Danau Walia, disebuah perkampungan asri. Di situlah tempat yang tepat untuk ia menyendiri. Mayola sudah menghabiskan hidupnya bertahun-tahun di perkampungan ini. Berharap suatu saat, akan kembali ke tempat masa kecilnya untuk kembali mengulang kasih dengan sahabat masa kecilnya. Dia Senja, cinta pertama yang kini telah lama tak ada kabar berita.
Rinai mulai turun, dia menyudahi lamunan lalu beranjak kembali kerumah. Hanya bekas jejak dan rasa gelisah yang ia tinggalkan disana. Danau yang tenang seakan ingin menenggelamkannya, kini berubah riak karena rinai tadi semakin menyerang dengan buasnya, hujan lebat datang.
Wajah putihnya kini berubah pucat pasi, menahan rasa dingin. Embusan angin semakin membius sampai ketulang batinnya. Jika bukan tentang undangan yang kemarin sampai, dikirim oleh sahabat lama nya itu, tidak mungkin dia mengucurkan hujan yang bercampur dengan tetesan air dari mata langit, petang ini.
***
Sementara di sisi lain ....
Senja bertekuk lutut pada kedua orangtuanya, berusaha menolak perjodohan sepihak yang telah dirancang sedemikian rupa. Namun, semua yang dia lakukan berbuah nihil. Orangtuanya masih sama, selalu memaksakan kehendak pada Senja.
***
Sementara di lain tempat ....
Bus pariwisata melaju menuju sebuah perkampungan. Dengan pengemudi yang sudah ahli, bus itu melaju dengan sigapnya, tanpa mempedulikan jalanan yang licin karena baru saja turun hujan dengan deras. Lubang-lubang jalanan yang tertutup genangan air membuat para penumpang tersentak dan terperanjat. Begitupun dengan Mahesa, terduduk pongah disalah satu bangku penumpang, sambil meliarkan mata keluar jendela. Kaca jendela yang masih dengan tempelan butir-butir air membuat pandangannya buram, hanya barisan ilalang dipinggir jalan yang terlihat walaupun tidak terlalu jelas.