Part 9

1083 Kata
Sepulangnya dari Cafe untuk sekedar menikmati kopi hitam dan memesan beberapa makanan di sana, Senja memang tidak berniat untuk pulang ke rumah karena ia muak melihat wajah istri yang sama sekali tidak ia sukai itu. Dengan mencari alternatif tempat istirahat, niatnya senja ingin menginap dan tinggal di hotel saja untuk beberapa hari sampai orang tuanya kembali ke rumah. Setelah ia berdebat dengan dirinya sendiri untuk menentukan hotel yang pas untuk menjadi tempat tinggalnya. Akhirnya pilihannya tertuju pada sebuah hotel berbintang yang terletak agak sedikit jauh dari pusat kota. Dengan tujuan meredakan suara hiruk-pikuk itu agar sedikit melegakan sarafnya yang tengah di gelumuri rasa benci pada semua orang yang telah menjerumusnya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah ia inginkan itu. Ia segera melajukan mobilnya ke sebuah hotel ternama itu. sesampainya di sana, dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa. Wanita bertubuh semampai itu berjalan berlenggak-lenggok dengan menjinjing tas mahal di tangannya. Walaupun wajahnya sudah sedikit terlihat beberapa kerutan, wanita itu tetap masih menampilkan pesona kecantikannya. Dengan memakai long Dress berwarna hitam tanpa lengan, wajahnya juga tidak lupa ia polesi dengan warna-warna yang Strong. Bibirnya sengaja ia polesi dengan warna merah merekah, pipinya juga diberi warna pink keorangean, serta alis yang sengaja ia ukir agar terlihat lebih sempurna. Matanya sengaja ia tutup dengan kacamata berwarna hitam. Ia berjalan dengan tegap walaupun memakai sepatu hak yang lumayan tinggi. Di sebelahnya juga terlihat seorang pria berumur dengan beberapa orang yang menjadi ajudannya. Pria itu sepertinya bukan orang sembarangan. Rambutnya yang sudah sedikit beruban itu tertata dengan sangat rapi. Jas hitam yang ia kenakan itu juga menambah kesan mewah pria tua itu. Tidak lupa, matanya juga ia tutupi dengan kaca berwarna hitam. Senja mulai mengamati dengan saksama dua orang yang sepertinya ia kenali itu. Ia kembali mengedip-ngedipkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat itu benar. Iya, itu Mama Mayola yang sedang berjalan menuju sebuah hotel bersama seorang pria. Mata senja kembali ia kedip-kedipkan berusaha melihat lebih pasat wajah wanita yang berkaca mata hitam itu. “loh! Itu kan Mamanya Mayola. Ngapain dia sama om gunawan masuk ke hotel ini?” batin senja Dengan penuh rasa curiga, senja membuntuti mereka dari belakang. Senja tetap menjaga jarak aman agar tidak ketahuan. Ia juga mengabadikan beberapa Foto yang mungkin saja berguna sewaktu-waktu. “jangan-jangan ... yang dikatakan tante Ana waktu di pesta itu bener?” senja kembali menduga-duga. Om gunawan ini adalah papa nya Gina, suami nya tante Ana. Mungkin saja ini penyebab dua beranak itu sangat membenci Mayola. “jika memang benar antara om gunawan dan mamanya Mayola ini ada hubungan gelap, tidak sepantasnya tante Ana dan Gina mencaci maki Mayola. Pasti Mayola tidak tahu menahu mengenai hal ini.” Senja masih terus melangkah dan menyeimbangkan jarak aman dari mangsa yang menjadi intaiannya itu. Langkah senja terhenti tatkala melihat mereka berhenti di lobi hotel dan bercipika-cipiki dengan dua orang yang sepertinya sudah menunggu mereka di sana. Ada wanita yang boleh dikategorikan masih belia dan ada seorang pria yang juga berusia setara dengan om gunawan. “apa yang mereka lakukan di sini?” perasaan senja semakin bercampur aduk dan semakin tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi di antara 4 orang yang ia curigai itu. Lalu ... setelah berbicara panjang lebar yang tentunya tidak bisa Senja dengar dengan telinga telanjang, langkah mereka kembali menuju pintu keluar. Senja yang tengah bersembunyi di sebalik itu gelagapan karena takut ketahuan tengah menguntit mereka semua. Di balik pintu kaca itu, ada tanaman palem hias yang tumbuhnya lumayan besar. Senja berusaha berlindung di antara daun-daun tanaman itu. Langkah keempat orang yang ia curigai itu semakin dekat dengannya. Belum lagi para ajudan om gunawan yang berbadan besar tegap itu mampu membuat keberanian senja menciut. “jadi ... agenda kita hari ini hanya itu?” tanya mamanya Mayola kepada wanita muda itu. Semakin mendekat, semakin terdengar jelas oleh senja apa yang mereka bicarakan. “iya, buk. Selepas itu, kita sudah boleh kembali ke aktivitas masing-masing,” jawab wanita muda itu. “jangan lupa segera transfer ke saya. Soalnya saya sedang butuh uang,” ucap mamanya Mayola yang terdengar sedikit menggelegar. “oke, siap, buk. Secepatnya akan saya transfer.” Wanita itu menjawab dengan raut tersenyum. Sementara om gunawan dan rekannya itu juga membicarakan hal yang tidak terdengar jelas oleh senja. Mereka terlihat saling tertawa kecil dan rada-rada berbisik. “Ouh! Untung saja mereka tidak mengenaliku” batin senja ketika rombongan itu melewati pintu keluar. Masih banyak sekali teka-teki yang mengganjal di hati senja. Agenda apa yang mereka maksud? Transfer uang? Teka-teki itu ia coba beri kesimpulan sendiri bahwa yang dikatakan tante Ana saat itu tidak salah. Mungkin mamanya Mayola memang benar bekerja sebagai lont* untuk membebaskan beban ekonomi keluarga. Bukankah mamanya juga berbekal ilmu sekolah tinggi sebagai sarjana? Mengapa harus mengambil jalan pintas dengan pekerjaan yang tidak sepatutnya ia kerjakan. Itulah hidup, manusia memang memiliki prinsipnya masing-masing. Mobil om Gunawan dan sekawanan mencurigakan tadi, melejit meninggalkan hotel itu. Sementara senja mulai chek in di hotel itu. Mencari nomor kamar lalu beristirahat dengan tenang tanpa ada embel-embel istri yang menyebalkan. Kasur spring bad yang empuk itu telah menahan beban berat dari badan senja. Ia menindih dengan sangat nafs* karena rasa kantuk juga mulai menyelusup. Ia mulai memejamkan matanya yang memang sudah layu itu. Akan tetapi, notif gawainya berbunyi. Sungguh ini suatu yang sangat menjengkelkan baginya. Ia sudah mulai ingin menerbangkan khayal ke alam mimpi karena notif itu, ia mengurungkan niat. Ia mulai membuka kembali mata yang tadi tertutup. Segera ia raih ponselnya untuk segera mengecek apa yang baru saja masuk, jangan-jangan ada sesuatu yang penting. Namun, semuanya di luar ekspektasi, ia segera membuka notif pesan dari aplikasi berwarna hijau itu. [Mas, kamu di mana?] Ya, pesan itu dari kontak yang diberi nama Mery. “Apa-apaan sih, nih cewek selalu ngerusak mood aku. Percuma kamu capek-capek chat saya, gak bakal di balas,” batin senja dengan tersenyum sinis mengangkat sebelah alis. Senja meletakkan gawainya ke sembarang arah lalu kembali memejamkan matanya. Kali ini alam mimpinya harus terbang dengan sempurna, harus pertemukan lagi ia dan Mayola. Setidaknya di alam nyata mereka tidak dapat di satukan, semoga di alam mimpi dapat berakhir dengan bahagia. Begitulah yang sering menjadi pinta senja. Lagi-lagi, notif itu kembali berbunyi. Ternyata juga pesan masuk dari Mery. Senja benar-benar muak dengan apa yang Mery lakukan ini. Dia segera meraih ponselnya lalu mengubah jaringannya menjadi mode pesawat. *** Di rumah, Mery sangat resah dengan perutnya yang masih terus-menerus terasa sakit. Ia sudah beberapa kali menghubungi senja tetapi nomornya sudah tidak aktif. Ia sangat bingung apa yang harus ia lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN