Dengan bersusah payah dua jenazah itu berhasil di bawa sampai ke perkampungan tempat mereka berasal. Tak salah lagi, memang mereka dua orang guru ngaji yang hilang. Dan saat kembali telah menjadi mayat. Segera saja tubuh itu dimakamkan langsung dengan baju yang dikenakan. Sebagai pertanda syahidnya jenazah itu dalam pertempuran.
“Kita harus segera menyiapkan diri. Pertempuran dengan Belanda pasti sudah tak lama lagi. Oh, iya kita juga harus mencari tahu sebanyak apa pasukan mereka disiapkan oleh tentara yang berwenang. Sekarang juga kita kembali ke hutan itu. Cepatlah, kita tak punya banyak kesempatan.” Alif begitu tergesa seolah-olah tak ada waktu lagi esok harinya. Namun, Ridwan mencegahnya.
“Tuanku, istirahatlah. Bagiaan bawah matamu telah menghitam. Kita semua kurang tidur. Juga Tuanku harus kembali ke istana. Ingat tak lama lagi akad akan segera digelar. Seluruh kerajaan akan menanggung malu kalau pernikahan ini batal.” Punggawa setia itu mengingatkan tuannya. Ridwan tahu, Pangeran Alif sangat peduli dengan keselamatan rakyatnya. Namun, diri sendiri juga harus dipikirkan.
“Mana bisa aku bersenang-senang dikala keadaan seperti ini. Kalau kau tak mau, aku pergi saja seorang diri.” Alif berjalan meninggalkan Ridwan dan dua punggawa lainnya. Tak bisa membantah lagi, para hulubalang itu hanya mengikuti langkah tuannya.
Di tengah jalan, lima orang suruhan Permaisuri Syafitri menghadang langkah Alif. Mereka harus menjemput sang pengantin lelaki agar tak mangkir lagi dari hari yang telah disepakati bersama.
“Kami memaksa, Tuanku,” ujar salah satu hulubalang itu.
“Tak ada yang bisa memaksa Tuanku dengan cara tak sopan seperti ini.” Ridwan menghunuskan pedangnya. Akan tetapi, punggawa setia itu pergerakannya masih kalah cepat dengan para pengawal Permaisuri Syafitri. Ia akhirnya jatuh dan punggungnya diinjak sangat kuat sampai terbatuk karena menghantam bebatuan.
“Perintah Permaisuri Syafitri. Bunuh siapa pun yang menghalangi Tuanku untuk kembali.” Pedang dihunuskan di kepala Ridwan, punggawa itu seperti sedang menanti ajal menjemput dirinya.
“Baik, baik. Aku kembali. Jangan perpanjang lagi masalah ini.” Pangeran Alif kemudian membantu Ridwan berdiri, “Kalian berdua pergi lakukan apa yang kukatakan tadi. Segera katakan padaku apa pun hasilnya. Mengerti?” perintah Alif pada Malik dan Ibrahim.
“Daulat, Tuanku,” jawab dua punggawa itu serempak.
Rombongan itu berpisah usai membuat kesepatakan. Ridwan dan Alif menuju istana, sedangkan Ibrahim dan Malik menuju ke benteng Adrian. Saat mereka masih di dalam hutan, empat pemuda pesisir itu sempat melihat kereta datang dan pergi berkali-kali. Entah apa yang diangkutnya. Bisa jadi serdadu baru atau senjata tambahan.
“Aku pasti kena hukum oleh Ibunda,” gumam Alif perlahan.
“Begitu juga denganku, Tuan,” sahut Ridwan. Ia akan menanggung janji setianya, sebab tak bisa membuat Alif patuh dengan peraturan istana. Bahkan bisa jadi ia mendapatkan hukuman dua kali lipat. Sudah biasa ketika Permaisuri Syafitri marah terhadap Alif.
Sampai di istana, dua orang itu tak bertukar pakaian terlebih dahulu. Mereka menghadap Permaisuri dalam keadaan kotor dan compang-camping layaknya pengemis. Sang ratu menarik napas panjang, kali itu ia tak bisa menahan diri lagi. Rotan di tangan telah ia siapkan dari tadi sebagai hukuman untuk putranya.
“Bawa pergi punggawa tak berguna ini dari hadapanku. Hukum cambuk dia sebanyak dua puluh kali.” Permaisuri Syafitri menunjuk wajah Ridwan. Punggawa setia Alif itu bahunya jatuh lemas. Hukum cambuk yang sangat menyakitkan sampai membuat kulit jadi pedih. Entah apa yang harus ia katakan nanti pada istri dan anaknya saat pulang. Padahal Ridwan sudah sering bertaruh nyawa untuk keselamatan tuannya.
“Duduk!” perintah Permaisuri Syafitri pada Alif. Kemudian rotan itu ia layangkan beberapa kali pada punggung putranya. Sebenarnya, wanita itu tak sampai hati untuk melakukannya. Namun, putranya harus menjadi contoh bagi yang lain. Jika tak diberi pelajaran, bisa-bisa yang lain juga meniru langkahnya.
“Kau tahu tidak, dua dayang setia Putri Naqi diculik, dilecehkan, dan mati mengenaskan,” ujar wanita itu ketika baju Alif semakin bertambah robeknya. Akibat rotan yang ia sabetkan dengan sangat kuat.
Alif ingin menjawab, tetapi pukulan rotan itu membuatnya mengaduh. Ia pun tak menyangka selama dirinya tak ada justru keguhan yang lain terjadi juga.
“Sedikit lagi mungkin calon istrimu yang menjadi sasarannya. Lalu kau malah pergi keluar mengurus hal-hal tak penting. Di mana letak martabatmu sebagai calon Sultan. Urusan di bawah sana tak perlu sampai kau yang turun tangan, Putraku.” Permaisuri Syafitri membuang rotannya, kulit Alif telah lecet dan mulai berdarah sebab pukulan rotan itu semakin kuat.
“Maafkan Ananda, Bunda. Tapi urusan luar pun tak bisa diremehkan begitu saja. Dua guru ngaji di kampung sana meregang nyawa diculik Belanda. Pertanda pendatang berkulit putih itu mengobarkan peperangan dengan kita.”
“Putraku. Kita tak bisa mengatur kehidupan setiap orang. Kematian sudah menjadi takdir, lalu kita bisa apa? Sekarang Bunda minta kau lebih memperhatikan urusan di dalam istana terutama pernikahanmu yang tinggal sebentar lagi. Paham?”
“Baik, Bunda.”
Alif meninggalkan ruangan dengan hati yang tidak baik-baik saja. Di tengah perjalanan ia sempat berpapasan dengan Putri Naqi. Calon istrinya itu sempat heran mengapa Alif tak terlalu menghiraukannya. Namun, saat melihat pakaian Alif yang robek akibat sabetan rotan. Putri Naqi hanya diam di tempatnya berdiri. Ia memperhatikan punggung calon suaminya sampai tak terlihat lagi.
“Pedih sekali. Rasanya yang hancur itu hatiku, bukan punggungku,” gumam Alif di dalam kamarnya. Ia memerintahkan pelayannya untuk mengobati lukanya.
Lama pangeran itu hanya diam saja di dalam kamarnya. Ia tak melakukan apa-apa lagi. Selain memikirkan rakyatnya di luar sana. Alif takut jikalau Belanda datang lalu menyergap mereka begitu saja. Sedangkan ia lebih memilih duduk manis sembari menanti rencana pernikahannya terwujud.
Hanya satu harapan Alif. Menanti kembalinya Ibrahim dan Malik. Mereka dua matanya yang ia lepaskan untuk mematai-matai benteng Adrian. Ridwan sendiri, ia yakin sedang tidak baik-baik saja keadaannya. Pemuda berdarah Arab itu juga heran mengapa Permaisuri Syafitri kerap berlebihan menghukum punggawanya.
Isi kepala Alif terus berputar-putar antara peperangan dan istana. Pemuda itu bahkan tak sadar ketika beberapa pelayan datang. Ia terkesiap ketika tangannya dibersihkan dan juga diberikan inai, sebagai pertanda dirinya akan segera menikah.
Mata Alif tertuju pada peta yang ia gantung di dinding. Wilayah seluas itu tak bisa ia bayangkan jika sampai jatuh ke tangan Belanda. Peperangan yang telah berkobar dari ratusan tahun silam telah memakan banyak nyawa dari kedua belah pihak.
Ayahnya sendiri pernah turun perang walau tak sampai meregang nyawa. Hanya saja sejak Sultan kembali kesehatannya tak kunjung membaik. Penyakitnya terus berlanjut sampai sekarang, bahkan sejak Alif kembali ia dengar batuknya semakin menjadi dan memercikkan darah. Pemuda berdarah Arab itu hanya bisa mengembuskan napas ketika semua bercampur menjadi satu di kepalanya. Ia harus menyelesaikan satu demi satu. Dimulai dari pernikahannya dengan Putri Naqi.
“Lalu bagaimana jika mereka menyerang sebelum pernikahanku? Mimpi-mimpi buruk itu memang tak pernah lagi datang. Hanya saja aku takut akan menjadi kenyataan dan aku kehilangan segala-galanya.” Sang pangeran yang diminta hanya diam saja sampai inai itu mengering. Tanpa sadar Alif menyandarkan kepalanya di dinding kayu. Tak lama kemudian ia pun tertidur. Lelah, setelah berpetualang di dalam hutan. Tumbukan daun inai yang ada di tangannya sampai mengering tanpa Alif sadari. Para pelayannya tak ada yang ingin mengganggu tidurnya.
***
Mantili membawa helaian rambut Alif yang ia curi saat di tengah hutan. Ahli nujum yang ia tuju. Wanita tua berambut putih itu meminta kepingan emas terlebih dahulu sebagai imbalan.
“Ini, hanya segini yang tersisa. Semuanya telah hangus jadi abu.” Mantili meletakkan dua keping emas di meja penyihir itu.
Kemudian wanita itu mulutnya komat-kamit membaca mantra. Ia lemparkan helaian rambut Alif pada bakaran kemenyan di mejanya. Matanya memejam melihat deretan hidup Alif yang berhasil dicari tahu oleh setan suruhannya.
“Ia, memang. Tak salah lagi, dia yang memerintahkan seluruh hulubalang istana untuk menghancurkan istanamu. Siang hari saat kau masih terlelap dalam pelukan lelaki berambut kuning itu. Cih, sehebat apa permainannya sampai kau lupa diri seperti ini, ha?” gerutu sang penyihir. Ia mengunyah sirih lalu meludah di cawan berasap itu. Kemudian terlihat oleh Mantili bagaimana Alif bergerak menghabisi satu per satu saudaranya. Bahkan gadis kejam itu melihat ayahnya mati terbakar sampai kaku seperti kayu kering.
“Maka kau akan merasakan akibatnya. Akan kuhabisi ayahmu dengan sangat kejam sampai kau tak sanggup menangis lagi. Aku bersumpah!” Mantili mengepalkan tangannya. Ia tak sabar untuk menghabisi nyawa para petinggi Kerajaan Pesisir termasuk Alif.
“Lebih baik kau urungkan niatmu. Aku melihat garis nasibmu akan buruk di tangan lelaki itu. Bisa jadi kau akan mati di tangannya. Bukan dia yang mati di tanganmu. Kau ini kuat hanya dibantu sihir saja. Buktinya siang hari kau melemah. Sedangkan pemuda itu tak peduli siang atau malam akan sadar dan tak memerlukan apa-apa untuk bersandar. Lawan kita kali ini tak tertandingi. Penciptanya langsung. Sebaiknya urungkan saja niatmu, Mantili. Pergilah, hidup baik-baik dan tak usah mencari keributan lagi.” Nasehat sang penyihir padanya.
“Cih, kau menceramahiku? Kau sendiri bagaimana, kapan akan berbuat baik? Sok alim, mengapa tak taubat saja kau sekalian lalu sujud seperti mereka itu,” cemooh Mantili.
“Aku tak bisa. Pekerjaan ini membuatku kehilangan hati nurani. Aku terikat dengan setan-setan peliharaanku. Kau tahu? Orang-orang seperti kita akan kekal abadi di dalam neraka. Tapi anehnya kita jumawa, seakan-akan mampu menahan panasnya api abadi yang tak ada tandingannya. Bahkan ayahmu hancur tak bersisa dilahap api merah di dunia, bagaimana pula dengan api di neraka?” Penyihir itu mengedipkan matanya yang mulai berembun. Ia ingin lepas dari semua kejahatan yang selalu ia kerjakan. Namun, ada kepuasan dirinya yang akan hilang dan tak bisa digantikan.
“Halah, mereka yang berbuat baik juga belum tentu masuk surga. Lagi pula aku tak akan kesepian, ada kau di neraka sebagai temanku. Kita sama-sama akan dibakar, begitu bukan?”
“Iya, begitulah kita begitu angkuh menantang neraka. Padahal panas api dunia saja kita tak tahan.” Penyihir itu menggenggam paksa tangan Mantili dan menahannya di atas bara api kemenyannya. Percobaan panasnya api neraka.
“t***l kau!” umpat Mantili menahan panas di tangannya.
“Baru api dunia, kan? Bagaimana di neraka? Bisa-bisa kita hancur lebur dibuatnya.”
“Ya bagus. Kalau kita sudah hancur lebur artinya sudah tak bisa merasakan kesakita apa-apa. Hanya sementara saja hukumannya, kupikir sampai kita menjerit meminta ampun. Itu saja kau takut!” gerutu Mantili. Ia mencelupkan tangannya ke dalam cawan berisikan air untuk meredam luka bakar yang ia derita.
“Pergilah. Bawa ini. Terakhir kali aku membantumu. Selanjutnya jangan temui aku lagi. Aku ingin bertapa menambah ilmuku agar hidup lebih lama lagi. Aku takut mati dan bertemu malaikat maut,” ujar penyihir itu.
“Apa ini?” tanya Mantili. Tangannya memegang bungkusan kain kafan yang berisikan serbuk entah terbuat dari apa.
“Itu untuk membuatmu tetap terjaga di siang hari. Kau akan kuat saat menyerang Kerajaan Pesisir tak peduli terik panas atau dingin malam. Kau tak perlu membayarnya, anggap saja kita saling tolong menolong di dalam kejahatan. Ingat, aku akan menjadi temanmu di neraka nanti. Camkan itu!”
Sang penyihir kemudian meminta Mantili untuk meninggalkan kediamannya. Gadis itu tersenyum puas ketika melihat jimat sebanyak tiga kantong yang diberikan untuknya. Mantili kemudian berlari menuju benteng Adrian. Ia akan bergabung bersama kekasihnya untuk menggempur istana Kerajaan Pesisir.