Pagi yang cerah, sangat cerah bahkan, hingga sinar matahari menembus kaca kamar seorang gadis yang masih terlelap dalam tidurnya. Terpaan sinar matahari tak membuatnya terusik dari dunia mimpinya. Justru ia malah menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
Tokk tokk!
"Non Keyra, bangun, sudah siang, Non!" ucap Bi Siti dari balik pintu, sedangkan gadis itu hanya mengerang.
Tokk tokk tokk!
"Non Keyra, bangun.." ucapnya lagi. Masih tak ada jawaban dari dalam kamar.
Tokk tokk tokk tokk tokk tokk tokk!
Lihatlah, sepertinya Bi Siti sudah tak sabar lagi.
"Non Keyra, ini udah siang Non, Non Keyra harus sekolah!" teriak Bi Siti.
Gadis itu mulai bangun karna mendengar berjuta-juta ketukan pintu dari Bi Siti. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Iya-iya Bi. Keyra udah bangun," ucapnya malas sembari mengucek mata."
Langsung mandi ya, Non. Bibi udah siapin sarapan."
"Iya."
Keyra menyibakkan selimut tebalnya dan mengambil handphone kesayangannya, ternyata ada 40 pesan dari sahabatnya yang bernamanya Nabilla. "Lah bocah ngapa yakk? pagi-pagi udah nyepam aja," gumamnya.
Namun saat ia membaca pesan terakhir dari Nabilla, matanya berhasil membulat seperti telur ceplok.
JeNab
Keyraa!!! Lo dmn? Knpa blm brngkt?
Lo lupa hari ini ada ulangan sejarah??
"Astaga!" Keyra menepuk jidatnya dan langsung berlari ke kamar mandi.
Baru beberapa detik masuk ia sudah keluar, "Anjir handuk gue mana lagi?!". Saking paniknya ia sampai lupa membawa handuk. Setelah ia menemukan benda itu ia kembali masuk kedalam kamar mandi.
Kini Keyra sudah berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Setelah dirasa seragamnya sudah rapi, ia segera turun ke lantai bawah.
"Pagi, Bi." sapanya hangat.
"Pagi juga, Non Keyra. Loh Non nggak makan nasi?" tanya Bi Siti yang melihat majikannya langsung mengolesi roti dengan selai.
"Nggak Bi kelamaan." jawabnya sambil mengunyah. "Kenapa sih Papa nggak pernah pulang, Bi?" lanjutnya mulai lesu.
"Nak Keyra yang sabar ya, Tuan di Jerman kan juga nyari uang buat Non. Papa Non Keyra pasti pulang kok nanti, sudah ya jangan sedih." Bi Siti mengelus-elus rambut pirang Keyra.
"Tapi Key gak butuh uang, Bi. Key cuma butuh papa yang selalu ada buat Key. Apalagi Mama udah nggak ada. Key kesepian, Key pengen diperhatiin sama Papa, Key pengen kalo Key dapet surat panggilan orang tua yang dateng itu Papa bukan Bibi. Apa papa udah lupa sama anaknya? Apa Papa nggak kangen sama Key?" gadis itu mulai terisak.
"Sebenarnya Bi, Key nakal di sekolah itu biar Key dapet perhatian dari Papa. Key pengen Papa yang dateng ke sekolah, Key pengen diperhatiin kayak anak-anak lain."
Keyra sudah menangis sambil memeluk Bi Siti, hanya padanyalah Keyra selalu mencurahkan kesedihannya. Bi Siti bisa merasakan kesedihan yang dialami gadis itu. Ia tak tega melihat anak pintar seperti Keyra harus merasakan kurangnya kasih sayang dari orang tua. Memang pada dasarnya semua anak memerlukan kasih sayang dari orang tua.
"Sudah sudah, jangan sedih lagi, nanti cantiknya hilang loh," ucap Bi Siti tersenyum.
"Key kecewa sama Papa." Keyra mengusap air matanya yang mengalir.
"Yaudah mending Non Keyra berangkat sekolah sekarang,"
Mendengar kata 'sekolah' Keyra mendadak panik, "Oiya sekolah! Key ada ulangan Bi, Key berangkat dulu ya!"
Setelah pamit dengan Bi Siti, ia lari secepat mungkin, sambil berlari ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 06.30.
"Pak Maman, Key berangkat dulu ya!" pamitnya pada Pak Maman yang sudah berdiri didepan pintu.
"Saya antar aja, Non."
"Nggak usah, Key bawa mobil sendiri aja.." tolaknya cepat.
"Lahh, terus kerjaan saya apa dong Non kalo bukan antar jemput Non Keyra?" tanya Pak Maman.
"Udah Pak Maman jagain rumah aja okey? Kalo gitu Key berangkat, Assalamualaikum!" ucapnya sambil menutup pintu mobil.
"Iya wa'alaikumsalam, hati-hati Non!" teriak Pak Maman yang melihat mobil Keyra mulai melaju.
•••••
Sesampainya di parkiran sekolah, Keyra segera turun dari mobil mewahnya. "Duhh, mana udah jam tujuh kurang 5 menit lagi! Bisa-bisa gue gak sempet nih bikin contekan, secara gue kan gak mudeng sama sejarah. Coba aja kalo Indonesia gak dijajah, pasti gak bakalan ada deh pelajaran sejarah!" gerutunya sambil berlari tergesa-gesa.
Karena ia berlari sambil memasukan kunci mobil ke dalam tasnya, ia tak melihat jika ada beberapa orang yang berjalan dari arah berlawanan.
Dugh!
"Awww...." Keyra memegangi bahunya yang sakit. Ia tidak jatuh, namun hanya terhuyung ke belakang.
"g****k anjerr, kalo jalan pake mata dong!" papar cowok yang Keyra tabrak. Keyra merapihkan bajunya lalu melihat ke arah cowok yang sedang mengomel padanya itu.
—Kevin POV—
Gue dan dua sahabat gue, Gilang and Dava, baru aja sampe sekolahan. Kita jalan bareng di koridor sambil bercanda, banyak cewek-cewek gatel yang heboh nyapa kita. Gue sih cuek bebek tapi beda sama sahabat-sahabat gue ini.
"Kevin ganteng banget, saaloh!" ujar siswi perempuan yang dilewatinya.
"Pangeran gue itu"
"Anak pemilik sekolah dateng woi,"
"Hai Gilang,"
"Hai Dava,"
Dan intinya masih banyak lagi, gak mungkin kan kalo gue ucapin satu-satu.
"Hai juga cantik," balas Gilang disamping gue dengan muka sok keren. Pengen gue tabok.
Lain halnya dengan Dava yang hanya memberikan satu kedipan genit yang berhasil membua teriak-teriak mereka teriak-teriak histeris.
"Kelilipan lo?" sindir gue pada Dava.
"Eh liat, tuh cewek-cewek kenapa pada liatin gue ya? Apa aura kegantengan gue terlalu terpancar?" sambar Gilang sok ganteng.
"Gantengan juga gue," sahut Dava.
"Heleh, ganteng tapi jomblo." ucap gue membuat Gilang menertawakannya
"Dihh ngaca dong Vin. Gue bawa pacar dua puluh gigit jempol ntar lo pada."
"Ngarep! Satu aja kagak punya!" tukas Gilang.
"Bahahahaha." Gue cuma ketawa denger mereka berantem. Dan tiba-tiba aja ada cewek nggak jelas yang seenaknya main sruduk gue aja.
Dugh!
Gue jatuh dong, karna kenceng juga dia nabraknya. Dan yang bikin gue kesel, semua anak-anak pada ketawa ngeliat gue. Apalagi Gilang sama Dava bukannya nolongin mereka malah ketawa bahagia.
Mana gue jatuhnya gak elit banget anjir. Bayangin aja, udah ketabrak, kejungkel, nyungsep lagi di semak-semak yang segede gaban itu. Ya gue malu lah, turun sudah image gue sebagai cowok keren anak pemilik sekolah. Gue pelototin tuh si Gilang sama Dava, mereka langsung peka dan berhenti ketawa, mereka langsung bantuin gue berdiri.
"g****k anjerr, kalo jalan pake mata dong!"
—Author POV—
"Sorry!" ucap Keyra singkat lalu beranjak pergi.
Namun tangannya dicekal oleh cowok tadi. Hampir saja wajah cantiknya mencium d**a bidang cowok itu. Dengan cepat Keyra mendorong d**a Kevin dengan tangan yang satunya.
"Aduh! plis deh kalau mau protes nanti aja. Gue lagi buru-buru nih!" Keyra mencoba melepas cengkraman tangan Kevin.
Kevin menatap lekat mata jernih milik gadis itu. "Heh, lo sinting ya? Main sruduk gue, sakit tau! Dan lo udah buat gue diketawain banyak orang!" geramnya.
"Udah deh ya, salah lo juga sih jalan pake barengan gitu, menuhin jalan. Lo pikir ini taman? Minggir gue tuh buru-buru ada ulangan tau gak!"
"Gue gak mau tau! Lo harus dapet balesan dari ini semua... Alqueena Keyra Alicia," ucap Kevin sambil membaca name tag di seragam Keyra.
Dengan kesal Keyra menjegal lutut cowok itu hingga cengkraman di lengannya terlepas. Kevin mengaduh dan memegangi lututnya yang sakit sedangkan Keyra langsung lari secepat kilat.
Keyra membanting tasnya di bangku hingga membuat Nabilla yang sedang belajar hampir melempar bukunya.
"Astaghfirullohaladzim kerja lembur bagai kuda sampai lupa orang tua oh hati terasa durhaka... durhakah..eh..durhaka!" ujar Nabilla spontan karena kaget.
"Awkwk, asli ngakak gue! Lo kalo kaget kok lucu sih?" Keyra tertawa sambil memegangi perutnya.
"Ketawain terus! Awas ntar nyontek, gue gak kasih liat!" seru Nabilla dengan nada merajuk seperti anak TK.
"Yahh jangan gitu dong Jenab, lo kan tau kalo kelemahan gue itu di sejarah, contekin ya pliss pliss. Udah jam segini mana sempet gue bikin contekan," rengek Keyra dengan menyatukan kedua telapak tangannya diatas kepala.
"Tuh kan, masih aja ngeselin. Gue tau nama gue Jesica Nabilla Putri, tapi jangan panggil gue Jenab napa?!"
"Iya iya Tuan Puteri Nabilla yang cantik jelita. Jangan marah dong, kasih gue contekan ya, ya Bil ya, pliss..." rengeknya.
Nabilla menghela nafas melihat sahabatnya merengek-rengek. "Iya iya, mana bisa gue marah sama sahabat gue yang satu ini. Lo tenang aja gue udah belajar tadi, jadi gue bakal contekin lo kok."
"YESS!! Makasih, lo emang sahabat terbaik gue!" Keyra memeluk tubuh Nabilla dari samping.
Bell masuk kelas pun berbunyi, saatnya untuk ulangan sejarah.
"Tadi lo kenapa pake banting tas segala?" tanya Nabilla pada Keyra.
"Selamat Pagi, Anak-anak!" sapa Bu Adelia yang tiba-tiba masuk kelasnya.
"Haish.. nanti deh gue ceritain," bisik Keyra pada Nabilla. Nabilla mengangguk.
•••••
TBC.