Chapter 19

1063 Kata
"Gue mau..." "Najis deket-deket sama penghianat," Mulut Dewa terbuka lebar. "Penghianat dari mana nya gue anjir?" "Rian penghianat, Rian temen lo." "Jadi gue ikutan penghianat gitu? Lo temen nya Rian tuh," "Bukan!" Dewa terdiam seraya mengedipkan kedua mata beberapa kali. "Al," Al menatap Yoyo yang sedang tersenyum, "gue masuk ya? Gue nebeng ya?" "Gak!" Senyum Yoyo langsung menghilang berganti dengan wajah cemberut. Dewa menarik tangan Al tidak mengizinkan Al masuk ke dalam mobil. "Ck, awas!" "Bodo, pokoknya nebeng!" "Iya dong Al kita berdua nebeng," "Pokoknya nebeng," "JANGAN KAYAK BOCAH!" Dengan secepat kilat tangan Dewa langsung menjauh dari tangan Al. Tepat saat Al hendak masuk ke dalam mobil Oliv lewat di depan mereka sambil mengendarai sepedanya. "Lho, Oliv." Mata Yoyo menyipit memperhatikan Oliv yang sudah keluar dari gerbang sekolah. "Bentar," Dewa tampak berpikir. "Tadi kita di depan kelas Oliv kan? Lo sama Rian bincang-bincang suaranya gak di kecilin kan? Terus dia baru aja keluar gak lama kita keluar, berarti..." Mata Dewa membulat sambil menatap Al. "Oliv tau lo suka sama dia!" Seru Yoyo seraya memeluk lengan Al. Kedua tangan Al langsung berada di kepala meremas rambutnya dengan raut wajah frustasi. (()) "Mau di taro dimana muka gueee!" Kedua tangan Al terangkat seperti sedang menyembah sesuatu. "Taro di p****t," Al menoleh seraya menurunkan tangannya. "Papi, Papi!" Agatha berlari masuk ke dalam dapur memanggil ayahnya dengan heboh. "Atha ngeliat hantuuu!!" Sambil membuka kulkas Rafa menunjuk Al, "ini hantu nya?" "Bukan! Itu kan Abang Al," Rafa duduk di kursi mini bar seraya menuangkan air minum di gelas. Al memperhatikan ayahnya, ingin sekali ia bercerita namun sayangnya Rafa bukanlah orang yang dapat diajak serius membuat Al mengurungkan niatnya. "Apa sih?" Rafa menatap Al karena terlanjur risih diperhatikan. "Abang mau cerita," ucap Al dengan berbisik. "Papi lagi," Agatha ikut berbisik seraya menyodorkan gelas nya. Rafa menuangkan s**u kotak ke gelas imut milik Agatha. "Halah cerita-cerita, ujung-ujungnya minta duit." "Ck, enggak. Tapi Papi harus serius ya," Al pun duduk di sebelah Rafa. "Soal apa?" "Soal... Soal apa ya," Al mengetuk-ngetuk dagu nya. "Sekarang yang gak serius siapa?" Rafa menyodorkan pisau. Al nyengir. "Gini, Papi tau Oliv kan?" Rafa mengangguk. "Jadi gini ceritanya..." Al pun mulai bercerita panjang lebar pada ayahnya, semua ia ceritakan tanpa perlu ditutup-tutupi. Selama bercerita Rafa memang mendengarkan namun tidak serius, mendengarkan hanya untuk menghargai anaknya yang tengah mengoceh. "Terus Oliv tau Abang suka..." Rafa menoleh, "jadi kalian gak pacaran?" Al menggeleng. Rafa memperhatikan Al dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Aduh kalo Papi udah malu semalu malu nya ya ampun! Gak ada hubungan apa-apa ajak jalan sana sini, ajak makan, nganterin pulang, yang paling parah nya lagi ajak foto berdua." Rafa menepuk keningnya sambil menggelengkan kepala. "Ya kan..." Al tiba-tiba tidak bisa berkata-kata. "Pasti dulu Papi juga kayak gitu sama Mami!" Rafa tertawa keras. "Papi sama Mami gak pake modus-modusan, langsung jadi. Mami lagi yang nembak Papi," "Gak mungkin, kata Papi waktu SMA dulu Mami polos banget pasti Mami dikerjain tuh sama temennya," Tawa dan senyum Rafa menghilang. "Iya sih," Gantian Al yang tertawa keras, "haduh mau lah malu." Al beranjak dari duduknya, sebelum pergi dari dapur Al menenggak habis minuman milik ayahnya kemudian berlari keluar sebelum benda-benda keras melayang ke b****g nya. (()) Sudah berjalan beberapa langkah tiba-tiba saja Al memutar arah berlari untuk bersembunyi di balik tembok. Setelah bersembunyi Al sedikit menyembulkan kepalanya untuk mengintip Oliv yang sudah menghilang. Al bernapas lega seraya mengelus d**a, ia pun keluar dari balik tembok dan kembali berjalan menuju kelasnya. Namun baru sampai di tengah-tengah koridor Oliv keluar dari salah satu kelas dua belas membuat Al terkejut. Al langsung memalingkan wajah saat Oliv menatapnya, kini dua orang itu sedang berdiri di tengah-tengah koridor yang sepi. Al berdehem, "dari mana?" "Ngasih ini," Al menatap beberapa lembar surat yang ada di dalam amplop. Al mengangguk. "Kelas yang ini udah dikasih kan, Liv?" Al dan Oliv menoleh ke sumber suara. "Udah, tinggal IPA tiga, dua, sama satu." Balas Oliv. "Ya udah kita masuk ke kelas IPA tiga dulu," Oliv mengangguk menatap sebentar Al lalu melangkah pergi. "Itu siapa lagi anjir!" Al menendang tembok kelas seraya memaki. Al menghela napas mengeluarkannya dari mulut kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas. Setibanya di kelas Al kembali terkejut melihat Oliv berdiri di depan papan tulis, entah mengapa ia banyak terkejut setiap kali melihat gadis itu. Berusaha untuk tidak salah tingkah, Al berjalan menuju bangkunya dimana ada Dewa yang sudah menahan tawa. Satu jitakan keras melayang ke kepala Dewa ketika Al sudah duduk. "Bagiin aja langsung kan tadi udah dijelasin," Oliv mengangguk dan mulai membagikan surat-surat yang ia pegang pada kakak-kakak kelasnya dengan cara memanggil satu persatu nama mereka. (()) Dari dalam mobil Al memperhatikan Oliv yang sedang berhadapan dengan seorang perempuan yang memiliki wajah hampir mirip dengan Oliv, Al yakin jika perempuan yang baru ia lihat itu adalah saudara Oliv. "Kakak nya kali ya," gumam Al seraya keluar dari mobil. "Ngapain berdiri di sini? Ayo pulang," "Luan," "Kok gitu? Kakak baru aja sampe lho," "Udah sih duluan!" "Kamu pulang nya mau naik apa? Lebih bagus sama kakak," Oliv berdecak seraya membuang muka dimana ia langsung melihat Al yang sedang memperhatikannya. "Gue pulang sama dia," Oliv menunjuk Al sambil menatap kakaknya. Mata Al membulat lebar. "Liv..." Belum sempat kakak Oliv berbicara Oliv melangkahkan kakinya ke arah Al. Oliv berdiri di depan Al seraya menggerakkan mata nya ke arah pintu mobil. Ketika Al hendak membukakan pintu mobil Oliv langsung menepis tangan Al dan segera masuk. Al menyunggingkan senyum tipis pada kakak Oliv lalu ikut masuk ke dalam mobilnya. Saat mobil sudah jalan Al dan Oliv sama-sama diam, lima menit kemudian barulah Oliv membuka suara. "Berhenti," Al menoleh. "Berhenti," Al pun menepi untuk menghentikan mobilnya seraya membuka pintu mobil yang terkunci. "Kenapa lo gak percaya juga sama gue?" Tanya Al dengan satu tangan berada di setir dan juga pandangan lurus ke arah jalanan. Oliv mengurungkan niat untuk keluar saat mendengar ucapan Al. Al menoleh, "harus gue jelasin gimana lagi?" Gue gak tau apa-apa," Oliv ikut menoleh menatap lurus Al, "gue bakal percaya kalo lo bisa jawab pertanyaan gue." "Kenapa gue harus percaya sama lo? Kenapa lo berusaha banget bikin gue percaya? Kenapa lo keliatan care ke gue, kenapa?" Oliv tersenyum tipis ketika Al hanya diam saja. "Gak bisa jawab kan?" Al memukul kuat setir mobil saat Oliv sudah keluar dari mobilnya. "Kenapa lu malah diem sih, g****k!" Al kembali memukul setir mobil merutuki kebodohan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN