Malik dan Ibrahim berjalan perlahan-lahan memasuki benteng milik Adrian. Mereka berusaha untuk sama sekali tak menimbulkan suara agar tak ada yang curiga. Benar saja, mereka berdua melihat banyak kereta-kereta berdatangan ke benteng milik lelaki Belanda itu.
“Apa isi kereta itu, ya? Apa kebutuhan makan?” tanya Malik pada Ibrahim.
“Bisa jadi dengan senjata sekalian, menurutku,” sahut Ibrahim, “akan lebih baik jika kita bisa memasuki benteng tanpa ketahuan, apa pun caranya.”
Dua punggawa Alif itu kemudian mencari tempat yang paling sunyi. Ada penjagaan walau hanya satu orang saja dan mereka berdua meringkusnya dalam waktu yang sangat singkat.
“Kita panjat, semoga setelah ini kita bisa membawa kabar untuk Pangeran.” Ibrahim melepaskan tali yang ia tautkan di pinggangnya.
“Kabar baik atau buruk?”
“Apa pun itu, kita semua harus bersiap.” Ibrahim memanjat dinding benteng dan diikuti oleh Malik. Dua lajang itu berusaha agar tubuhnya tetap kokoh sembari memastikan tak ada yang memergoki mereka.
Sampai di atas benteng dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun, mereka bersembunyi diantara dinding bata yang berdiri tegak. Setelah memastikan di bagian atas benteng begitu sunyi, mereka mengintip ke bawah, terlihat persiapan besar-besaran sedang diperiksa oleh Adrian sendiri, termasuk keberadaan meriam yang sanggup meluluhlantakkan istana dalam sekejap mata.
“Tidak mungkin. Jangan sampai mereka ke istana.” Malik menghitung dengan tangannya jumlah meriam yang disiapkan Adrian. Lebih banyak dari jemarinya walau digabung dengan kaki sekali pun.
“Tidak bisa dielakkan lagi. Peperangan akan segera meletus. Lebih baik kita segera kembali. Pangeran perlu diberitahu hal ini,” ujar Ibrahim.
“Semoga Pangeran sudah menggelar pernikahan. Jadi kedatangan kita tak mengacaukan semuanya.”
“Semoga saja.”
Dua punggawa itu berbalik ke belakang. Mereka ingin ke luar dari benteng perkasa itu. Namun, pada saat yang sama Mantili sudah menghadang mereka dengan angkuhnya.
“Tak semudah itu untuk pergi dari sini. Kau pikir ini surau yang kalian bisa ke luar masuk sesuka hati.” Gadisi itu berkacak pinggang mencemooh dua penyusup di depannya.
“Kami tak punya waktu untuk berbasa-basi. Selamat tinggal.” Malik dan Ibrahim hampir melompat dari benteng. Namun, terlebih dahulu baju mereka ditarik oleh Mantili. Gadis itu berpenampilan layaknya noni Belanda. Dua punggawa tersebut mengira Mantili hanya gadis biasa-biasa saja tanpa kekuatan.
“Selama tinggal di sini, anggap saja penjara sebagai rumah kalian sendiri. Saat kami selesai menggempur istana kalian, pasti kami beri tahu.” Mantili meringkus dua penyusup itu dengan bantuan dua saudara seperguruannya.
“Doakan kami dalam setiap sujud yang kalian percayakan itu menang, ya? Titip salam untuk Tuhan kalian. Katakan padanya, kalau berani cabut nyawaku sekarang juga.”
“Gadis sombong, kau tak tahu sedang menantang siapa?” Malik meronta ingin lepas dari cengekeraman salah satu gagak hitam.
“Aku sudah melepaskan kegadisanku, Tuan. Tahun ini entah berapa banyak pria yang sudah menjadi teman tidurku. Apa kau berminat juga? Jujur saja, pasti akan kudengarkan,” cemooh Mantili.
Malik dan Ibrahim dilemparkan dalam penjara berukuran sempit dan pengap. Bau tak sedap mendominasi di mana-mana. Mereka tak hanya berdua saja. Ada beberapa tawanan yang terlihat lemah dan tak berdaya. Bahkan ada seorang gadis muda yang pakaiannya telah tak beraturan menutupi setiap jengkal auratnya.
“Sepertinya perang sudah diambang mata. Buktinya mereka tak menyiksa kita.” Malik melihat ke kiri, kanan dan juga atas atap. Mencari jalan untuk melarikan diri.
“Firasatku juga seperti itu. Setidaknya salah satu dari kita bisa ke luar dari sini hidup-hidup. Berita ini harus segera disampaikan. Jangan sampai kerajaan kita tinggal kenangan saja.”
Kemudian dua orang itu berhenti berbicara sejenak. Mereka mendengar rintihan kesakitan yang ditangisi oleh salah satu gadis yang menjadi tawanan. Air mata dua orang lelaki itu ikut menetes, sebab mereka paham apa yang menjadi penyebab gadis itu sampai sesenggukan menumpahkan kesedihannya.
