Bab 7

869 Kata
Bintang dan Luna tengah duduk bersama, mereka duduk disebuah cafe. Luna menyandarkan kepalanya di pundak Bintang, ia memang terbiasa bermanja pada tunangannya tersebut, Bintang tentu dengan senang hati melayani kemanjaan tunangannya tersebut. Dalam diam ia menatap wajah cantik Luna ia mengecup lembut kening gadis itu, dalam diamnya Bintang berusaha meredam rasa sedihnya karena akan melepas Luna. "Sayang aku mau bicara serius" ucap Bintang. "Hm apa? soal rencana pernikahan kita?" tanya Luna. "Bukan itu" ucap Bintang. "Lalu soal apa?" tanya Luna seraya menatap Bintang. "Aku mau cerita, malam itu saat aku menghadiri pesta ukang tahun Ardi di apartemennya" ucap Bintang. "Ya kenapa?" tanya Luna tenang. Bintang menarik nafasnya sebelum memulai cerita. "Malam itu aku gak sengaja ketemu Tari di cafe. Karena aku tau kamu gak akan mau menemaniku ke acara ulang tahun itu akhirnya aku  mengajak Tari. Di acara itu ada banyak minuman, kami minum bersama dengan yang lain. Aku gak sadar... entah bagaimana aku dan Tari terbangun di sebuah hotel... kami... dijebak..." cerita Bintang. "Apa kamu bilang? bangun di hotel? bagaimana bisa?? apa yang kalian lakukan?!" ucap Luna yang sudah nampak emosi. "Maafkan aku yank, aku juga tak menyadarinya" Bintang memohon maaf pada Luna karena telah tidur bersama Tari. "Jadi kamu dan Tari..." air mata Luna seketika jatuh tak dapat ditahan. "Itu semua benar-benar diluar kendaliku, dan sekarang orang tua Tari meminta aku bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi, Tari hamil" ucap Bintang menyesali. Luna menatap tajam sang tunangan dengan air matanya yang berjatuhan dan sebuah tamparan keras ia berikan pada Bintang, ia tak peduli pada tatapan semua orang yang ada di cafe itu. "Maafkan aku yank, maaf..." ucap Bintang. "Apa maafmu bisa merubah semuanya? apa maafkan bisa mengobati rasa sakitku?" isak Luna. "Yank..." "Sekarang aku tanya maksud kamu mengatakam semua ini apa? mau menyudahi hubungan kita dan kamu menikahi Tari?!" teriak Luna. Bintang tak dapat menjawab pertanyaan Luna, ia hanya menunduk menyesali apa yang sudah terjadi. "Jahat, kamu jahat Bintang" teriak Luna seraya melepas cincin pertunangannya dan melemparkannya tepat mengenai wajah Bintang, kemudian ia pun berlalu pergi dengan air mata yang membanjiri pipinya. "Yank..." teriak Bintang namun tak dihiraukan Luna. --- Malam itu kedua orang tua Bintang menyambangi kediaman orang tua Luna untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi dan menyelesaikan semuanya. Orang tua Luna tentu marah saat mendengar cerita tersebut, mereka tak terima anaknya dipermainkan seperti itu. "Saya benar-benar tidak menyangka Bintang bisa seperti itu" geram Leo papanya Luna. "Pantas saja sejak tadi siang Luna mengurung dirinya di kamar" ucap Laura mamanya Luna. "Kami benar-benar minta maaf atas semua ini" ucap Herman. "Kami pun tak menyangka akan semua ini, dan ini diluar kuasa kami" ucap Naomi, mamanya Kevin. "Saya mohon pengertiannya, dan dengan sangat terpaksa kita batalkan rencana pernikahan mereka" ucap Naomi lagi. Wajah orang tua Luna terlihat sangat tidak bersahabat mereka benar-benar marah seolah tak terima putrinya dipermainkan seperti ini. "Beruntunglah putri kami yang gagal.menikah dengan putra kalian yang b******n itu" geram Leo. "Kami permisi" ucap Naomi tanpa dapat membalas hinaan Leo. --- Siang itu mobil Luna berhenti tepat didepan rumah Tari ia turun dari mobilnya dan langsung mencari Tari. Tak lama Tari keluar, ia terlihat merasa bersalah begitu melihat Luna. Dari wajah dan matanya yang sembab Tari dapat menebak Luna sudah mengetahui apa yang terjadi. "Lun gue..." PLAAAKK!! Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Tari. "Kak Luna!! apa yang kakak lakukan?!" geram Audy begitu melihat sang kakak yang mendapat tamparan dari sahabatnya. "Itu hadiah yang pantas buat kakak lo ini, si perusak hubungan orang" geram Luna. "Lun maaf, semua itu diluar kuasa gue. Gue dijebak..." "Puas lo? puas lo menghancurkan gue Tari?! puas lo menghancurkan masa depan gue? mimpi-mimpi gue?" teriak Luna. "Kak Luna, kakak gak berhak menghakimi kak Tari. Kak Tari juga korban di sini, dia dijebak" teriak Audy marah. "Diam lo anak kecil, tau apa lo" geram Luna. "Gue gak akan diam karena lo sudah seberani ini sama kakak Gue" sahut Audy tak takut. "Tadinya gue pikir lo sahabat yang baik Tar, yang bisa dipercaya. Ternyata gue salah... lo bahkan menggigit gue dari belakang. Sakit Tar... sakit..." ucap Luna. "Lun... gue gak bermaksud... gue minta maaf" hanya maaf yang bisa keluar dari bibir Tari. "Apa dengan maaf lo bisa mengembalikan keadaan? apa dengan maaf lo bisa membuat Bintang kembali ke gue?" ucap Luna. "Sudah cukup kak Luna" ucap Audy. "Lo iri sama gue Tar? lo iri karena sebentar lagi gue dan Bintang akan menikah sementara lo sendiri belum memiliki kekasih, lo iri kan hingga lo menjebak Bintang" teriak Luna. "Kak Luna jangan sembarangan bicara! kakak pikir kak Tari perempuan seperti apa?! kami dari keluarga baik-baik kak dan gak mungkin hanya karena rasa iri rela menyerahkan diri hanya untuk seorang pria" geram Audy. "Buktinya? lihat sekarang kakak lo hamil diluar nikah sama tunangan gue, dan apa ini bisa di sebut dengan keluarga baik-baik?" Luna tersenyum sinis dan mengejek. "Benar-benar gak becus orang tua lo mendidik anak, merebut tunangan orang dan hamil di luar nikah" ucap Luna sinis. Dan sebuah tamparan pun mendarat di pipi Luna tak kalah keras dari yang Tari dapatkan dari perempuan itu. "Silahkan lo hina gue sepuas lo karena gue memang salah. Tapi gue gak akan tinggal diam saat lo menghina orang tua gue" teriak Tari seraya menjambak rambut Luna dan mendorongnya keluar rumahnya. Sementara itu Bintang baru menyadari sesuatu, ia segera menuju apartemen Davin mencari tau siapa yang telah menjebaknya dan Mila. ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN