Bab 12

796 Kata
#Skip Usia kandungan Tari sudah memasuki bulan ke enam, tentu perutnya pun sudah terlihat membuncit. Dengan perut buncitnya tersebut membuat Tari terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Dan meski pernikahan yang dijalaninya hanya demi status anak yang dikandungnya namun Tari tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, ia melayani segala keperluan Bintang dengan baik mulai dari menyiapkan pakaian kerja, sarapan dan segala kebutuhan Bintang lainnya. Tari bukan bermaksud mengambil perhatian atau pun menggoda Bintang, namun ia hanya berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Sementara itu Bintang sendiri merasa banyak perubahan yang terjadi pada dirinya selama ia menikahi Tari, ia mendapat banyak perhatian yang diberikan Tari yang tidak pernah ia dapatkan dari Luna. "Pakaianmu sudah siap tuh" ucap Tari seraya menunjuk setelan kerja Bintang yang ada di atas ranjang, keduanya merubah panggilan masing-masing tentunya atas paksaan dari orang tuanya. "Ya terima kasih" ucap Bintang. "Kamu sering ketemu Luna?" tanya Tari. "Hm iya, kenapa?" sahut Bintang seraya mengenakan pakaiannya. "Aku bukan melarang Bin, aku hanya mengingatkan, bisa gak dibatasi. Aku khawatir ada yang melihat kebersamaan kalian" ucap Tari. "Aku bisa atur kok, kamu jangan khawatir" ucap Bintang sambil mengenakan dasinya. Tari menatap Bintang yang kesulitan mengenakan dasinya. "Biar aku bantu" Tari menghampiri Bintang dan membantunya memasang dasi. "Hari ini aku akan pulang telat" ucap Bintang, ia menunduk menatap wajah cantik Tari yang sedang fokus memasangkan dasinya. "Mau kemana?" tanya Tari. "Mau jalan sama Luna" ucap Bintang. "Oh ya sudah gapapa" angguk Tari. "Ya sudah yuk sarapan" ucap Bintang setelah dasinya terpasang rapi. Keduanya masuk ke ruang makan dengan senyum di bibirnya. "Selamat pagi sayang" sapa Naomi pada anak-anaknya. "Pagi mah" sapa Bintang dan Tari bersamaan. "Ayo sarapan dulu" ajak Mathew. Seperti biasanya pula Tari melayani keperluan makan Bintang dengan sangat telaten dan penuh perhatian. "Tari sore hari ini check up kan nak?" tanya Naomi pada menantunya. "Iya mah, nanti minta antar sama pak Darman" ucap Tari seraya menuangkan kopi untuk Bintang. "Loh kok pak Darman sih, Bintang temani istrimu" ucap Mathew. "Bintang kan kerja pah" sahut Tari. "Check upnya sore kan Tar? bisalah Bintang menemani kamu" ucap Naomi. "Iya nanti aku temani" ucap Bintang bersuara. "Tapi kamu kan..." "Aku bisa kok, aku juga mau melihat bagaimana perkembangan anakku" ucap Bintang seraya mengusap perut buncit Tari, dan kali ini ia tidak sedang berpura-pura, ia serius ingin melihat perkembangan calon anaknya. Tari tersenyum tipis menatap Bintang yang sedang mengusap perutnya, sementara itu Bintang merasakan getaran aneh saat ia mengusap perut buncit perempuan disampingnya itu, getaran yang selama ini belum pernah dirasakannya. Usai sarapan Bintang pun berangkat ke kantor, ia pamit lebih dulu pada papa dan mamanya. Seperti biasanya Tari pun mengantarnya ke teras depan. "Siang ini aku mau ke kampus" ucap Tari. "Hm di antar pak Darman kan?" ucap Bintang. "Iya" angguk Bintang. "Aku berangkat ya" pamit Bintang tanpa ciuman dan pelukan hangat layaknya suami istri, ia pun memutar tubuhnya menuju mobil. "Ya" angguk Tari. "Emm... Tar... boleh aku menyapanya?" Bintang menunjuk perut buncit Tari. "Oh bo... boleh Bin" angguk Tari. Bintang sedikit menunduk menyejajarkan wajahnya dan perut buncit Tari. "Hai nak... daddy berangkat kerja dulu ya" ucap Bintang seraya mengusap perut Tari dan mengecupnya. Mendapat perlakuan seperti itu Tari pun tersenyum. --- Tari duduk di depan gerbang kampus menunggu jemputannya yang tak kunjung datang. Tengah asik memainkan iphonenya sebuah mobil berhenti tepat didepannya. "Tar menunggu siapa?" tanya pak Aldi dari dalam mobilnya. "Oh pak Aldi, saya menunggu jemputan pak" Tari berdiri dan menyapa dosennya tersebut. "Kamu pulangnya ke mana?" tanya pak Aldi. "Saya ke Tangerang pak" sahut Tari. "Ayo saya antar saja, satu tujuan kok dengan saya" ucap pak Aldi. "Terima kasih pak, tapi sebentar lagi jemputan saya datang" ucap Tari. Aldi turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Tari. "Ayo masuk saja, jangan sungkan" ucap pak Aldi sedikit memaksa. Tanpa Tari tau Bintang yang bermaksud menjemputnya melihatnya masuk ke mobil sang dosen. "Siapa pria itu? pacarnya?" entah mengapa Bintang merasa kesal melihat Tari bersama pria lain. Ia menggeram marah melihat senyum yang mengembang di bibir Tari. --- Setelah jam kantor usai Bintang pun segera bersiap pulang untuk mengantar Tari check up. Namun terlebih dulu ia menghubungi Luna untuk membatalkan janjinya. "Hai sayang kamu jemput jam berapa biar aku siap-siap" sahut Luna begitu menerima telponnya. "Lun maaf kita batal dulu ya, aku mau menemani Tari periksa kandungan" ucap Bintang. "Apa kamu bilang? batal? hanya demi perempuan itu kamu membatalkan acara kita?" ucap Luna kesal. "Aku janji besok kita akan jalan, tapi tidak untuk hari ini. Aku mau menemani Tari periksa" ucap Bintang menenangkan Luna. "Keterlaluan banget sih, dia gak bisa berangkat sendiri ke klinik? manja banget" omel Luna. "Dia gak minta untuk ditemani Lun, tapi aku yang mau menemaninya. Aku juga mau melihat perkembangan anakku" ucap Bintang. "Oh gituuu... jadi sekarang kamu mulai peduli pada dia?" geram Luna. "Bagaimana pun anak itu adalah anakku, darah dagingku" ucap Bintang. "Sudahlah aku kesal sama kamu" omel Luna yang kemudian mematikan sambungannya. Setelah menghubungi Luna Bintang pun bergegas untuk pulang. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN