Aditya memancarkan aura membunuh yang disertai tatapan tajam ke arah sang sahabat yang tengah berbicara lewat sambungan telepon dengan pacarnya. Semua terasa sulit dia percayai. Sebuah kenyataan yang mampu menghantam dirinya hingga jatuh tak berdaya dan melumpuhkan kerja saraf-saraf di tubuhnya dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum akhirnya kesadaran kembali dia peroleh. Rendra darah dagingnya? Bagaimana bisa? Apakah ini sebuah lelucon? Jika hanya sebagai sebuah candaan, tapi kenapa rasanya begitu sesak serta menyakitkan? Bukankah dia seharusnya tertawa dan menanggapi dengan santai? Rangkaian demi rangkaian kata yang baru saja diterima oleh saraf-saraf indera pendengarannya menyadarkan Aditya bahwa semua adalah fakta bukan sekadar lelucon belaka. Tapi, kenapa baru sekarang? Mengapa

