Chapter 03

1831 Kata
"Abang!" Al yang baru saja memejamkan mata langsung membukanya dan menoleh ke arah pintu kamar yang sedang digedor-gedor. Al beranjak dari tempat tidur untuk segera membuka pintu kamarnya yang semakin digedor-gedor oleh adiknya sendiri. "Bukannya tidur malah ke sini," Al menunduk menatap adiknya yang sedang mendongak sambil memeluk boneka kelinci yang selalu dia bawa kemana-mana. "Papi culuh Atha bobok cama Abang," Al keluar dari kamarnya melangkahkan kaki menuju kamar orang tuanya diikuti oleh Atha berlari kecil mengejar langkah lebar abangnya. "Abang kenapa gitu?" Al menaruh telunjuknya di bibir dengan kuping yang menempel pada pintu kamar Rafa dan Aya. Tak lama Al menjauhkan kupingnya lalu menggenggam tangan mungil adiknya membawa anak itu ke kamarnya. "Langsung tidur ya, Abang besok mau sekolah jangan ajak Abang ngomong jangan minta temenin nonton TV," Agatha mengangguk menaruh boneka kelinci nya di tengah-tengah lalu berbaring. Al ikut berbaring dengan memeluk guling nya. "Abang, mau ke kamal mandi." Kedua mata Al yang sudah terpejam kembali terbuka lalu beranjak dari tempat tidur membawa Agatha ke kamar mandi. "Jangan ngintip!" "Lah," Al membalikkan badannya menjaga pintu kamar mandi. "Abang," "Udah siap belom?" "Celana Atha bacah," Al menghela napas sambil berbalik menatap Atha yang sudah memakai celana setelah buang air kecil. "Cebok masih sama Mami gak usah sok-sokan sendirian," Al menggendong Atha ala bridal style membawa Atha keluar dari kamar. "Mi, Pi! Bangun apa berhenti dulu celana si Atha basah kena aer abis pipis." "Pi!" "Apa?!" "Ngegas amat, ya maap kalo ganggu. Celana Atha basah," ucap Al pada ayahnya yang sekarang tengah berdiri di depannya. Rafa mengambil Agatha dari gendongan Al. "Jangan balik ke kamar bawa lagi Atha," "Iyeee," Rafa langsung masuk ke kamar sambil menggendong anaknya. Al berdiri dengan bersandar pada pembatas tangga sambil menunggu Agatha dibawa keluar. "Nih jangan dibikin nangis," "Iya tau biar gak keganggu kan? Paham-paham," Al membawa kembali Agatha ke kamarnya. (()) Al duduk di kantin bersama teman-temannya dimana keempat temannya sedang mengoceh memberi laporan mengenai permintaan yang Al katakan pada mereka semalam. "Wajar dia gak tau lo," "Kenapa?" "Anak baru," Al mengangguk sambil membuka plastik sumpit nya. "Dia anak kelas sebelas, anak IPS." "Apalagi?" "Dia punya temen tuh temen sebangkunya, katanya emang dia orangnya pemberani sama agak tomboi." "Namanya?" "Olivia, panggilannya Oliv." Seraya mengunyah dan mendengarkan ucapan teman-temannya mata Al tertuju pada gadis dengan rambut dicepol, tidak memakai dasi dengan dua kancing bagian atas tidak dikaitkan membuat dirinya terlihat begitu menonjol diantara perempuan-perempuan yang memiliki gaya sangat feminin. Al tersenyum jahat saat terjadi kontak mata diantara mereka dalam waktu sangat singkat karena gadis yang sudah berani memukul Al langsung membuang muka. "Sebelas IPS berapa?" Tanya Al. "Dua," jawab Rian. Al mengangguk. "Mau lo apain tuh cewek?" Tanya Chiko sambil meminum minumannya. "Jadiin maenan baru," "Dia cewek gila," Al menatap Rian, "terus? Lo berempat tau kan gimana gue? Gimana kelakuan gue sama orang yang gak gue suka," "Baru sekali lo ganggu dia muka lo udah kenapa-napa, gimana kalo terus-terusan lo ganggu. Dia bukan cewek biasa oi!" Kata Yoyo. "Udahlah udah terlanjur gak suka gue," "Jarak benci ke cinta itu tipis, bos." Mereka berempat menoleh pada Dewa yang sedang menggigiti ujung sedotan seraya bermain ponsel. Al tidak mengatakan apapun karena ia tengah memperhatikan Oliv berserta satu temannya datang menghampiri meja kosong yang berada tepat di sebelah meja mereka. Al menyandarkan tubuhnya dengan tangan kanan berada di atas sandaran kursi, kaki kanannya naik ke atas kaki kiri menatap Oliv dengan alis sedikit terangkat seraya menyentuh pipi bagian dalamnya dengan lidah. Dengan begitu Al terlihat seksi di mata perempuan yang mengaguminya namun terkesan menjijikkan di mata Oliv. Al yang menyadari ekspresi jijik dari wajah Oliv langsung beranjak, "cabut." "Al! Soto gue... Argh!" Yoyo terpaksa meninggalkan pesanan soto nya yang baru saja datang dan belum sempat masuk ke dalam mulutnya. (()) Di saat jam belajar sedang berlangsung Al mengajak Yoyo dan Dewa keluar dari kelas, sekarang kelima laki-laki itu sedang berada di parkirkan motor. "Cewek itu pasti tau lah ini kerjaan kita-kita," "Gak usah banyak bacot Yo katanya laper," "Awas ya kalo gue gak dibeliin makanan, laper nih gue." "Iye ah," Al tersenyum puas sambil memperhatikan teman-temannya yang sedang merantai ban sepeda Oliv di pembatas besi pemisah antara parkiran motor dan mobil. Tiba waktunya pulang sekolah Al dan keempat temannya duduk di motor mereka masing-masing sambil mengobrol seraya teman-teman Al mengganggu beberapa murid perempuan yang melintas di depan mereka. Sementara di ujung parkirkan sudah ada Oliv yang sedang berdiri sambil memandangi ban sepeda nya yang di rantai, kedua tangannya berada di pinggang dengan otak yang berpikir keras siapa yang sudah mencari gara-gara dengannya. Oliv menoleh ke arah kumpulan laki-laki yang sedang tertawa dimana laki-laki itu berada di tengah-tengah parkiran. Ketika melihat wajah Al Oliv langsung melangkah mendekati Al yang tengah tertawa sambil memukuli punggung Dewa. "Heh!" Teman-teman Al langsung berhenti tertawa sementara Al menoleh disela-sela tawanya. "Lo kan yang borgol sepeda gue?!" "Maaf, mbak punya buktinya gak?" Oliv kian meradang mendengar ucapan Al. "Kalo bukan lo siapa lagi? Lo pikir gue bego?" "Terus kalo gak bego ngapain sekolah?" Diam-diam Oliv menghela napas dengan kedua tangan yang terkepal. "Mana kuncinya gue mau pulang," ucap Oliv dengan nada rendah. Al tertawa, "congean apa gimana sih? Udah di bilang bukan gue." "Akkhh! Adooh! Sakit woy!" Al berteriak kala tangannya di pelintir ke belakang oleh Oliv. "Gue bilang mana kuncinya?" Tanya Oliv sambil menahan tangan Al yang berada di belakang tubuh laki-laki itu sendiri. "Gak ada sama gue ta... Aakkh!" "Ini nih," Dewa memberikan kunci yang Oliv minta sebelum tangan temannya bernasib sama seperti sudut bibir Al kemarin. Oliv langsung mengambil kunci tersebut lalu melepaskan tangan Al dan melangkah pergi. "Gak sopan lo sama Abang kelas!" Seru Al seraya mengelus-elus tangannya. Oliv berhenti melangkah dan berbalik, "emang ni sekolah punya bapak lo jadi gue kudu sopan gitu? Najisin lo!" Al terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar. "Awas lo ya, OLIV OIL!" Oliv kembali berhenti melangkah menatap Al yang sedang memakai helm lalu pergi diikuti oleh teman-temannya. (()) "Tha bangun, bangunin Papi ayok." Ucap Al seraya mengambil jaketnya dari lemari dan memakainya. "Tha," Al menyenggol b****g adiknya dengan jempol kaki sebab tangannya sedang sibuk membenarkan lengan jaketnya. "Jangan kayak orang mati dong Tha susah amat dibangunin," Al menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 17.00 WIB. Cuaca di luar mendung dan hujan membuat adik serta ayahnya yang memang tidak pergi bekerja terlelap sejak siang tadi. Agatha berada di kamar Al karena memang anak itu lebih suka tidur siang di kamar abangnya. Karena Agatha tidak kunjung bangun dan memang sangat susah untuk dibangunkan sama persis seperti Rafa membuat Al menggendong paksa adiknya yang masih terlelap. Untungnya ketika di gendong kedua mata Agatha terbuka secara perlahan. "Bubu," Agatha menunjuk-nunjuk boneka kelinci nya yang masih tergeletak di tempat tidur Al, Al langsung mengambil boneka Agatha lalu keluar dari kamar sembari menggendong adiknya yang sedang mengucek-ngucek mata. Al membuka pintu kamar Rafa dan Aya yang memang tidak dikunci memudahkan Rafa untuk masuk. Terlihat Rafa sedang tidur dengan posisi terlungkup dan bertelanjang d**a. Al mendudukkan Agatha di depan wajah Rafa. "Bangunin Papi," kata Al. Agatha mengangguk dengan mata yang sudah terbuka lebar, satu-satunya cara agar Rafa langsung terbangun dari tidurnya adalah dengan mencium pria itu. Dalam hitungan detik Rafa mulai menggeliat dan membuka matanya. Saat mata Rafa terbuka pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Al dengan tangan yang terulur. "Waaaaaa!" Rafa terkejut sambil menarik selimut