“Aku merasa tak berguna sebagai laki-laki. Harusnya kita bisa menolongnya.” Malik berpaling tak ingin melihat gadis di depannya meratap.
“Tapi kita tak bisa menjangkau semuanya, bahkan sekarang kita terpenjara di sini. Bagaimana caranya kita menolong?”
Tangis gadis itu tak juga mereda, lalu tak lama kemudian datang dua orang londo ireng yang begitu mudahnya mengkhianati tanah kelahiran mereka. Dua serdadu itu membawa senapan dan menodongkannya pada gadis yang tengah merintih itu. Lalu ....
Dor!
Salah satu timah panas menembus tepat di bagian vital tubuh gadis tersebut. Ia diam untuk selama-lamanya, membawa luka untuk diadukan pada Rabb-nya. Deritanya di dunia telah selesai.
“b*****h! Pengecut, beraninya dengan perempuan lemah saja.” Ibrahim menggoyang jeruji besi seakan-akan ingin ke luar dari sana.
Malik memegang dadanya sendiri. Jantungnya berdebar luar biasa ketika melihat tubuh gadis itu diseret begitu saja tanpa adab sama sekali. Darah itu akan menjadi saksi gugurnya seorang muslimah di jalan perjuangan.
“Kita harus cari cara untuk kabur. Jangan sampai wanita-wanita di pesisir mengalami kejadian buruk yang sama seperti itu.”
“Atau, bahkan lebih buruk.” Ibrahim menempelkan keningnya di jeruji besi. Ia geram sebab tak dapat menolong gadis yang dalam keadaan lemah tak berdaya.
Di luar benteng, Adrian memastikan sendiri persiapan menggempur istana hampir keseluruhannya sempurna. Ia sudah tak sabar menanti detik demi detik terdengarnya suara senapan terutama meriam yang dikirim oleh gubernur setempat untuknya.
“Aku pastikan kerajaan kalian akan hancur jadi debu sampai kau menangis kehilangan segalanya, Pangeran.” Adrian memperhatikan meriam di depannya. Daya ledak senjata itu luar biasa. Besi saja bisa lepas dari tautannya apalagi tubuh manusia.
“Meester. Sesuai janjimu, aku akan ikut menyerang. Dendamku dengan Kerajaan Pesisir belumlah sirna. Lagipula tadi aku berhasil meringkus dua penyusup untukmu.” Mantili merayu Adrian agar memberinya izin. Gadis itu bermanja-manja di hadapan para serdadu tanpa rasa malu. Padahal tanpa izin atau tidak dari Adrian, ia tetap bisa pergi sesuka hatinya. Ditambah jimat dari ahli nujum yang diberikan padanya, membuat Mantili akan kuat walau di siang hari.
“Baiklah. Tapi berjanjilah satu hal padaku. Jangan sampai terluka. Aku akan membawamu sebagai Nyonya di rumahku yang baru dimulai dibangun.” Adrian, lelaki bengis itu paling tak tahan ketika Mantili merengek padanya.
Semua senapan, meriam, selongsong peluru, kereta dan kuda dipersiapkan untuk menggempur Kerajaan Pesisir. Adrian akan memastikan semua yang telah dipertahankan selama ratusan tahun di istana itu akan hancur karena tangan dinginnya.
“Jangan panggil aku Adrian kalau tak bisa membuatmu jatuh dan menangisi kematian saudaramu satu per satu.” Adrian meminum segelas wisky yang dituangkan Mantili untuknya. Malam ini mereka berdua melabuhkan rasa dalam ikatan yang tak suci sama sekali. Sebab esok pagi mereka sudah mulai berjalan menyusuri hutan dan sawah untuk mewujudkan keinginan Adrian.
“Kudengar sang pangeran akan segera menikah. Kau kejam sekali menggangu dua sejoli yang akan mereguk madu manis, Meester.” Mantili mulai merayu Adrian yang masih menatapnya tanpa berkedip.
“Peduli apa aku dengannya? Kalau perlu calon istrinya akan kubunuh di depannya langsung. Aku jamin itu. Sekarang kau diam. Aku sedang tak ingin dibantah atau dilawan. Menurut saja dengan apa yang kulakukan padamu.” Adrian mulai tak sabar ingin segera menggapai puncak bersama gadis yang telah mengikrarkan janji setia padanya.
***
Alif masih mengikuti ritual ada yang dijeda sejak ia sakit. Pemuda itu sudah mulai membaik. Meski ia tak bisa melupakan mimpinya begitu saja. Bukan mimpi buruk, hanya saja cukup menggelitik hatinya.
“Siapa gadis dalam mimpiku itu, ya?” Pemuda berwajah Arab itu berucap seorang diri ketika di dalam kamarnya.
“Mungkinkah ini bisik-bisik menjelang pernikahan? Yang membuat hatiku meragu?” Alif memandang tangannya sendiri. Ia masih bisa rasakan lembutnya tangan Putri Naqi yang menyentuhnya. Tak ia sangka calon istrinya nekat melakukan hal itu, tapi Alif tak juga berani menyalahkan. Sebab sang bunda juga ada di dalam kamar.
Alif membuka lacinya. Ia membersihkan senapan laras pendeknya. Kemudian memasukkan satu demi satu peluru di dalamnya. Ia hanya ingin berjaga-jaga jikalau Belanda datang dengan tiba-tiba.
“Dua hari lagi. Semoga saja tidak ada pengacau yang datang. Aku akan resmi menjadi suamimu, Putri Naqi. Meski hati ini semakin ragu sejak kedatangan gadis yang sama sekali tak kukenali di alam mimpiku sendiri.”
Lamunan pemuda itu buyar ketika salah satu pelayan mengetuk pintu kamarnya. Alif kembali dipanggil untuk mengikuti latihan di mana akad akan digelar sesuai adat yang telah disusun.
Sepasang pengantin itu memasuki balai istana. Mereka diberi tahu dengan seksama apa saja yang harus dilakukan usai akad nikah nanti. Termasuk pula mendengarkan petuah panjang dari para bangsawan yang telah ditunjuk.
Dua pasang mata itu saling bertemu tanpa sengaja. Mereka tak diizinkan untuk menatap lebih lama oleh para dayang yang mengawasi jalannya ritual. Agar terhindar dari penyakit hati jelang pernikahan. Putri Naqi sampai menggigit bibirnya sendiri, tanpa diberi tahu pun, hatinya sudah timbul penyakit. Jika dalam mimpi Alif bertemu dengan gadis lain. Maka Putri Naqi juga telah bermimpi melewati hal-hal indah bersama Pangeran Alif. Ia sampai mengingat terus bagaimana dua raga itu menyatu saat malam pengantin, di dalam mimpinya.
“Semoga saja bisa terwujud. Dan aku tak sampai kepikiran hal ini terus menerus. Malu rasanya sebagai gadis suci aku memikirkan sesuatu yang belum halal,” gumam Putri Naqi perlahan.
Usai latihan itu digelar, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Menunggu dua hari lagi akad nikah akan diselenggarakan. Alif semakin menguatkan keyakinan bahwa ia akan menjadi suami untuk Putri Naqi. Perlahan-lahan bayangan gadis itu sirna juga. Sang pangeran sampai meminta dibuatkan air doa oleh salah satu gurunya agar tak gamang dan hanya memikirkan Putri Naqi saja, bukan gadis lain.
Detik berganti jam lalu berganti hari. Satu hari menjelang akad nikah semua persiapan telah selesai. Tak ada kesalahan atau cacat sedikit pun, sebab Permaisuri Syafitri rajin memeriksa semuanya. Begitu pula dengan Sultan Zulkarnain yang berusaha untuk sehat di hari menjelang putranya akan dinobatkan sebagai Sultan, usai ia resmi menyandang gelar barunya sebagai seorang suami. Namun, saat semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tanah di sekitar istana Kerajaan Pesisir bergetar. Air di dalam bejana mulai bergoyang. Tirai-tirai baru yang masih wangi berayun tanpa embusan angin kencang. Siapa pun di dalam istana itu merasa aneh, sebab tak ada tanda-tanda kejadian alam sama sekali. Alif sampai ke luar dari kamarnya, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tidak adakah tanda-tanda dari Malik dan Ibrahim?” Alif menyarungkan senapannya di pinggang.
“Tidak ada, Tuanku. Mungkin saja mereka telah mati di dalam benteng musuh.” Ridwan menerka-nerka saja.
“Apa ini artinya? Apa mimpi buruk yang sempat kulupakan akan jadi nyata?”
Getaran itu sesaat hilang. Semua orang dalam istana siaga. Termasuk para punggawa mulai memegang pedang atau pun tombak.
“Kita hanya bisa berdoa, Tuanku. Padahal pernikahanmu hanya besok saja digelar. Mengapa harus ada kejadian seperti ini.” Ridwan pun tak bisa menahan sesak di dadanya. Ia tak hanya memikirkan keselamatan pangerannya saja, tetapi juga istri dan anaknya. Beruntung saja ia masih sempat menitipkan keluarganya pada salah satu kerabat yang masih dekat dengannya.
Putri Naqi terdiam di ranjangnya. Ia mulai menangis ketika merasakan kamarnya bergetar. Sebabnya belum diketahui. Hanya saja firasatnya langsung tak enak. Ia takut jika ada sebuah peristiwa besar yang menjadi penyebab pernikahannya besok dengan Alif batal lagi dilaksanakan.
“Ya Rabb, izinkanlah hambamu yang lemah ini mengecap rasa sebagai seorang istri sebelum berpulang ke hadapanmu. Agar hamba mudah memasuki pintu surga sebab taat pada suami.” Gadis itu menghiba pada sang pencipta. Namun, sekuat apa pun manusia merecanakan. Tetaplah hasil akhir berada pada keputusan Rabb pencipta alam semesta. Kini istana itu bergetar sekali lagi dan lebih kuat. Putri Naqi hanya bisa pasrah dengan segalanya. Ia pun tak punya daya untuk melawan semuanya.