2

2577 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Carina masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan tas di meja belajar, Carina mengambil dompet dari dalam tasnya lalu mengeluarkan semua uang yang ada disana. ”Lima puluh enam ribu. Lima lima dari Rha Dhamantys. Yang seribu ketemu di jalan. Gajian baru seminggu lagi. Hpuf… Lumayan… Dari pada gak ada uang sama sekali.”gumam Carina lalu memasukkan kembali uang itu ke dalam dompetnya. Rha Dhamantys... Dia memang artis yang paling cakep yang pernah aku liat, tunggu! Kirito cakep gak ya? Uhm... Imbang deh. Tapi tadi kenapa wajahnya muram banget yah? Apa ada yang mengganggu dia saat syuting? Tapi dia cukup ramah sama masyarakat awam. Artis yang langka.bathin Carina sambil berjalan keluar kamar. Carina pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas, setelah itu dia pergi ke sebuah kamar yang di depan pintu kamarnya dijaga oleh seorang laki-laki berusia awal tiga puluhan. ”Apa Tuan Besar sudah tidur?”tanya Carina pelan pada penjaga itu. Laki-laki penjaga itu langsung berdiri saat melihat Carina, ”Oh sudah, Nona. Tuan Besar langsung tertidur begitu selesai minum obat. Apa anda ingin melihatnya?”tanya laki-laki itu sopan. ”He eh”jawab Carina lalu masuk ke dalam kamar yang sangat luas itu. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah tempat tidur bertiang empat dengan ukuran king size. Bahkan dari jauh pun Carina tahu kalau ranjang itu sangat empuk dan nyaman. Di atas tempat tidur terbaring seorang pria tua yang tertidur lelap. ”Maafkan Carina, Tuan. Carina gak bisa memenuhi janji Carina untuk makan malam di rumah.”ujar Carina lembut sambil menggenggam tangan pria tua itu. ”Dia tau kok kalau kamu akan pulang telat. Dia juga minta aku untuk mengingatkanmu jangan terlalu capek bekerja.”ujar sebuah suara lembut yang ternyata milik perawat yang menjaga pria tua itu. Carina langsung menoleh menatap wanita muda yang duduk di sofa sambil membaca majalah itu. ”Akan ku usahakan untuk dapat pulang cepat besok malam.”sahut Carina. ”Dia sayang banget sama kamu.”ujar perawat itu sambil berdiri di sebelah Carina. ”Aku juga menyayanginya. Apalagi setelah ibu meninggal. Karena itu aku gak mau memberi harapan terlalu tinggi padanya. Karena ini semua cuma cerita Cinderella dengan durasi agak panjang, 7 bulan.” ”Aku tau. Lebih baik kamu istirahat. Hari sudah malam, besok kamu harus sekolah dan kembali bekerja.”ujar perawat itu. ”Baiklah. Tolong jaga dia, ya, Wil.”pesan Carina. ”Pasti.”sahut perawat yang bernama Wilda itu. Carina kembali menghampiri pria tua itu lalu mengecup dahinya penuh kasih sebelum keluar dari kamar utama itu dan kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Setelah meneguk setengah isi kaleng softdrink yang tadi diambilnya. Carina langsung naik ke tempat tidur dan beberapa saat kemudian dia benar-benar sudah terlelap. ***   ”KIRITO ARISE OBERON!”teriakan Carina memecah heningnya pagi di perumahan mewah di Woolloomoolloo itu. BRUAK! ”Apa-apa’an sih lo?!”tanya Kirito kesal karena tiba-tiba dia di tendang turun oleh Carina dari atas ranjang. Carina membelalakkan matanya kesal pada pria yang kini menatapnya marah. ”Apa kamu tanya? Seharusnya aku yang bertanya, ngapain kamu tidur di kamarku, Tuan Muda?”tanya Carina sambil bertolak pinggang. Kirito memandang ke sekeliling kamar seolah ingin memastikan dimana dia tertidur, lalu segera berdiri, ”Oh iya ya. Ini kamar kamu Sorry, aku salah kamar. Tapi apa yang aneh sih? Kita kan udah nikah, masa’ gak boleh satu kamar? Satu ranjang aja wajar.”tanya Kirito santai lalu naik lagi ke tempat tidur Carina. Carina langsung bangkit dari ranjangnya, melemparkan selimut pada Kirito dan menghampiri pria itu. ”Gak ada cerita kita satu kamar, dan gak akan pernah ada! Pergi sana!”usir Carina sambil menyeret Kirito keluar dari kamarnya lalu mengunci pintu. Kalau bukan karena Tuan Besar yang memintaku menikah denganmu, aku gak akan pernah mau berhubungan denganmu. Aku hanya ingin membalas semua kebaikan Tuan besar selama ini. Apalagi sejak ibu sakit sampai ibu meninggal. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas budi Tuan Besar. Menikah dengan Kirito Arise Oberon bukanlah hal mudah. Untung aja dia terima semua syarat yang kuajukan. Setidaknya sekolah gak tau kalau aku sudah menikah. Kalau pihak sekolah tau, beasiswa-ku akan di cabut. Lagipula apa kata orang kalau tau aku udah nikah padahal umur aku baru 17 tahun. Apalagi dengan seorang Kirito Arise Oberon... Oh tidak!! Jangan sampai ada yang tau. Termasuk Lena,bathin Carina sambil membereskan tempat tidurnya lalu pergi mandi. Dan apa-apaan dia? Kenapa sih dia suka sekali tidur tanpa pakaian? Setelah selesai berpakaian dan membereskan semua buku yang akan dibawanya ke sekolah, Carina membuat sarapannya sendiri. Karena memang itulah pekerjaan Carina dari dulu. Setelah ayahnya meninggal karena bunuh diri, Carina bersama ibunya lah yang bekerja setiap hari mencari uang. Saat itu Carina baru tamat ES. Carina hanya membantu ibunya sedikit-sedikit. Dan setelah tamat JHS, barulah Carina mulai serius mencari kerja. Pernah Carina ingin berhenti sekolah untuk bekerja, tapi ibunya dengan tegas melarangnya. Akhirnya Carina memilih untuk kerja sambilan saja. Dengan umur yang masih sangat muda itu, sangat susah bagi Carina untuk mendapatkan kerja sambilan. Akhirnya Carina berhasil menjadi loper koran. Dan suatu hari, Carina bertemu dengan Ishtar Oberon, ayah Kirito, dia menawarkan Carina untuk bekerja di rumahnya sebagai pengurus rumah tangga, sekalian mengurus Kirito yang baru saja memulai debutnya di dunia artis. Sejak saat itulah Carina bekerja disana setelah sekolah dan baru pulang malam harinya. Dan sejak 3 bulan lalu, tepatnya sejak Ishtar jatuh sakit dan Kirito harus meneruskan perusahaan ayahnya, Carina diminta Ishtar untuk jadi menantunya. Baik Carina maupun Kirito sama-sama menyayangi Ishtar, mereka akhirnya setuju untuk menikah dengan syarat, identitas Carina harus disembunyikan selama sisa masa sekolahnya. Selain itu, masih ada perjanjian yang terjalin antara Kirito dan Carina, yang hanya mereka berdua yang tahu. Kirito dan Carina tidak sekamar dan tidak akan pernah. Pernikahan mereka hanya 7 bulan, karena 5 bulan lagi Ishtar harus menjalani operasi di L.A. Dan setelah operasi itu, Carina dan Kirito sepakat untuk bercerai. ”Wilda!”panggil Carina dari ruang makan, ”Bawa Tuan Besar ke ruang makan. Aku sudah menyiapkan sarapan untuknya.”lanjut Carina. Carina menyiapkan sarapan di meja makan dan menatanya. Menyisihkan makanan khusus untuk Ishtar di bagian ujung meja. Saat semuanya sudah tertata, Wilda keluar dengan mendorong Ishtar di kursi roda. ”Pagi, Tuan.”sapa Carina ramah sambil mengambil alih tugas Wilda dan membantu Ishtar duduk di tempatnya yang biasa. ”Carin... Kamu itu sekarang menantuku, jangan panggil Tuan lagi. Panggil Pa saja.”tegur Ishtar pelan. Ada rasa sayang dalam nada bicaranya pada Carina. Carina tersenyum, ”Baik, Pa. Kita sarapan dulu yah. Carina udah menyiapkan sarapan nih. Pa harus makan supaya bisa minum obat dan kembali beristirahat.”ujar Carina lembut. Ishtar mendengus kesal karena selalu diingatkan untuk meminum obatnya. ”Kirito mana?”tanya Ishtar saat Carina menyiapkan sarapan bagiannya. ”Masih tidur, Pa. Dia pulang larut malam.”ujar Carina jujur. ”Panggil dia turun! Tidak ada seorang pun yang boleh melewatkan sarapan pagi yang kutunggu-tunggu ini. Walaupun orang itu Kirito.”tegas Ishtar. ”Saya saja yang memanggil Tuan Muda.”ujar Wilda mohon diri lalu pergi ke lantai dua. ”Biar saja lah, Pa. Kirito mungkin masih lelah.”bujuk Carina lembut walau sebenarnya dia sangat menghindari bertemu dengan Kirito. Hubungan mereka gak buruk, hanya saja Carina gak ingin berharap lebih dari akting Kirito. Berharap lebih hanya akan membuat Carina sakit hati. Dia tidak mau berharap banyak dari hubungannya dengan Kirito karena Carina tahu kalau 7 bulan lagi segalanya berakhir. ”Carin... Pa sudah setuju kalau kalian menunda bulan madu kalian karena sekolah kamu, Pa juga setuju untuk menyembunyikan identitas kamu sampai kamu selesai ujian, jangan buat Pa harus mengorbankan sarapan bersama kita hanya gara-gara dia. Pa ingin sarapan bersama anak dan menantuku.”ujar Ishtar. ”Iya, Pa. Carina tau.”ucap Carina pasrah. Setelah apa yang Ishtar lakukan selama ini untuknya, makan bersama dengan Kirito hanyalah salah satu dari pengorbanan kecil yang bisa Carina lakukan. ”Apa kamu masih kerja sambilan juga?”tanya Ishtar sesaat kemudian. ”Masih, Pa.”jawab Carina singkat sambil duduk di kursinya. Carina tahu kemana pembicaraan ini akan mengarah nantinya. ”Kamu itu sudah jadi menantu keluarga Oberon. Untuk apa lagi kamu kerja sambilan? Semua kebutuhan kamu bisa Pa cukupi.” ”Carina tau. Tapi...” ”Carina hanya gak ingin terlalu terbiasa dengan kehidupan mewah, Pa.”potong Kirito yang tiba-tiba sudah sampai di ruang makan, ”Pagi, honey.”ucap Kirito sambil mencium pipi Carina dan mengabaikan desisan kesal dari bibir gadis itu, ”Dan bagi Carina, kerja sambilan itu bisa menghilangkan kebosanannya kalau dia gak ada kerjaan. Ya... Setidaknya selama ini itu yang dia lakukan di sela-sela kesibukan sekolahnya. Lagian Kirito juga gak bisa ngajak Carina jalan-jalan kalau libur.” ”Ya, Pa... Carina ingin mandiri. Carina gak ingin memanfaatkan semua fasilitas yang ada disini. Carina tetap ingin seperti Carina yang dulu.”ujar Carina sedikit kesal dengan perlakuan Kirito tadi. Ya, dan kalau tiba saatnya aku harus keluar dari rumah ini, gak akan ada yang berubah dalam hidupku, dan gak akan ada penyesalan...bathin Carina. ”Ya, udah kita makan yuk. Tapi Pa udah menunggu saat kita sarapan bersama seperti ini?”tukas Kirito santai. Carina menatap Kirito, lalu dengan kesal dipijaknya kaki Kirito sekuat mungkin dengan senyum tersungging di bibirnya saat dia mulai mengambilkan makanan ke piring Kirito. ”ADUH!”pekik Kirito dan langsung menatap Carina tidak percaya. ”Kamu kenapa?”tanya Ishtar cepat. Carina tersenyum, ”Palingan cuma kegigit lidahnya aja, Pa. Iya kan, sayang?”tanya Carina dengan senyum liciknya. ”He eh”Kirito hanya bisa mengangguk. Ishtar tersenyum bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya. Dia merasa kalau saat ini nyawa-nya dicabut pun, dia tidak menyesal. Ishtar menyayangi Carina seperti putrinya sendiri dan Ishtar yakin kalau Carina adalah yang terbaik untuk putranya. Sialan ni cewek. Kalau gak di depan Pa, udah aku balas.bathin Kirito kesal. *** Jam makan siang sudah lama berlalu. Tapi Rha dan Vio masih bertahan di tempat mereka. Mereka masih menunggu dan mengamati siapa gadis yang mengantar makanan kemarin ke lokasi syuting. Selama mereka menunggu mereka hanya memesan masing-masing satu gelas Espresso. Tepat saat jam menunjukkan pukul 3 sore, Carina sudah siap dengan seragam kerjanya dan mulai bekerja. ”Nah itu dia!”ucap Rha senang saat matanya menangkap sosok Carina yang sedang berjalan mengantarkan pesanan ke meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. ”Mana?”tanya Vio bingung karena di arah yang ditunjuk Rha ada banyak sekali pegawai restoran. ”Itu... Yang rambutnya di ikat satu. Yang agak tinggi itu.”tunjuk Rha pada sosok Carina. ”Oh... Yang itu... Uhm... Oke lah kalau yang kayak gitu lo bilang cakep, masih masuk standar gw.”ucap Vio saat dia sudah tau yang mana sosok yang ditunjuk Rha, ”Waitress!”panggil Vio kuat pada Carina. Carina langsung berjalan ke tempat Vio dan Rha, ”Ada yang bisa saya bantu?”tanya Carina ramah. Vio menutup daftar menu dihadapannya diikuti oleh Rha, ”Baked Spring Rolls satu, Chicken Biriani satu, Cranberry Party Mold satu, dan dua orange juice.”ujar Vio cepat ”Baiklah. Tunggu sebentar ya.”ujar Carina setelah mencatat pesanan Vio. ”Tunggu sebentar.”cegat Vio cepat sebelum Carina melangkah pergi. ”Apa masih ada tambahan lagi?”tanya Carina masih tetap ramah. ”Teman saya lagi ada masalah nih. Kamu tau gak dia siapa?”tanya Vio sambil menunjuk Rha. Bahkan Vio sama sekali tidak berniat untuk basa-basi. ”Rha Dhamantys, kan?”ujar Carina balik bertanya. Rha terdiam, dipandanginya Carina dengan seksama, lalu Rha tertawa, ”Cewek yang menarik. Nama lo siapa?”tanya Rha serius. ”Carina.”sahut Carina, ”Maaf, kalau tidak ada tambahan lagi, saya permisi dulu.”pamit Carina yang kali ini benar-benar pergi. ”Cewek yang menarik, Rha. Sepertinya dia sudah terbiasa menghadapi selebritis top kayak lo. Sikapnya nyantai banget!”ucap Vio salut. Dan dia sangat sangat menarik. Dia memiliki sesuatu yang sangat menantang kaum laki-laki untuk menaklukannya. Kepercayaan diri dan ketenangan yang tidak dimiliki wanita manapun jika berhadapan dengan Rha. Aku ragu ada laki-laki yang tidak menyadari kehadirannya...bathin Vio sambil memperhatikan ke sekeliling ruangan dan ternyata Vio benar. Hampir seluruh manusia berjenis kelamin laki-laki memandang Carina, walaupun hanya diam-diam. ”Gw tertarik sama dia, Vi. Lo bisa cari’in data tentang dia gak?”tanya Rha serius. Vio terbelalak mendengar ucapan sepupunya itu. “Lo beneran?”tanya Vio gak percaya melihat sepupunya seserius itu. ”Gw serius, Vio.”tegas Rha. “Lo…”ucap Vio gak percaya, ”Dia bukan kalangan artis, Rha. Dia hanya masyarakat biasa. Bayangkan berita apa yang akan dibuat wartawan kalau hal ini mereka ketahui? Bayangkan apa akibatnya sama karier lo!”ujar Vio. Rha memajukan badannya, ”Kalau gw suka sama seseorang, gw gak peduli dia berasal dari mana. Atau apa latar belakang dan masa lalunya. Gw menyukai dia atas dasar seperti apa dia sekarang, bukan siapa dia sebelumnya. Dan gw sama sekali gak peduli sama ’apa kata wartawan nanti’, yang penting adalah apa yang gw mau. Yang suka itu gw, dan yang bakal ngejalanin hubungan itu gw, bukan mereka.”ujar Rha serius. “Oke oke. Nanti gw coba cari. Tapi gw ga janji, Rha.”putus Vio sebelum ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Vio dan Rha masih bertahan di restoran itu sampai Vio mendapat telpon panggilan untuk segera kembali ke lokasi syuting. Dengan susah payah Vio membujuk Rha untuk kembali syuting, karena Rha masih betah memperhatikan Carina_tepatnya mengamati setiap gerak gerik Carina. Tapi setelah berjanji akan mendapatkan semua data tentang Carina, barulah Rha mau kembali ke lokasi syuting.   Malamnya di sebuah penthouse mewah, Vio menyerahkan semua berkas tentang Carina yang didapatkan dengan segala cara demi memenuhi janjinya pada Rha. Sepupunya itu bisa mogok bekerja kalau apa yang dia inginkan tidak tercapai. ”Hm... Gw salut sama lo. Cuma 6 jam, lo bisa dapat data dia segini banyak. Gak sia-sia gw ngotot ngejadi’in lo manager gw.”ujar Rha senang sambil menerima berkas-berkas data Carina dan mulai membacanya. ”Nama Sagitta Carina, tanggal lahir 7 Oktober, golongan darah O, keluarga... Gak ada? Jadi dia cuma sendirian dong? Oh... Sekolah... Wow! Ini kan sekolah top. Oh, anak beasiswa... Oke deh.”gumam Rha lebih ditujukan pada dirinya sendiri. ”Dah, puas lo?”tanya Vio kesal melihat Rha senang sendiri. “Puas banget. Oh ya, besok gw gak ada syuting kan?”tanya Rha cepat sambil menutup berkas data Carina. ”Gak, besok lo kosong.”sahut Vio, ”Jangan bilang kalau lo mau nyari ni cewek?”lanjut Vio kemudian setelah menyadari ada seringai aneh di wajah Rha. ”Bingo!”ucap Rha bersemangat, ”Ada kesempatan ngapain di buang-buang? Belum tentu gw bisa dapat kesempatan lagi, kan? Dah, lo pulang sana. Gw mau konsentrasi dulu mikirin malaikat gw.”ujar Rha sambil mendorong Vio keluar dari penthouse-nya dan mengabaikan geraman kesal dari wanita itu. ”Rha... Lo beneran gak mau cari tau gimana latar belakang dan apa aja yang ada di masa lalu tuw cewek?”tanya Vio cemas. ”Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah lalu tidak perlu diungkit lagi, jika kamu benar-benar mencintainya setulus hati. Itu paham gw. Jadi gw gak peduli gimana masa lalunya... Love at the first sight gitu.” ”Stres lo ah!”umpat Vio sambil berjalan keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN