Bab 3: Gadis Keripik

1767 Kata
Melihat keramaian yang ada di hadapannya membuat Khafi menghela napas. Dia tidak tahu mengapa harus menuruti keinginan Barra untuk menemani. Bertemu dengan orang banyak tanpa kepentingan seperti ini bukan kebiasaan Khafi. Dia bukan anti sosial, tetapi jika hanya bersenang-senang, untuk apa bertemu dengan orang-orang itu. Bagi Khafi, melakukan persentase di depan klien bukan hal sulit. Dia juga terbiasa tampil di depan umum untuk berbagai lomba saat sekolah dan kuliah. Berbicara di hadapan orang banyak sama sekali bukan masalah. Lain halnya jika berada di tengah keramaian tanpa ada tujuan. Itu hanya membuang waktu. Yang aneh, Barra entah bagaimana bisa memengaruhi Khafi kali ini. Mata Khafi menjelajahi sekeliling, melihat orang yang lalu-lalang dengan membawa setumpuk buku di tangan. Kalau saja ada yang bisa dibeli, dia akan sangat senang. Membaca adalah hal yang dia sukai, tetapi tidak dengan fiksi. Tumpukan buku yang ada hanya menampilkan berbagai buku fiksi. Khafi mengenal beberapa pengarang meski belum pernah membaca isinya. Ini karena ketika sekolah ada pelajaran Bahasa Indonesia yang mengharuskan dia membaca karya fiksi. Sekadar itu. Dia tidak pernah benar-benar mau membacanya. Cerita fiksi hanya bacaan bagi orang-orang yang tidak berkepentingan. Itu pandangan Khafi. Dia tidak mengerti mengapa orang suka membaca kisah yang jelas-jelas tidak nyata itu. Ditambah lagi mereka banyak meniru apa yang mereka baca. Padahal belum tentu yang ditulis itu adalah perkara baik. “Aku pikir kamu tidak akan datang,” ujar Barra sambil merangkul pundak Khafi. Dengan sekali gerakan, Khafi menyingkirkan tangan sahabatnya. “Seharusnya aku tidak datang. Aku menyia-nyiakan waktu liburku untuk hal yang tidak penting.” Khafi bersiap melangkah, tetapi Barra menahan. “Bantu aku, dong. Ini juga gara-gara adikmu itu. Sepertinya dia berniat untuk terus menyiksaku. Dia bahkan meminta fotoku saat berkunjung ke bazar buku ini. Adikmu itu memang gila. Iya, kan?” “Masih mau ngomong?” tanya Khafi dengan wajah datar. “Sudahlah. Tidak ada gunanya mengatakan ini padamu. Carikan novel Asma Nadia yang Surga yang Tak Dirindukan.” “Surga yang Tak Dirindukan? Siapa penulisnya? Itu tidak terdengar seperti jenis bacaan yang Zaina baca.” “Lihat itu.” Mata Khafi mengikuti arah telunjuk Barra. Sebuah poster dengan gambar seorang wanita berjilbab. Khafi membaca semua tulisan secepat kilat. Jadi, wanita itu bernama Asma Nadia. Dia sudah menulis beberapa novel religi. Ini lebih aneh lagi. Sejak kapan Zaina suka novel dengan genre agama? Setahu Khafi, Zaina tidak pernah suka membaca. Kenapa sekarang malah membeli novel? Pria itu menghela napas, lalu berbalik pada Barra, bermaksud menanyakan apa yang dia pikirkan. Namun, Barra yang tahu pemikiran Khafi hanya mengangkat bahu sambil menggeleng. Sekali lagi, Khafi menghela napas. Jika Barra yang setiap saat bersama Zaina tidak tahu alasan adiknya berpindah selera, lalu dia harus bertanya pada siapa. Perlukah dia mengutus seseorang untuk menyelidiki seperti biasa. Kepala Khafi menggeleng pelan. Permasalahan ini tidak begitu penting. Untuk apa dia repot begitu. “Aku akan duduk dan menunggu. Lebih baik kamu yang mencari sendiri,” ujar Khafi. “Ayolah, Khaf. Cuma satu novel. Aku bahkan sudah membeli setumpuk novel.” Barra menunjuk buku-buku yang menumpuk tak jauh dari tempatnya berdiri. “Dia mau ujian. Bukannya belajar dengan baik, dia malah baca novel.” “Ini juga sangat aneh kalau menurutku. Sejak kapan dia suka membaca novel. Pasti ada hubungannya dengan si Kamila itu.” "Mungkin dia memang mau membelikan temannya itu,” kata Khafi tak acuh. Lalu, dia berjalan menjauh. Keluar masuk toko buku bukan hal baru bagi Khafi. Sebagai orang yang gila belajar, tempat itu adalah tempat wajib baginya. Hanya saja, dia selalu mencari buku yang berkaitan dengan pelajaran atau pengetahuan lain, bukan mencari bacaan semacam novel. Benar-benar menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pembelajar. Kalau mau jujur, Khafi sangat heran dengan kedua adiknya. Orang