sampai menutupi dadanya. "Ini, ini yang nyium." Al menggeser tubuhnya karena tubuh mungil Agatha terhalang oleh punggung lebar nya. Rafa terlihat bernapas lega lalu menarik Agatha dan memeluknya. "Pi minta duit," kata Al. "Nyuruh Agatha bangunin Papi cuma mau minta duit?" Al mengangguk. "Kenapa gak minta sama Mami sih ganggu orang lagi tidur aja," "Mami kan di butik, udah cepetan Al mau nongkrong nih." "Di dompet, cepetan cabut jangan banyak bacot Papi mau tidur lagi." Al langsung membuka laci mengambil dompet Rafa untuk mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompet tersebut. "Pi, boleh yang ini aja gak?" Sambil mengelus punggung Agatha Rafa menoleh dimana Al tengah memegang black card miliknya. "Ambil kalo bukan ini yang melayang," Rafa mengangkat sendal rumah nya siap untuk melempar Al. Al cengengesan seraya menyimpan dompet Rafa di laci. "Gak papa lempar aja ntar sendalnya Al lelang, kan mayan nambah-nambah uang jajan." "Abang, Atha ikut." "Ikut kemana sih Tha, Rahmatullah?" Ucap Al sambil menata rambutnya di cermin rias Aya. "Papi Atha ikut Abang ya," "Jangan ah orang Abang mau nongkrong," sahut Al. "Atha bocen di lumah," "Nanti aja kita pergi, kita jemput Mami." "Iya bener ntar aja pergi jemput Mami," Agatha menggeleng dengan wajah yang memelas. "Bawa bang," Al langsung mencak-mencak. Rafa beranjak untuk membawa Agatha ke kamar mandi dan memakaikan baju ganti untuk anak perempuannya mengabaikan Al yang sedang mengoceh mencari alasan agar sang adik tidak ikut dengannya. (()) Saat Al datang bersama Agatha teman-temannya langsung menyerbu Agatha memperebutkan Agatha untuk digendong oleh salah satu diantara mereka. "Adek gue duduk di sini lo semua mundur," Al mendudukkan Agatha di sebelahnya lelah mendengar perdebatan teman-temannya hanya karena Agatha. "Abang, nanti beliin Atha belbi ya." Ucap Agatha sambil menarik-narik jaket Al. "Hmm," Al mengangguk sibuk melihat buku menu. Agatha tersenyum senang sambil memeluk boneka kelinci nya. "Haduh, gue kalo liat adek lo jiwa-jiwa pedo muncul seketika." Yoyo menggelengkan kepala seraya memperhatikan Agatha. Agatha tersenyum lebar memperlihatkan gigi mungilnya walaupun ia tidak mengerti apa yang Yoyo katakan, Agatha tersenyum karena Yoyo terus-terusan menatapnya. "Jangan deket-deket sama Yoyo, mending sama Abang aja." Dewa menaik-turunkan alisnya. Agatha tertawa karena merasa lucu dengan alis Dewa yang terlihat naik turun. Agatha terlihat semakin semangat kala seorang pelayan datang sambil membawakan minumannya. "Punya Atha?" Agatha menunjuk minumannya. Al mengangguk. Agatha berdiri di atas kursi untuk memasukkan boneka kelinci nya ke dalam baju Al melalui kerah baju lalu meminum minumannya. Teman-teman Al tertawa melihat Al hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan karena selama di depan mereka Al terkenal keras. "Mati lo Chik," ucap Al dengan nada memperingatkan saat Chiko mengarahkan kamera ponsel padanya. Chiko terkekeh geli. "Eh tadi gue ngeliat si Oliv," kata Rian. "Dimana?" "Jalan, masa semak-semak." "Terus?" Tanya Al. "Ya udah cuma itu doang," "Garing tai," Dewa memukul kepala Rian membuka Agatha tertawa geli. "Sampe kapan lo mau ganggu dia?" Tanya Chiko mengabaikan Rian dan Dewa yang saling memukul kepala satu sama lain. "Sampe gue ngerasa menang," "Tapi kalo akhirnya lo yang kalah?" "Kalah dalam arti apa?" "Lo suka sama dia," Al tertawa keras beberapa pengunjung kafe menoleh ke arahnya. "Tipe gue tuh bukan yang kayak dia! Apaan cewek jadi-jadian kayak gitu," "Ntar jilat ludah sendiri," sindir Rian. "Nih ya, gue kasih tau aja deh. Tipe cewek gue tuh kayak si Nichole, udah cantik, baek, pinter, kalo ngomong suara nya alus, lemah lembut kek putri solo." "Kalo lo dapet nya kayak si Oliv?" Al tertawa, "besok lo pada liat gue dateng-dateng ke sekolah gandengan sama Nichole. Tunggu aja besok pagi di sekolah," "Bukannya si Nichole udah punya cowok?" "Gak ada yang gak mungkin untuk Alvaro Rasyandra Matthew yang gans inih!" Kata Al dengan bangganya membuat keempat temannya ingin sekali bubar saat itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN