08

1043 Kata
Hari- hari Ray berlalu dengan sebagaimana adanya. Seperti mengganggu Azka, minum es jeruk yang sudah tersedia di kantin, mendapat hukuman dari guru, dan masih banyak lagi. Seperti sekarang ini, gadis itu berdiri memegang spidol sambil menggaruk kepalanya pada soal yang bahkan ia baca saja tidak. "Ayo, Raysa. Jawab soalnya," ucap guru wanita berkacak pinggang. Ray menarik napas lalu menatap Kay dan May seolah meminta pertolongan. Dua temannya itu berlagak sibuk dengan buku masing-masing. Dilihatnya juga, Azka hanya mengarahkan pandangannya pada jendela. "Raysa!" tegur Bu Sintia. Ray membaca soal matematika tersebut dengan teliti kemudian menuliskan jawaban lengkap dengan rumusnya hingga membuat beberapa siswa bertepuk tangan. Perhatian Azka juga tertuju pada gadis itu. "Pintar ya kamu," puji Bu Sintia mempersilahkan Ray untuk duduk. "Tega kalian!" tunjuk Ray pada dua temannya yang cengengesan. "Lo cuma malas baca, kan?" tanya Azka sesaat setelah Ray duduk disampingnya. "Enggak, buktinya gue selalu baca pesan lo meski cuma. Hm, iya, nggak, ok." Ray berucap memperlihatkan ruang chatnya dengan pemuda itu setelah mereka bertukar nomer. Azka tersenyum singkat. Ray menggaruk pelan lehernya hingga ia menyadari kalau kalungnya tak berada ditempatnya. "Kenapa?" tanya Azka menatap eskpresi Ray yang berubah. "Kalung gue!?" pekik Ray membuat perhatian seisi kelas tertuju padanya. Ray tak memperdulikan itu, ia berjongkok meneliti lantai kelas. Bahkan sampai kebawah kursi Azka. "Raysa, ada apa?" tanya Bu Sintia bingung. "Permisi!" ucap Ray langsung meninggalkan kelas disusul Kay dan May yang seolah mengerti kalau Ray mencari kalungnya. "Kalung gue, nggak ada!" ucap Ray pada Kay dan May. "Mungkin aja ketinggalan dirumah?" tanya May menatap lantai koridor yang dilewatinya. "Enggak! Gue nggak pernah ngelepas kalung itu setelah... Alif pasangin," ucap Ray mulai mengusap pipinya. "Jangan sedih, kita cari bareng-bareng. Coba lo ingat, pagi ini elo kemana aja?" tanya Kay memeluk Ray singkat. "Rooftop, toilet, main basket sama Akmal, kantin." Ucap Ray mengingat- ngingat. "Oke, gue ke toilet!" ucap Kay kemudian pergi. "Gue? Jangan ditanya lagi. Udah pasti kekantin!" May pergi dengan langkah besar. Kini Ray berlari menuju lapangan menyusuri tepi lapangan basket saat ia bermain basket bersama Akmal pagi tadi. "Pasti di rooftop!" keluh Ray bergegas berlari menaiki tangga menuju rooftop. Ray kembali mengedarkan pandangannya namun tak kunjung mendapati kalung berliontin bulan sabit pemberian Alif Sanjaya. "Kalungnya... nggak mungkin hilang, kan?" tanya Ray menatap langit biru. Ray menunduk, mengusap air matanya hingga seseorang berdiri dibelakangnya mengalungkan sesuatu dilehernya. Ray menatap liontin bulan sabit tersebut dengan tatapan tak percaya. Ia berbalik setelah kalungnya terpasang. Azka berdiri dihadapannya dengan ekspresi sulit diartikan. "Di dekat papan tulis," ucap Azka membuat Ray tak dapat menahan diri untuk tidak memeluk pemuda itu. "Makasih... hiks!" isak Ray dalam dekapan Azka. "Sama- sama..." jawab Azka mengusap kepala gadis dihadapannya. "Gue takut banget kalungnya hilang," isak Ray melepas pelukannya sembari mengusap pipinya. "Enggak bakal," ucap Azka menenangkan. Beberapa jam kemudian, waktu pulang sekolah tiba. Kay masuk kemobil diikuti May, sedangkan Ray masih berdiri menatap Azka yang sudah naik kemotornya. "Mau pulang sama Azka?" tanya Kay. Ray mengangguk kemudian pergi menghampiri Azka. "Ray, mulai suka ya sama Azka?" tanya May tersenyum. "Semoga," ucap Kay lalu tancap gas. "Azka si Jenius!" panggil Ray menepuk jok belakang Azka. "Ck, berhenti panggil itu!" kesal Azka memasang helm full facenya. "Hehehe... jok belakang kosong nih, emang cocoknya cuma gue yang duduk disini, kayak gini!" Ray naik ke motor Azka dan sudah berpegangan pada pemuda itu. "Turun," titah Azka dingin. "Ih! Jahat banget! Teman-teman gue udah pulang karena ngira gue pulang sama elo!" ucap Ray turun dari motor. Azka melepas helmnya, menatap Kevin yang tengah bicara dengan beberapa pemuda. Azka menghampiri Kevin lalu melempar kunci motornya dan langsung ditangkap oleh Kevin. Kevin menatap Ray, ia mengerti dan langsung melempar kunci mobilnya pada Azka. "Mau nginap di sekolah!?" tanya Azka membuat Ray langsung menghampiri pemuda itu. "Tunduk banget si Kevin sama elo," ucap Ray setelah masuk di mobil Kevin dengan Azka yang duduk dikursi kemudi. "Panjangin dulu rok elo, baru naik ke motor gue!" sinis Azka membuat pipi Ray memerah menatap pemuda itu. "Iya ah... nanti," kekeh Ray menutupi pahanya. Azka tancap gas meninggalkan sekolah dengan mobil Kevin membawa Ray bersamanya. "Eh, ini kan jalan rumah lo?" tanya Ray saat Azka seperti tak berniat mengantarkannya pulang. "Gue lapar, makan dulu." Ucap Azka jujur. "Gue juga lapar, tawarin gue makan dong!" ucap Ray namun Azka tak menjawab hingga mobil terparkir didepan rumah Azka. Pemuda itu turun disusul Ray. "Bunda," panggil Azka memperhatikan keadaan rumah. "Bunda kerumah temannya, lo kalau lapar tinggal makan jangan kayak bayi!" Ray menatap seseorang yang turun dari tangga sambil bermain ponsel. "Apaan sih!" sinis Azka menarik tangan Ray menuju dapur hingga saat seseorang itu mengangkat wajah. Pandangannya bertemu dengan Ray. "Raysa?" Azka menghentikan langkahnya menatap sang kakak yang tersenyum pada Ray. "Bentar, lo Raysa 'kan?" tanya pemuda itu. "Gue Gilang, masa lo lupa?" ucap Gilang Fareza Rafael, kakak dari Azka. "Skateboard, ingat nggak?" tanya Gilang lagi. "Oh! Ingat!" ucap Ray cepat dengan senyum ramahnya pada Gilang. "Pergi sana!" usir Azka pada sang kakak. Gilang tertawa menatap sang adik yang menggenggam tangan Ray. "Gue aduin bunda, lo pegang- pegang tangan cewek!" kekeh Gilang. Bukannya melepaskan Ray, Azka malah menarik gadis itu kemudian merangkul bahunya. "Eh!?" kaget Ray atas tingkah agresif Azka yang baru pertama kali ia lihat. "Pergi lo! Kemana kek!" usir Azka lagi. "Mau berduaan ya dirumah?" goda Gilang mengedipkan matanya pada Ray. Ray hanya cengengesan memegang perutnya yang sudah lapar. "Kak! Gue bilang pergi," kesal Azka pada sang kakak. "Azka, jangan gitu sama kakak lo!" ucap Ray melepas rangkulan pemuda itu. "Tuh, dengerin apa kata calon kakak ipar lo," ucap Gilang membuat Ray menampilkan ekspresi konyol. "Bercanda," kekeh Gilang mengusap kepala Ray kemudian pergi menuju pintu yang masih terbuka. "Lo mau makan apa ngelamun!?" tanya Azka kesal. Ray melangkah cepat mengikuti Azka hingga mereka tiba di meja makan. Azka mengambil satu piring kemudian menyerahkannya pada Ray. "Terus elo?" tanya Ray polos sembari menaruh nasi ke piring. "Udah kenyang!" jawab Azka dengan sinis. "Aneh banget, gue jadi malu numpang makan doang." Ray mengambil lauk lalu menyantap masakan Dalila dengan senyum kecil. "Kakak gue, orang aneh! Jangan di dekatin!" ucap Azka menatap Ray tajam. "Buset, kakak lo juga manusia kali. Ngeliat kakak lo, gue jadi kangen sama abang gue----" "Jangan dekatin dia!" potong Azka menaruh dua tangannya diatas meja makan. Ray mengangguk saja sambil mengunyah makanannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN