Bab 5

1905 Kata
Langit malam telah tiba. Di sana, bintang-bintang bertaburan dengan sangat indahnya. Bulan sabit dengan lengkungan indahnya menambah keistimewaan lukisan hitam ciptaan Tuhan itu. Clara menidurkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit. Tempat tinggal yang kecil sudah menjadi hal biasa bagi gadis berbulu mata lentik itu. Tak peduli tempatnya bagaimana dan seperti apa, yang penting bisa dipakai tidur dan beristirahat. Gadis itu mulai menutup kedua matanya karena rasa kantuk sudah mulai menyerang. Tapi bagaimana bisa dia bisa tidur jika kost-kostan sebelahnya mengganggu jam tidurnya dengan tiba-tiba Detuman musik terdengar menggema dari samping kamarnya. Clara menutup kedua telinganya dengan bantal karena merasa geram, tubuhnya gusar-gusaran di atas ranjang. Dia menggerutu dalam hati, bagaimana bisa seseorang menyalakan musik di tengah malam seperti ini. Musik berdetum semakin keras, Clara kewalahan dan akhirnya dia bangun lalu turun dari ranjang sambil merapikan rambutnya dengan diikat. Gadis itu bergegas keluar dan menutup pintu dengan hantaman kencang penuh kegeraman. Tok tok tokk tokk.. Dengan menahan amarah Clara mengetuk pintu kostan sebelah kamarnya. Setelah beberapa lama berdiri di sana, ketukannya tak kunjung mendapatkan jawaban apa-apa. Malahan volume musik DJ di dalam semakin tinggi dan nyaris membuat telinganya meledak. Clara menarik napas kasar dan meraih kenop pintu lalu membukanya, untung pintu tersebut tidak dikunci. Clara berhasil melihat keadaan di dalam. Ada beberapa orang di sana, kira-kira ada lima orang anak muda dengan pakaian tak wajar, ada pria juga wanita. Mereka berjoged sesuai dengan irama musik bagai orang gila tak tahu malu, pikir Clara. "Hey kalian!" teriak Clara. Salah satu dari mereka menoleh, pria itu adalah si pemilik kamar kost ini. Dia segera mengecilkan volume suara speakernya. Kakinya lantas berjalan ke arah Clara. Semuanya menghentukan keasyikan mereka. "Siapa lo main masuk kamar gue?!" Mereka segera mengalihkan pandangannya pada tempat dimana Clara berada. "Ini udah malem, apa kalian tau? Kalian udah ganggu jam tidur saya! Kalau mau joget-joget kaya gitu mending sana ke diskotik! Ini bukan tempat hura-hura!" cecar Clara tanpa jeda. "Kost ini yang bayar gue, yang make gue, kenapa lo yang ribet?!" balas pria yang mempunyai nama Denis itu dengan sengit. "Tapi gak bisa seenaknya aja lakuin apapun. Saya keganggu!" "Yaa itu risiko lo!" "Hey hey hey ada apaan sih?" Ayumi yang juga berada di sana mulai ikut bicara dan mendekati keduanya. "Ini nih ada tetangga sebelah main masuk dan negur kita," jawab Denis dengan nada marah. "Saya cuma mau ngasih tau, di sini itu yang tinggal bukan cuma kalian, tapi ada orang lain juga, dan kalian udah ganggu mereka termasuk saya yang sebelahan sama kamar ini," jelas Clara. "Kalau lo keganggu ya udah pindah aja!" dengan gampangnya Denis berucap seperti itu. "Pindah? Sekata-kata kamu kalau ngomong!" "Udah udah udah," lerai Ayumi yang resah dengan pertengkaran sengit dua orang di hadapannya ini. "Ya udah, kita minta maaf kalau udah ganggu jam tidur kalian. Dan maafin juga pacar saya mbak," lanjut Ayumi mengalah. Ia menyadari kesalahannya. "Mbak mbak mbak, emang saya mbak apa, emang saya keliatan mbak mbak apa? Saya itu masih seumuran sama kalian, tau?!" saat ini emosi Clara tengah gampang terpancing. "Iya maaf," Ayumi pasrah. "Gak usah minta maaf, orang dia yang salah!" kata Denis yang tidak terima dengan ucapan maaf Ayumi. "Iiih udah ah! Dari pada urusannya makin tibet. Nanti kalau dia bilang sama Ibu kostnya gimana? Kamu juga kan yang rugi?" jelas Ayumi memberikan alasan. "Neng, kalau punya pacar itu makannya yang berbobot, jangan yang kerjanya cuma hura-hura doang. Saya sering kok mergokin dia, bener-bener laki-laki yang gak baik," Clara menggeleng-gelengkan kepala. "Dan kamu tau? Sekarang aja kamu udah kebawa-bawa sana dia. Ini cuma saran dari saya aja, jadi terserah mau denger atau nggak," ia mengangkat kedua tangannya. Berharap jika gadis itu mau mendengarnya. Tapi Ayumi hanya diam. Denis semakin dibuat kesal dengan ucapan Clara yang telah sangat menjatuhkannya. "Jangan lupa matiin musiknya!" Clara melototkan kedua matanya pada Denis. Ia pun keluar dari kamar tersebut tanpa berucap apa-apa lagi. "Matiin aja Den, lagian ini juga udah malem. Aku juga mau pulang." "Ganggu banget si tu orang! Aku kasih pelajaran baru tau rasa!" gerutu Denis. "Pelajaran apa? Matematika? Fisika?" canda Ayumj bermaksud meredakan emosi Denis. "Aku gak lagi becanda, oke?!" "Ya ya yaaa." "Ya udah sana kalau mau pulang," Denis menjauh dari Ayumi dan berjalan ke arah teman-teman lainnya. "Bubar semuanya bubar!" Ayumi mendelikan kedua bola matanya melihat kelakuan Denis yang mudah sekali marah dan tersinggung. "Tu cewek ngeselinnya parah!" lanjut Denis lagi meninggalkan mereka. Teman-temannya hanya saling melempar pandangan tak mengerti. *** Gio tengah mengerjakan PRnya di ruang TV bersama dengan Arsya dan neneknya. Yang disenangi Gio adalah pelajaran Matematika. Karena ia suka sekali menghitung, dan sekarang pun dia begitu semangat mengerjakan tugas pertambahan dan pengurangan di buku tulisnya. "Mau Ayah bantu?" tanya Arsya yang duduk di atas kursi. Sedangkan Gio duduk di karpet sambil menulis di atas meja. "Gak usah Ayah, Gio bisa kok. Gio kan pinter!" tolak Gio yang fokus mengerjakan. "Iya dong, Gio kan cucu nenek yang paling pinter dan ganteng," puji neneknya. Arsya tersenyum. Syukurlah anaknya itu giat dalam belajarnya. Tapi, ia hanya masih merasa takut jika Gio tidak dapat menahan emosinya saat di sekolah. "Adik kamu jam segini kok belum pulang juga?" mama Riya menengok-nengok ke sudut-sudut rumahnya. Selain tadi pagi, ia tidak melihat Ayumi bahkan mendengar suaranya. Kemana anak itu? Pikirnya. "Mulai sekarang mama harus lebih ngawasin Ayumi, akhir-akhir ini aku liat dia selalu pulang malem. Mama tau sendirikan pergaulan zaman sekarang gimana," saran Arsya yang mengkhawatirkan pergaulan adiknya. Takut jika ia akan terjerumus ke jalan yang salah. Bagaimanapun Ayumi adalah tanggung jawabnya juga. Karena Arsya masih menjadi kepala keluarga rumah ini. "Yah, sekarang Gio mau minta sesuatu sama Ayah," Gio menyelang pembicaraan Arsya dan mamanya. "Apa?" "Gio pokoknya mau punya Ibu baru! Gio kepengen Ibu baru, supaya Gio gak diledek lagi di sekolahan," jawabnya mantap. Kala itu juga Arsya langsung terdiam sejenak, Mama Riya juga tercenung, dengan tiba-tiba cucuknya itu meminta Ibu baru. Bukankah dia masih belum ingin menggantikan sosok almarhum Riana? Gio kembali mengerjakan tugasnya, "Emmm kan seru kalau belajar ditemenin sama Ibu," ucapnya sembari menulis angka-angka di bukunya. Kali ini Arsya kurang menanggapi permintaan Gio. Itu bukan suatu hal yang gampang, mungkin akan sulit mencarikan seorang Ibu yang akan benar-benar menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Arsya tahu, kebanyakan Ibu tiri itu tidak ada yang serius dan menyayangi anak angkat mereka dengan tulus, ia tidak akan membiarkan itu terjadi pada putranya. Jika itu terjadi, Arsya lebih memilih menduda seumur hidupnya. *** Pagi kembali menyambut dunia. Arsya masuk ke dalam kantornya, Clara yang kebetulan berada di lawang pintu utama langsung membungkukan setengah badannya dan menghentika aktifitasnya yang tengah mengelap jendela. "Selamat pagi Paak, good morning," disusul dengan senyuman manis dengan gaya so akrabnya. Tak ada tanggapan dari Arsya, ia kembali berjalan dengan santai. Malah paman Arya yang berhenti dan menanggapi sapaan Clara. "Pak Arsya sekarang mungkin lagi masa-masanya dia sibuk. Jadi jangan dimasukin ke hati kalau dia gitu," bisik pria berjas rapi itu. "Tapi kan ini masih pagi, pak," jawab Clara bingung. "Kalau itu udah sifatnya, mau gimana lagi?" tanya paman Arya, ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Ia juga harus segera menemani Arsya, karena sekarang adalah jadwal mereka bertemu dengan klien. Yaah, Clara maklumi itu. Ini adalah hal yang biasa. Gadis itu kembali membersihkan jendela. Kembali melanjutkan pekerjaannya. Clara juga sedang kebingungan sendiri karena Ayahnya tak kunjung menelfon dan memberikan kabar. Ditelfon pun selalu tidak aktif. Sebenarnya apa yang tengah dilakukan Ayahnya di sana sampai melupakan anaknya di sani? Setelah selesai membersihkan kaca, Clara kembali melanjutkan pekerjaan lainnya. Seperti membuang sampah, menyapu, mengepel dan lain sebagainya. Karena Ayahnya, ia kurang semangat mengerjakan tugas-tugasnya sebagai Cleaning Service. Ia tak sesemangat biasanya, belum lagi tadi malam tidurnya kurang karena terganggu. Moodnya benar-benar hilang ditelan bumi! Saat waktu istirahatnya tiba, gadis itu merenung di luar dengan berduduk di sisi teras sambil menikmati sebotol air mineral. Tadi ia sempat menelfon sang Ayah, hasilnya tetap nihil, tak ada jawaban apa-apa. 'Ayaaaah, Ayah kemana sih?' Clara membatin. Tiba-tiba sesosok anak pria muncul berjalan mendekatinya dengan tasnya yang digusur, raut wajahnya tampak memurung dengan bibir yang ditekuk. Clara menyipitkan mata. Anak itu pun tiba di depan Clara, "Tante di mana Ayah? Aku mau ketemu sama Ayah! Mereka jahat sama Gio, mereka semua marah sama Gio!" "Aku gak tau!" jawab Clara singkat dengan nada tak enak didengar. Saat itu juga Gio langsung menangis keras hingga membuat Clara terbelalak. "Tente jahaaaat," rengek Gio dengan suara tangisan yang semakin tinggi. Air matanya terus keluar tanpa henti. Clara mulai kalang kabut karena takut disalahkan, mereka bisa mengira bahwa ia sudah menyakiti anak kecil di depannya. Itu bisa gawat! "Ehh ehh ehh jangan nangis," pinta Clara. Tapi Gio masih tetap menyuarakan tangisannya. "Aduuuh gimana nih," gadis itu kebingungan sendiri bagaimana caranya menghentikan tangisan Gio. Matanya melihat tulisan dalam baju seragam Gio, tertulis nama 'Gio Darrel D' di sana. "Gio Gio jangan nangis. Jangan nangis, maafin aku," bujuk Clara merasa bersalah. Ia tahu bahwa tak seharusnya ia menjawab seperti apa yang tadi diucapkan. "Tante tau nama aku dari mana?" tanya anak itu disela tangisannya. "Karena nama itu cocok buat kamu. Gio cocok punya nama Gio, kamu anak yang lucu, manis dan baik. Mana mungkin temen sekolah pada marah sama kamu?" Clara memuji bermaksud untuk menghibur Gio. Benar saja, tangisan Gio mulai menurun, hanya tersisa air matanya yang masih membasahi pipi putih susunya. Matanya terus memandang wanita cantik dihadapannya. "Bentar kamu tunggu di sini," Clara beranjak dari duduknya dan berlari ke luar halaman kantor. Sementara Gio hanya memandangi kepergian Clara dengan beribu pertanyaan. Namun di sisi lain ia senang karena sudah disebut anak baik olehnya. Tak lama, Clara tiba dengan dua buah Ice cream di tangannya. "Taraaa!" Gio sumeringah tatkala melihat ice cream. "Anak ganteng gak boleh nangis," ucap Clara dengan riang dan ramah. "Itu ice cream buat Gio, kan?" tanya Gio penuh harap. "Iya, nih," Clara memberikan satu buah ice cream dengan rasa cokelat dan vanila pada Gio, dengan cepat anak itu meraihnya. "Waaah makasih tante," "Tapi satu syarat, jangan nangis lagi! Okee??" tanya Clara meminta janji. Gio segera mengangguk. Gio paling suka dengan ice cream, selama ini ia belum pernah menerima makanan enak ini dari orang lain. Clara merasa lega, akhirnya Gio tak menangis lagi. Untuk itu orang lain tak akan salah paham. Gadis itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam istirahatnya sudah selesai, untuk itu ia harus kembali bekerja. "Gio, kamu mau tunggu Ayah di mana? Soalnya aku harus kerja lagi." "Tante di sini temenin aku!" ucap Gio masih menikmati ice creamnya. "Tapi aku harus kerja, yang ada Ayah kamu bakal marah." "Kalau Ayah marahin tante, aku yang balik marahin Ayah. Gio gak mau tau, pokoknya tante harus temenin Gio!" paksanya. "Kalau nggak, Gio mau nangis aja." Clara berjongkok, "Kan aku udah beliin kamu ice cream dan kamu udah janji kalau kamu gak akan nangis," Clara mengelap sisa ice cream yang tertinggal di sekitar bibir Gio. "Jadi tante gak mau?!" "Bukannya aku gak mau, tapi aku takut dipecat. Kalau dipecat, dari mana aku dapetin uang dan beliin kamu ice cream lagi?" "Ya udah tante jadi Ibu aku aja!" Detik itu juga Clara langsung tersentak. "Tante udah lakuin sesuatu dan itu menyangkut sama janji aku. Tante gak usah kerja, tapi tante bakal dapet uang. Berarti tante harus mau jadi Ibu aku." Clara masih diam dan rasa terkejutnya juga belum hilang. Lidahnya kelu, tak mampu menjawab apa-apa. Mengapa anak ini secara tiba-tiba mengucapkan itu? Apa ini masuk akal? Apa dia tengah mengajaknya becanda? "Tante gimana? Mau, kan?" tanya Gio lagi meminta jawaban pasti. *** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN