Bang—Nada keluar sekarang.” Nada menatap layar ponselnya yang kembali meredup apa artinya Galeo menyetujui rencana pernikahan ini? Entahlah yang terpenting ia harus keluar dulu dari ruangannya dan bertemu Galeo. ΩΩΩ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN