Part 14

1384 Kata
Mahesa dan Anto memutar otak, mereka tidak mungkin lagi berkeliaran di sekitar perkampungan dengan motornya yang bersuara sangat keras itu. Dengan ancang-ancang berjalan kaki mencapai rumah target, Anto dan Mahesa sudah menyiapkan beberapa kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan menimpa mereka berdua apabila ketahuan. Yang pertama mereka akan digebuki warga karena dibilang maling. Yang kedua, mereka akan kesusahan melewati semak belukar yang menjulang tinggi agar tidak ketahuan warga. Mereka memutuskan untuk mengambil risiko berjalan kaki dari danau Walia itu menembus semak-semak di belakang rumah Mayola. Mereka juga memutuskan melakukan itu di malam hari, dan juga sudah mempertimbangkan matang-matang mengenai sekelompok warga yang hobi nongkrong di sebuah warung kopi tepat di depan rumah Mayola. Mereka juga membuat ancang-ancang yang pas bagaimana caranya agar ke tujuh buah jarum tersebut dapat menancap dengan baik di halaman depan rumah Mayola. Tak luput, mereka juga memperhatikan kostum yang sesuai. Warna hitam adalah pilihan yang tepat untuk menyamarkan warna hitam pekat yang dihasilkan oleh malam. “Nto, kita berangkatnya jam berapa?” tanya Mahesa ketika menunggu waktu yang dinanti-nantikan itu tiba. “Sabar dulu, bos. Ini belum tengah malam.” Jawab Anto sembari memandang jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Jam tersebut masih menunjukkan pukul 22.39 WIB. “Aduh! Masih lama ya, Nto. Mana banyak banget nyamuk lagi.” Mahesa mulai mengibas-ngibas tangannya yang bertujuan untuk mengusir nyamuk-nyamuk yang berdatangan. Anto bergerak cepat karena ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh bosnya itu. Menjadi santapan nyamuk lapar memang tidak menyenangkan. Ia mulai beraksi mencari dahan-dahan kering kemudian mulai menghidupkan unggun yang bertujuan agar asapnya mampu mengusir nyamuk. “Nto, gue ngantuk banget nih. Gue istirahat dulu di gubuk ya, kalo gue tertidur lo bangunin aja,” ucap mahesa sembari menepuk pundak Anto yang masih berusaha menghidupkan unggun itu. Bagaimana mungkin unggun tersebut bisa hidup, dahan-dahan yang tadi ia ambil tidak terlalu kering dan masih sangat lembab karena hujan memang kerap kali datang mengguyurnya. Akan tetapi Anto sama sekali tak patah arang, ia masih terus berusaha menghidupkan walaupun dengan bersusah payah. Mahesa yang sudah berjalan menuju gubuk meninggalkan Anto di pinggir danau sendirian, tak ada bayangan bulan apalagi bintang-bintang. Ia hanya ditemani nyanyian-nyanyian menyeramkan yang dihasilkan oleh burung hantu hutan. Anto yang juga berjiwa setan tidak mungkin takut dengan suara-suara yang katanya menyeramkan itu. Mahesa memang menjatuhkan dirinya ke atas katil yang beralas tikar itu, entah itu kini yang menjadi kebiasaan barunya atau mungkin ia berusaha senyaman mungkin menikmati fasilitas gubuk di sebuah hutan pedesaan ini. “Tunggu saja, Mayola. Kamu akan segera menjadi milikku,” ucap Mahesa dalam hati. Ia memejamkan matanya kemudian benar saja, tak berselang lama ia pun langsung tertidur. “Bos ... bos ... bangun ....” suara Anto berusaha membangunkan mahesa. Mahesa yang memang sejatinya sangat susah buat dibangunkan itu masih menikmati tidurnya dengan sangat khidmat. Tidak sekali pun ia menjawab rauangan Anto bahkan tubuhnya pun juga sudah Anto guncang-guncangkan sebagai usaha untuk membangunkan bosnya itu. “bos ... ayo!” kali ini Anto mengguncang tubuhnya lebih kuat. “aa ... aa ...,” responnya walaupun masih dalam keadaan belum terkumpul nyawa. “Bos, jadi gak kita ke rumah Mayola?” ucap Anto yang membuat mahesa terbangun dengan sigap karena mendengar nama Mayola. “Udah jam berapa sekarang, Nto?” tanya mahesa dengan sedikit serak. “Udah pukul 02.12 WIB, Bos. Biasanya jam segini, di warung uda sepi.” Mahesa yang semula berbaring kini terduduk sembari mengucek-ngucek kedua matanya dengan tangan. “Ayok, Nto. Kali ini kita jangan sampai gagal.” Mahesa terlihat sangat bersemangat. Tujuh jarum yang terbungkus kain usang itu tentu tidak lupa ia bawa untuk melancarkan semua aksinya. *** Di lain tempat, Mayola merasakan ada sesuatu yang menjanggal dalam dirinya. Dari tadi ia tak bisa tidur walaupun jam sudah menunjukkan dini hari. Matanya terkatup tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia beranggapan kalau itu adalah efek dari masalah yang tadi menimpanya dan senja. Dia memandang papanya yang tengah tertidur pulas di atas ranjang. Mungkin itu pengaruh obat-obatan yang ia konsumsi sehingga akhir-akhir ini sang papa memang lebih sering memejamkan matanya daripada terjaga. Kondisi papanya memang terlihat begitu-begitu saja, lumpuh total yang ia alami membuatnya tidak bisa lagi bicara maupun bergerak. Ia hanya bisa mengisyaratkan sesuatu dari matanya. Elsa juga terlihat sangat pulas menikmati tidurnya walaupun hanya di atas ubin yang beralaskan tikar rumah sakit. Elsa memang tidak terlalu muluk-muluk apabila sudah merasakan kantuk, ia bisa saja membaringkan dirinya kemudian tertidur dengan nyaman di mana saja. Mayola masih dengan kondisi jiwa yang serasa mengungsi dari raga. Entah apa yang ia rasa sehingga sesuatu tak enak mulai mendebarkan dadanya. Bertepatan dengan hal itu, mahesa dengan lancar sudah pada tempat tujuan untuk segera menanam jarum-jarum yang sangat ia agungkan itu. Semak belukar yang tadi ia tempuh tak mampu menyusutkan semangatnya untuk segera melancarkan aksinya. Ia melihat orang-orang yang tengah nongkrong di warung depan sudah sangat sepi, sudah pulang ke rumah masing-masing. Sangat tepat dugaan Anto tadi bahwa jam segini adalah saat-saat yang tepat untuknya melakukan aksi. “Ayo, bos!” ucap Anto sambil membuat langkahnya sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh warga. “Siap, Nto!” jawab mahesa sambil mengikuti langkah Anto. Dari belakang rumah Mayola, mereka menyusuri bagian samping kanan yang bersebelahan dengan kebun coklat agar tidak ketahuan orang. Fokus utama mereka adalah menuju pintu rumah Mayola untuk segera menanam tujuh jarum agung itu. Mereka mengendap-endap seperti maling, jika ketahuan oleh warga penjaga poskamling sudah pasti mereka akan babak belur dan mendekam di penjara. Mereka tidak mempedulikan hal itu, yang pasti mereka harus segera beraksi. “Ayo, bos! Tancapkan ke tanah sekarang juga,” ucap Anto dengan suara dengan volume paling bawah. “Oke, Nto.” Mahesa langsung mengeluarkan jarum-jarum itu dari balutan kain usang kemudian segera menancapkannya ke tanah. Di rumah sakit, bertepatan dengan tertancapnya satu jarum yang dilakukan mahesa, papa Mayola mengerang tanpa mengeluarkan suara. Tubuhnya seperti menahan rasa sakit yang teramat. “Pa, papa ... ada apa, Pa?” Mayola yang masih terbangun itu menyadari ada hal aneh yang menimpa papanya. Ia segera membangunkan Elsa untuk menyuruhnya segera memanggil suster untuk memastikan keadaan papanya. Di rumah, jarum kedua akan siap di tancapkan oleh mahesa dengan penuh semangat, “cepat, bos!” perintah Anto yang langsung dilakukan oleh mahesa. Kali ini, papa Mayola mengerang lebih hebat dari yang pertama. Mayola kemudian langsung menyusul Elsa agar segera memanggil dokter lebih cepat. Jarum ketiga akan segera tertancap, Mayola masih saja berlari-lari mencari keberadaan dokter raka, sebagai dokter yang menangani papanya. Ketika jarum itu tertancap, papanya kembali mengerang hebat. Tubuhnya seperti menahan rasa sakit tertancap sebuah pedang. Jarum keempat segera melesat ke tanah, Mayola dan Elsa masih berlari ke sana-kemari. Papanya yang di tinggal sendirian di kamar itu mengerang lebih hebat dari sebelumnya. “Dokter! To-tolong, dok! Tolong papa saya,” ucap Mayola dengan wajah sangat khawatir. Jarum keempat tertancap, papanya kali ini mengerang dengan mengeluarkan suara. Darah segar mengalir dari mulutnya yang ternganga. Dokter raka, Mayola dan Elsa serta beberapa perawat memasuki ruangan itu. jarum kelima, papanya menyemburkan lebih banyak darah. Dokter raka mulai menanganinya. Jarum keenam, mahesa masih dengan semangat yang sama segera menancapkannya ke tanah. Papa Mayola mengerang lebih keras dan seperti kehabisan napas. “ayo, bos! Tinggal satu lagi,” Anto memberikan semangat pada mahesa yang tengah fokus itu. Jarum terakhir akan segera tertancap. Mayola dan Elsa yang berpelukan tak mampu menahan semburat air mata. Jarum itu tertancap, bertepatan dengan erangan hebat dan semburan darah yang semakin membanjiri bibir papa Elsa. Bantal rumah sakit yang berwarna putih itu dipenuhi oleh cairan merah yang baru saja dikeluarkan itu. “papa ....” Mayola mengguncang-guncang tubuh papanya ketika dokter raka menggeleng-gelengkan kepalanya. Dokter raka kembali memeriksa denyut nadi bahkan merasakan napas dari hidung papa Mayola dengan jari tangannya. Akan tetapi, hal yang tidak di sangka-sangka itu terjadi. Papanya memang mengembuskan napas terakhirnya tepat pada pukul 03.20 dini hari. Mayola dan Elsa berpelukan, saling menguatkan. “maaf, May. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Kamu yang sabar, May!” ucap dokter raka. “papa ....” tangisan Mayola terdengar sangat pilu. “bangun, Pa.” Mayola berusaha mengguncang-guncang tubuh papanya yang tidak lagi bernyawa itu. “sabar, May.” Elsa yang juga tak mampu menahan tangis memeluk Mayola yang masih mengerang memanggil-manggil nama papanya. “papa jangan tinggalin Mayola,” suara tangis Mayola terdengar sangat mengiris. Elsa menghapus air mata Mayola dan memeluknya dengan sangat erat.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN