Oliv beranjak dari duduknya ketika melihat dua orang pria dan wanita datang menghampirinya, Oliv yakin jika kedua orang itu adalah orang tua Al.
"Kamu yang angkat telfon saya tadi?"
"Iya om,"
"Gimana keadaan anak saya?"
Oliv beralih menatap Aya yang sedang menyeka air matanya.
"Saya belum tau tante soalnya dokternya masih di dalem,"
Aya terduduk lemas di kursi dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya.
"Saya pamit ya om, tante."
"Tunggu,"
Oliv berhenti melangkah dan berbalik.
"Kamu pulang naik apa?" Tanya Rafa.
"Saya..." Oliv diam sambil berpikir sejenak, sepeda yang biasa ia kendarai berada di lokasi kejadian Al di pukuli dan Oliv tidak yakin jika sepeda nya masih ada di tempat tersebut.
"Gimana kalo dianter sama supir saya, kamu perempuan jangan pulang sendirian."
"Saya bisa minta jemput sama keluarga saya kok om, sekali lagi saya pamit."
Rafa terdiam karena Oliv langsung pergi, pergi keluar dari rumah sakit di waktu tengah malam.
"Udah dibilang jangan keluar, jangan keluar, masih aja keluar. Bandel banget,"
Rafa hanya bisa menenangkan Aya yang sejak tadi menangis memikirkan bagaimana kondisi Al saat ini.
(())
Aya duduk sambil menggenggam tangan Al dengan ditemani oleh Rafa, perasaan Aya sudah tidak setegang kemarin setelah dokter mengatakan bahwa Al tidak mengalami luka serius. Al juga langsung dipindahkan ke ruangan biasa.
Genggaman tangan Aya mengerat ketika melihat Al hendak membuka matanya.
"Abang," Aya tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca saat Al benar-benar membuka kedua matanya.
Al tersenyum kecil seraya meringis merasakan sakit dibagian tubuh khususnya tangannya.
"Udah Mami bilang jangan keluar udah malem tapi tetep juga keluar," air mata Aya kembali tumpah.
"Good molning,"
Aya menoleh ke arah pintu dimana ada Agatha datang bersama Nevan dan Reya.
"Ini pasti abis berantem nih," Nevan berkacak pinggang sambil memperhatikan Al dari atas sampai bawah.
"Di keroyok bukan berantem," sahut Al dengan nada rendah.
"Emang pas di keroyok gak ngelawan? Gak berantem dulu apa? Gitu di keroyok pasrah sambil ngomong, ya udah keroyok aja, gue udah bosen idup. Gitu?"
"Dateng-dateng rusuh ah gak suka," keluh Al.
"Mas!" Reya mendelik membuat Nevan mengatupkan dapat mulutnya.
"Terus motor Abang mana, Mi?"
Aya menatap Rafa meminta jawaban dari pertanyaan Al.
"Udah dibawa kabur mungkin, mana motor mahal."
Aya langsung menyikut Rafa.
"Katanya banyak duit,"
Rafa menaruh telunjuknya di bibir mengisyaratkan Nevan untuk diam membuat mata Nevan memicing seketika.
"Udah gak usah dipikirin soal motor, yang penting kan Abang gak papa." Kata Reya.
Al mengangguk.
"Ya masa ilang!" Seru Al membuat seorang suster langsung masuk.
"Ada apa?"
"Oh gak ada apa-apa sus," Aya tersenyum ramah sambil mengangguk kemudian suster tersebut pamit keluar.
"Nanti dibeliin lagi gak?" Tanya Al dengan wajah yang sangat menyedihkan.
Aya menatap Rafa yang sedang duduk di sofa sambil memangku Agatha dengan kedua mata mereka tertuju ke arah ponsel.
Rafa menoleh bukan karena ingin menjawab pertanyaan Al melainkan heran mengapa keadaan jadi hening seketika.
"Apa?" Tanya Rafa saat mereka semua menatapnya dalam diam.
"Al nanya nanti motornya dibeliin lagi gak," kata Aya.
"Enggak,"
Al menarik-narik tangan Aya meminta ibunya untuk membujuk sang ayah.
"Papi pernah bilang sama Mami kalo Al mau dibeliin mobil,"
"Tapi mau nya motor!"
"Ya udah motor gak ada mobil gak ada," celetuk Rafa.
Al kembali menarik-narik tangan Aya dengan wajah yang memelas.
"Pasti dibeliin Abang tenang aja," kata Aya sambil mengelus tangan Al.
"Awas ya bohong,"
"Iya enggak bohong,"
"Terus yang bawa Abang ke rumah sakit siapa?"
Rafa dan Aya saling tatap.
"Abang pingsannya pas lagi di gebukin?" Tanya Rafa.
Al tampak berpikir.
"Sempet ngeliat sih ada orang dateng kayak nolongin tapi gak bisa liat jelas muka nya, kayak ngeblur gitu."
"Cewek yang nolongin Abang,"
"Cewek?" Al terkejut.
Aya mengangguk.
"Siapa?"
"Gak Papi tanya siapa namanya gak sempet karena di buru-buru pergi,"
"Padahal Mami belum bilang makasih sama dia,"
Al tidak lagi berbicara karena ia sedang memikirkan gadis yang sudah menolongnya dari sekumpulan orang jahat kemarin malam.
"Tapi muka nya kayak gak asing gitu sih." Gumam Al.
(())
"Sayang, maafin aku ya gak sempet jenguk kamu di rumah sakit."
Al mengangguk seraya tersenyum.
"Gak papa,"
Dewa, Yoyo, Rian dan Chiko duduk berjauhan dari Al yang sedang berduaan dengan kekasihnya. Kalau boleh jujur mereka berempat kurang menyukai Nichole dan sangat jarang berinteraksi dengan gadis itu.
"Lah udahan beduaan nya? Cepet amat," kata Yoyo saat melihat Nichole berjalan di depan mereka dan masuk ke dalam mobil.
"Cuma ngomong maaf doang?" Tanya Rian pada Al yang tengah berjalan ke arah mereka.
Al mengangguk.
"Makan ati punya cewek kek gitu,"
Al menatap sinis Dewa yang sedang bercermin melalui kaca spion motornya.
"Cepet juga muka lo balik kinclong," Chiko memegang rahang Al menggerakkannya ke kanan dan kiri.
"Resiko ganteng dari lahir,"
Chiko langsung menjauhkan tangannya dan mengelapkan nya ke celana sekolahnya.
"Al, itu bukannya motor lu?" Tanya Dewa sambil menunjuk ke arah gerbang sekolah.
Mulut Al sedikit terbuka melihat motornya masuk ke dalam lingkungan sekolah yang sudah sepi menyisakan mereka dan beberapa penjaga sekolah.
Mulut Al kian terbuka lebar melihat siapa yang sudah membawa kembali motornya.
"Buset si Oliv GG juga," Yoyo berdecak kagum sambil menggelengkan kepala.
Orang yang membawa motor Al adalah Oliv. Oliv datang dengan memakai kemeja kotak-kotak yang sengaja tidak dikancingkan berwarna merah dengan dalaman berwarna hitam.
Sebelum turun dari motor Oliv terlebih dahulu melepas helm full face milik Al dan menaruhnya di motor lalu mencabut kunci motor dan melemparkannya pada Al.
Dengan sigap langsung ditangkap oleh Al.
Tanpa mengucapkan apapun Oliv pergi, baru beberapa langkah terdengar seruan dari Al.
"Woi!"
Oliv berbalik mengangkat satu alisnya.
"Kenapa motor gue bisa sama lo?" Tanya Al sambil mendekati Oliv.
"Menurut lo?"
"Gue tanya sekali lagi kenapa motor gue bisa sama lo?"
"Gak mau bilang makasih dulu, hmm?"
Al diam.
"Abang,"
Al menoleh terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Oliv.
"Lho kamu," mata Aya membulat ketika melihat Oliv.
Al mengerenyit melihat reaksi ibunya.
"Dia, dia yang udah nolongin Abang."
"HAAH?!" Al kaget setengah mati dengan mata yang membulat.
"Iya kan mas dia yang bawa Al ke rumah sakit?" Aya bertanya pada Rafa untuk memastikan bahwa ia tidak salah orang.
Rafa mengangguk sambil menatap Oliv.
"Iya dia. Kalian satu sekolah?" Tanya Rafa.
Oliv mengangguk kecil.
"Waaah," Aya menutup mulutnya dengan tangan setelah mengetahui bahwa Al dan Oliv satu sekolah.
"Tante belum sempet bilang makasih sama kamu," ucap Aya sembari memegang tangan Oliv.
"Waktu itu saya kebetulan lewat, sebenernya saya gak kenal sama anak om tante tapi yang namanya sesama manusia kan harus saling tolong menolong."
Al mengerjapkan mata mendengar penuturan yang menurutnya busuk itu.
Aya tersenyum.
"Kamu abis ini mau kemana?"
"Mau pulang,"
"Tante mau ngucapin makasih dengan cara ngajak kamu ke rumah, kita makan bareng gimana?"
"Yaah Mi jangan!"
Rafa dan Aya terdiam sambil menatap Al.
"Maksudnya..." Al menundukkan kepala untuk mencari kalimat yang tepat, "dia pasti mau main sama temennya. Dia anak hits parah, pasti banyak temen nya jadi dia mau nongkrong di luar." Kata Al sambil menganggukkan kepala.
Aya menatap Oliv, "bener?"
"Enggak," Oliv menggeleng.
"Tuh enggak kok. Ikut ke rumah ya makan bareng di rumah, mau kan?"
Oliv melirik Al yang sedang menunjukkan ekspresi datar nya lalu menatap lurus mata Aya.
"Iya mau,"
Kedua mata Al terpejam seraya menggerutu di dalam hati.
(())
"Jadi kamu masih kelas sebelas ya?"
Oliv mengangguk.
"Banyak yang bilang katanya Al ini famous di sekolah, emang bener soal itu?" Tanya Rafa pada Oliv.
"Saya gak tau om, saya juga gak tau kalo di sekolah ada orang yang katanya famous kayak dia."
Mulut Al memang diam, namun tidak pada hatinya dan pikirannya.
Rafa tertawa, "om juga gak yakin kalo Al terkenal di sekolahnya. Terkenal karena bandel iya om percaya."
Oliv tersenyum kecil.
Selesai makan Oliv langsung diajak main oleh Agatha, menyeret gadis itu ke ruang keluarga dimana sudah ada beberapa boneka Barbie nya yang tergeletak di atas meja.
"Nama kakak ciapa?" Tanya Agatha sebelum memberikan satu boneka pada Oliv.
"Oliv, nama kamu siapa?"
"Atha,"
Oliv mengangguk.
"Ini belbi kakak, ini punya Atha."
Oliv menerima boneka Barbie yang diberikan kepadanya.
"Dia gak suka maen berbi sukanya maen beranteman," celetuk Al seraya melewati ruang keluarga.
"Iya kakak cuka main belanteman?"
"Enggak,"
"Iya pelempuan kan main nya belbi bukan belantem,"
Oliv mengangguk, entah mengapa ia merasa gemas ketika melihat Agatha berbicara dan juga gemas mendengar ucapan cadel anak itu.
"Baju belbi nya di ganti sama yang ini," Agatha memberikan sebuah dress berwarna pink pada Oliv sementara Agatha juga akan mengganti pakaian bonekanya.
"Ih bukan gitu," Agatha menggelengkan kepala mengambil boneka yang ada di tangan Oliv.
"Seleting nya di belakang bukan depan," Agatha membenarkan pakaian yang salah Oliv pakaikan.
"Oh, aku gak tau." Oliv tertawa kecil.
Brak.
Oliv dan Agatha menoleh mendapati Al sedang berbungkuk mengambil sesuatu di lantai kemudian pergi.
"Abang Al capel deh,"
"Haa, apa?" Tanya Oliv memastikan pendengarannya.
"Capel,"
"Caper?"
Agatha mengangguk dan berhasil membuat Oliv kembali tertawa.
"Masih kecil kenapa udah ngerti soal caper?"
"Ngelti dong, Atha gitu loh."
Kali ini Oliv tertawa geli terlanjur gemas dengan anak kecil yang ada di depannya. Ketika Oliv sedang tertawa Al kembali lewat untuk yang kesekian kalinya.