tua mereka tidak ada yang tertarik pada dunia seni, tetapi kenapa Dzaky dan Zaina malah menyukai bidang itu? Dia sendiri tidak suka hal-hal mengenai seni. Satu-satunya hal seni yang sedikit dia sukai adalah musik. Itu pun dia sangat pemilih. Dulu, Khafi sempat melarang Dzaky menekuni dunia lukisan. Menurutnya, lukisan tidak akan membawa masa depan cerah bagi sang adik. Mereka sering bertengkar karena masalah ini, lalu berujung pada kecelakaan jatuh dari tangga. Belakangan, Khafi kemudian membiarkan Dzaky memilih bidang ini. Prestasi Dzaky dalam melukis cukup membanggakan. Meski belum bisa dibilang sukses atau ternama, dia sudah memenangkan beberapa perlombaan kecil. Setidaknya, masih ada yang bisa melihat jerih payah pemuda itu. Lagi pula, dia sangat serius menekuni hal ini. Jadi, sebagai kakak, Khafi hanya bisa mendukung. Tidak berbeda jauh dengan Dzaky, sebenarnya Zaina juga suka melukis. Bakat gadis itu memang tidak sebaik kakaknya, tetapi dia sangat suka menggambar. Selain melukis, dia tidak memiliki keahlian lain. Adik bungsu Khafi itu sedikit terhambat dalam berbagai bidang karena kapasitas otaknya yang kecil. Ketika lulus SMA, Zaina bermaksud mengikuti jejak Dzaky. Khafi yang sudah mengetahui kemampuan sang adik, meminta Barra membujuk Zaina agar memilih jurusan lain. Awalnya, Zaina memilih sastra. Namun, pada akhirnya malah mengambil jurusan akuntansi atas usul Barra. Jujur saja, Khafi sedikit terkejut karena Zaina justru menuruti Barra. Adiknya itu sangat pembangkang. Padahal wajah cantiknya terlihat sangat penurut. Siapa pun tidak akan mengira kalau dia pembuat onar dan gadis paling pembantah yang pernah Khafi tahu. Dia juga keras kepala. Sepertinya, orang yang masih memiliki kemungkinan untuk dituruti adalah Barra. Zaina memang tidak pernah menolak permintaan Khafi, tetapi diam-diam dia selalu berusaha mengabaikannya. Gadis itu juga tidak pernah mau membantah terang-terangan di hadapan Khafi. Mana ada orang yang berani menolak apa pun yang dikatakan Khafi dengan mata membunuh. Itu julukan yang diberikan semua orang pada Khafi. Mata pembunuh. Jadi, saat bertemu atau berbicara dengan Khafi, sebaiknya jangan melihat mata pria itu atau dia akan berada dalam bahaya. Kedua mata Khafi seperti mengandung aroma hipnotis. Setiap orang yang melihatnya bisa langsung menurut. Khafi sendiri tidak memedulikan gelar apa yang diberikan orang-orang padanya. Dia tidak masalah jika ada yang menyebutnya dengan mata pembunuh atau apa pun itu. Toh, dia tidak merasa dirugikan. Malah sebaliknya, dia sedikit senang karena menyadari banyak orang yang takut padanya. Itu artinya, Khafi cukup patut untuk disegani. Dia bukan tidak sadar kalau semua orang, terutama para karyawannya, selalu terdiam begitu dia lewat. Tentu saja mereka akan menyapa Khafi terlebih dahulu. Baru setelah itu, mereka berhenti dan menunduk sampai dia tidak terlihat lagi. Meski begitu, Khafi juga sudah tahu kalau semua karyawan suka bergosip tentang dirinya. Ada banyak karyawan wanita yang diam-diam mengganggumu paras dan sikapnya. Namun, itu bukan hal luar biasa. Sejak dulu, dia sudah terbiasa dengan sikap kagum setiap orang. Memangnya apa lagi yang bisa didapatkan Khafi selain rasa kagum. Paras tampan dengan otak cerdas. Dia juga berasal dari keluarga berada. Sejak sekolah menengah atas sudah dilibatkan dalam urusan kantor oleh sang ayah. Juga mampu mengambil alih perusahaan ketika ayahnya mendadak meninggal. Tidak ada satu orang pun yang tidak terpesona pada Khafi. Sekarang saja, semua mata memperhatikannya diam-diam lewat buku yang dipegang. Mereka berbisik-bisik sambil menilai penampilan Khafi. Pesona pria itu sungguh tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun. Dia bak pangeran yang muncul di dunia nyata. Akan tetapi, Khafi tetaplah Khafi. Dia tidak memedulikan puluhan pasang mata yang memandanginya dengan perasaan kagum. Mata tajamnya hanya melihat judul deretan buku dan mencari novel yang diinginkan oleh Zaina. Tangannya terulur ketika melihat buku yang dicari. Sebelum tangan Khafi menyentuh novel yang dituju, sebuah tangan lain sudah mengambil. Dia menoleh untuk mencari tahu siapa orang yang sudah mendahuluinya dan bermaksud memprotes. Namun, keinginan itu hilang begitu saja ketika dia tahu siapa yang akan menerima protes darinya. “Gadis keripik.” Panggilan itu keluar begitu saja dari mulut Khafi, membuat gadis yang berada di hadapannya mendongak. Dia sama terkejutnya seperti Khafi. Sang gadis mengerjap sebentar sebelum mengalihkan perhatian pada buku yang tadi ingin sekali diambil oleh Khafi. Dia mulai menggerakkan tangan di atas barisan kata dalam novel. “Kamu mau novel itu?” tanya Khafi memulai pembicaraan. “Ah, iya. Saya sudah lama mencari buku ini.” Si Gadis keripik alias Arisha berhenti sebentar. “Anda mau membaca novel ini?” tanyanya. “Itu ... Sebenarnya adik saya yang mau membaca.” “Benarkah?” Arisha menutup pelan buku itu. “Sebenarnya saya menginginkan novel ini karena ini merupakan edisi lama. Tapi, kalau adik bapak mau membaca, saya berikan pada Bapak saja.” Bapak? Khafi terus memikirkan panggilan yang diberikan oleh Arisha. Apa dia terlihat setua itu sampai harus dipanggil bapak? Kenapa bukan Mas atau Abang atau Kakak? Dia sampai memperhatikan penampilannya. Hari ini, dia memakai kemeja hitam pendek dan celana semi formal senada. Apa dia sungguh tampak tua? Melihat penampilan Arisha, Khafi yakin kalau gadis itu tidak cukup muda untuk memanggilnya bapak. Mereka mungkin berbeda enam atau tujuh tahun saja. Mata Khafi terpejam. Mengapa dia merasa keberatan dengan panggilan itu. Dia sudah terbiasa dengan panggilan bapak, bukan? Hanya saja, saat menyadari gadis yang sempat dia pikirkan selama ini, memanggilnya dengan sebutan bapak, membuat Khafi sedikit kecewa. Dia menarik napas, lalu berdeham untuk menormalkan emosi. Berusaha tidak terpengaruh dengan panggilan dari Arisha, dia menatap buku yang diulurkan padanya. “Kalau kamu suka, kamu bisa mengambilnya. Saya bisa cari lagi,” kata Khafi. “Tapi, buku ini tinggal satu-satunya.” Telunjuk Arisha mengarah ke arah meja di mana novel Surga yang Tak Dirindukan itu tadi diletakkan. Khafi menyibak beberapa buku dan judul yang serupa memang tidak ada. Dia menoleh pada Arisha yang tersenyum sambil menunduk. Hal itu membuat Khafi kesulitan bernapas. “Tidak ada lagi, kan?” tanya Arisha. “Memang, tapi ... Saya bisa mencari di tempat lain. Di toko buku lainnya ada, kan?” “Untuk yang edisi baru kemungkinan masih ada.” “Kalau begitu, saya akan cari di toko lain. Kamu simpan saja yang ini.” “Apa itu tidak masalah?” Arisha berhenti sebentar. “Maksud saya, apa adik bapak tidak keberatan jika bapak membelikan novel dengan sampul edisi baru?” “Tidak. Lagi pula, dia ingin membaca novelnya. Bukan melihat sampulnya.” “Baiklah. Kalau begitu, terima kasih. Permisi.” “Tunggu,” panggil Khafi saat Arisha bersiap melangkah. “Saya belum mengganti keripik kamu waktu itu.” “Masalah keripik ... Saya sudah bilang kalau itu tidak perlu. Hanya sebungkus keripik.” “Tapi, saya tidak bisa begitu. Saya akan tetap mengganti.” Arisha menghela napas. “Bagaimana kalau diganti uang saja?” usulnya. “Tidak masalah. Berapa harga keripik itu?” Sebenarnya, Khafi lebih suka kalau Arisha memberikan alamat dan dia bisa tahu di mana gadis itu tinggal. Akan tetapi, melihat gelagat Arisha yang tidak nyaman saat berbicara dengannya, dia mengalah. Dia bisa mencari tahu mengenai Arisha melalui orang-orang kepercayaannya, seperti biasa. Jadi, saat Arisha menyebutkan harga keripiknya, Khafi langsung memberikan uang. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya sampai Arisha menghilang. Satu kali lagi, keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Jika sekali lagi bertemu dengan Arisha, dia tidak akan melepaskannya. Gadis keripik itu benar-benar sudah mencuri perhatian Khafi. Dia tidak bisa mendefinisikan perasaan yang kini bersarang di hati, tetapi menyenangkan. Dan dia tidak bermaksud membiarkan hal itu berlangsung cepat. Rasa ini belum pernah dia rasakan. Dia akan mempertahankannya sampai akhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN