Al berjalan menuju pintu utama rumah ketika mendengar suara bel berbunyi. Saat sudah membuka pintu terlihat seorang laki-laki seumuran dengannya sedang berdiri sambil memakai tas.
"Ngapain lu?"
"Nyokap bokap gue bulan madu, gue di sini ya."
"Itu tas isinya apa aja?" Al menunjuk tas yang dipakai laki-laki itu.
"Oh, baju-baju gue. Gue masih inget sama omongan lo soal jangan pernah pake baju-baju lo,"
Al mengangguk.
"Cuma baju-baju?"
"Beserta daleman gue ada semua di sini,"
"Sabun, sikat gigi, odol, shampo?"
Laki-laki tersebut menyeringai, "di rumah lu kan banyak stok, bang."
Al berdecak, "berapa kali gue bilang jangan panggil Abang apalagi bang!"
"Emang kenyataannya lo lebih tua dari gue kan?"
"Beda lima bulan doang ya, nyet."
"Intinya lo lebih tua dari gue. Boleh masuk gak nih?"
Al menyingkir memberi akses pada sepupunya untuk masuk ke dalam.
"Eh ada Dion,"
Laki-laki bernama Dion itu tersenyum kemudian mencium punggung tangan Aya dan juga Rafa dimana mereka sedang duduk di ruang keluarga.
"Sendirian aja ke sini nya?"
"Iya tante, Mama sama Papa lagi pergi."
"Iya tante tau kok soalnya Mama kamu udah nelfon bilang kalo kamu bakal nginep di sini,"
Dion duduk bersebelahan dengan Al.
"Makanya suruh Mama Papa kamu bikinin adek biar di rumah gak sendirian," kata Rafa.
"Udah kok om, tapi kayaknya lebih enak jadi anak tunggal."
"Baek-baek awas Papa kamu diambil perempuan lain,"
Aya langsung menyikut perut Rafa.
Dion terlihat bingung dengan ucapan yang dilontarkan oleh om nya.
Aya menatap Dion sambil tersenyum, "kamu udah makan?"
"Udah tante." Dion mengangguk diselingi senyum tipis.
(())
Melihat Oliv berjalan masuk ke dalam gedung sekolah Al mempercepat langkahnya untuk mengejar gadis itu.
Oliv menoleh ketika ada yang berdiri di sebelahnya lalu membuang muka saat mengetahui siapa orang itu.
Melihat reaksi Oliv barusan Al menahan senyumnya.
"Nanti..."
Brak.
Al terdiam di depan pintu kelas Oliv yang sengaja ditutup dengan kuat oleh Oliv sendiri.
Al kembali tersenyum dengan telunjuk yang menutupi bagian atas bibirnya, "cembokur beneran. Oke."
Dengan wajah yang sumringah Al berjalan menuju kelasnya.
Jam istirahat pertama, Al berserta teman-temannya berada di kantin sembari Al menunggu seseorang.
"Pokoknya ntar kalo si Oliv dateng kamera langsung on ya," kata Al pada Dewa.
Sambil memakan makanannya Dewa mengacungkan jempol.
Mata Al tertuju pada Yoyo yang sedang berdiri di pintu masuk kantin seraya mulut temannya itu berkomat-kamit.
"Mulai!" Al menepuk bahu Dewa kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dewa terlebih dahulu memperhatikan ke arah pintu masuk kantin, setelah melihat Oliv datang bersama satu temannya Dewa langsung merekam Oliv dengan ponsel Al secara sembunyi-sembunyi.
Rian dan Chiko lebih memilih untuk menonton drama yang sudah disusun oleh Al, kedua mata mereka tertuju pada Al yang sedang duduk bersama anak kelas sepuluh sembari tertawa.
Yoyo yang sudah duduk di sebelah Dewa menggantikan posisi Al memperhatikan Oliv dari layar ponsel Al. Jika diliat dari kejauhan Dewa dan Yoyo tampak seperti sedang bermain game ataupun menonton sesuatu.
"Widih," Dewa dan Yoyo kompak bersuara sembari tertawa ketika melihat Oliv melirik Al yang sedang tertawa dengan sinis kemudian membuang muka secara perlahan.
Ekspresi Dewa dan Yoyo berubah biasa saja kala mata Oliv tertuju ke arah mereka.
"Gak ada bangku lain apa Tik, masa di situ sih?" Bisik Oliv saat mereka sudah mengambil makanan dan tinggal mencari tempat untuk mereka duduk.
"Gue juga gak mau duduk di situ ada kak Al, kayaknya dia lagi PDKT sama anak kelas sepuluh itu deh."
"Cari bangku lain deh, cari yang kosong."
"Udah penuh tinggal meja itu yang kosong," Tika menunjuk meja dimana ada Al berserta anak kelas sepuluh berparas bule sedang tertawa.
"Udah gak papa deh daripada kita kita gak makan,"
"Tik, Tika!"
Tika berjalan terlebih dahulu menghampiri meja yang Al tempati meminta izin untuk duduk di sana.
Tika memanggil Oliv setelah diperbolehkan untuk ikut duduk bersama.
Oliv berdecak lalu menghampiri Tika dan terpaksa duduk tepat di sebelah Al. Saat meletakkan nampan makanannya di meja Oliv dan Al saling tatap namun hanya sebentar karena setelah itu Al kembali asyik dengan gadis yang ada di depan laki-laki itu.
"Nanti malem mau keluar gak? Kita non..." Ucapan Al terhenti karena tangan Oliv lewat di depannya untuk mengambil saus yang ada di ujung meja.
"Kita apa?"
"Kita nonton," Al tersenyum manis.
Gadis tersebut terlihat mengangguk.
"Ntar pulang sekolah mau bareng gak?"
"Boleh, tapi aku ada kumpulan OSIS bentar gak papa kan?"
"Gak papa dong aku..."
"Uhuk! Uhuk!"
Al menoleh dimana Oliv sedang terbatuk-batuk.
"Minum Liv," Tika menyodorkan minum pada Oliv yang masih batuk.
"Ganggu banget ya," kata Al sambil menunjuk Oliv.
Oliv langsung menatap tajam Al sementara yang ditatap asyik mencolek dagu gadis berparas bule tersebut.
"Eh Liv mau kemana?" Tanya Tika karena Oliv langsung pergi dari kantin padahal makanannya masih tersisa banyak.
"Emm, permisi kak makasih udah dibolehin makan di sini." Tika pamit pergi mengejar Oliv.
Setelah Oliv dan Tika pergi Al langsung beranjak untuk kembali ke tempat duduknya.
"Kak,"
Al menoleh.
"Ntar malem jadi?"
"Oh, gue lupa ntar malem ada acara keluarga. Pulang sekolah nanti gue mau jemput bokap gue di bandara, sori ya."
(())
Di saat guru sedang mengajar Al malah sempat-sempatnya melihat hasil video yang Dewa ambil ketika di kantin tadi.
Al tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum ketika melihat ekspresi dan gerak-gerik Oliv.
"Gimana rasanya jilat ludah sendiri?"
Senyum Al hilang seketika mendengar bisikan Dewa.
"Enak?"
Plak!
"Ada apa itu, Alvaro?"
"Ini pak ada nyamuk di pipi Dewa," Al tersenyum sambil mengelus-elus pipi Dewa yang baru saja ia tampar dengan penuh penekanan.
"Biar nyamuknya penyet jadi harus diginiin," kata Al pada gadis yang duduk di depannya dimana gadis itu sedang memperhatikan tangannya yang sedang mengusap-usap pipi Dewa.
"Sekali lagi lo ngomong soal jilat ludah gue pastiin lo jilat ludah nya si Yeontan,"
"Tipe gue tuh..."
"Wa!"
Dewa terkekeh geli seraya mengacungkan jari tengah.
(())
Al duduk sendirian di mini bar dengan segelas cokelat panas serta kedua tangannya memegang ponsel.
Yang Al lakukan sekarang adalah melihat-lihat isi feeds akun i********: Oliv, jumlah postingan Oliv hanya lima. Empat foto dan satu video.
Diantara keempat foto itu hanya satu foto saja yang memperlihatkan wajah Oliv dan isi dari video yang Oliv posting berupa cover lagu yang Oliv buat dengan bantuan gitar tanpa memperlihatkan wajahnya.
Saat ini yang Al lihat adalah foto yang memperlihatkan wajah Oliv dimana Oliv sedang berdiri menghadap ke samping sambil memegang bola basket dengan topi berwarna putih menutupi kepalanya.
"Cantik,"
Al terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
"Kaget gue anying!"
Dion cengengesan, "serius banget sih ngeliatnya."
"Emang itu siapa sih, cewek lo?" Tanya Dion.
Al diam, pandangnya terbagi antara foto Oliv dan wajah Dion.
"Cewek lo?"
"Iya!"