Di dalam markasnya, Adrian—lelaki berpangkat menengah yang ditugaskan menaklukkan wilayah pesisir, sedang memandang peta wilayah. Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk, empat orang bawahan yang baru saja pulang dari pertemuan di istana Kerajaan Pesisir datang memberikan laporan. Lelaki bengis berambut pirang itu mengembuskan asap cerutunya, ia sudah menduga akan adanya penolakan. Namun, justru ia tertawa lebar, ia akan memiliki alasan untuk membantai lebih banyak nyawa lagi. Baginya terlalu mudah menyerah justru tidak seru dan kemenangan menjadi tidak ada harganya bagi Adrian.
“Mari kita beri Pangeran angkuh itu contoh, kalau aku orang yang bermurah hati dalam mengambil nyawa manusia.” Kembali Adrian mengembuskan asap cerutu mahalnya.
“Kita harus bagaimana, Meester?” tanya bawahannya.
“Cari siapa wanita yang dia sukai. Lalu bawa dia ke bawah ranjangku. Akan kuperkenalkan apa itu surga dunia lalu kita pertontonkan di hadapan orang ramai. Menyesal kau karena menolak tawaran damai dariku.” Gelak tawa Adrian yang memantul dari dinding kamarnya, menjadi bukti kalau lelaki itu bukan orang yang pernah bermurah hati.
Empat orang bawahan itu langsung bergerak dengan cepat. Terbukanya pintu kerjasama yang ditawarkan oleh bangsawan pengkhianat membuat mereka mudah berbaur dengan masyarakat pesisir. Ditambah mereka menggunakan kepingan emas demi menarik perhatian. Berbagai informasi tentang Pangeran Alif mereka dapatkan, dan kini empat bawahan Adrian itu sedang membuntuti seorang wanita yang dari belakang saja sudah menggugah naluri mereka. Naas, wanita yang tidak tahu apa-apa itu kini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Adrian.
***
“Persiapan pernikahan kalian, tak usahlah mewah. Cukup kita orang dalam istana saja dulu yang mengetahuinya. Kita sahkan dulu, masalah perayaan kita tunda sampai istana ini tenang. Itu yang terbaik Bunda tawarkan, mengingat ayahandamu juga sedang tidak sehat,” tutur Permaisuri Syafitri ketika Sultan telah tertidur.
“Daulat, Bunda. Putramu mengikuti setiap titah yang engkau berikan.”
“Masalah hati, kalian berdua akan belajar saling mencintai, saling mengerti dan saling mengalah nanti. Sekarang kembalilah ke kamar, putraku pasti lelah usai perdebatan dengan para bangsawan yang menguras tenaga dan kesabaran. Mereka semakin tua justru semakin takut kehilangan harta bendanya. Besok saat dikubur mungkin benda-benda itu juga akan mereka bawa ke liang lahat.”
Alif pamit usai mendengar perintah dari bundanya. Sejujurnya ia sedikit waswas ketika mengambil keputusan untuk pertama kalinya tanpa mendengar pendapat Permaisuri Syafitri terlebih dahulu. Beruntung saja sang ibu satu isi kepala dengannya. Ditambah dengan restu para guru, setidaknya lelaki keturunan Arab itu sedikit tenang dalam melangkah.
Pangeran Pesisir itu berjalan melintasi kebun mawarnya, kelopak dan makhkota bunga sudah mulai terlihat. Mungkin tak lama lagi akan bermerakan menjelang pernikahan sederhananya digelar. Ia yang tak pernah berinteraksi dengan sembarang wanita membayangkan bagaimana indahnya malam pengantin dengan Putri Naqi nanti.
Adzhan Ashar kembali bergema, bergegas pangeran dan punggawanya itu melangkah menuju masjid. Sholat berjamaah dan kembali lagi ke kamarnya, saat itulah mereka sempat berpapasan dengan Putri Naqi yang sedang menuju kamar Permaisuri Syafitri. Besar kemungkinan Putri Kerajaan Melaka itu akan diberi tahu perihal majunya rencana pernikahan mereka secepatnya.
Baru dua langkah menaiki tangga kamarnya, sebuah panah melesat hampir mengenai kepala Alif. Ridwan sigap menangkapnya terlebih dahulu. Panah yang diberi secarik kertas di kayunya.
“Tuanku, sebuah surat bertuliskan huruf latin. Hamba tak bisa membacanya.” Ridwan memberikannya pada Alif.
Pangeran Pesisir itu langsung membukanya, ia membacanya dengan seksama kemudian meremas dan membuangnya. Gemuruh di dadanya semakin terbakar ketika mengetahui pengirimnya Adrian, lelaki Belanda yang mengutus empat orang bawahan saat perundingan tadi.
“Ada apa, Tuanku?”
“Dia bergerak beberapa langkah lebih maju daripada kita. Cepatlah kita harus bersiap.”
“Tuanku, jangan gegabah, apa isi surat itu?”
“Dia menculik wanita pesisir, kau ingat saat kita dihukum ketika dulu ke luar dari istana. Wanita itu dalam penyekapan dan dia memintaku datang langsung untuk membebaskannya. Cuih! Pengecut, beraninya dengan perempuan saja!”
“Kalau begitu akan kupersiakan orang-orang kita, Tuan.”
“Jangan banyak orang, cukup kita berempat saja. Kita akan menyergap diam-diam ke kediamannya. Biarkan Adrian itu tahu siapa yang sedang dia hadapi. Lepas Maghrib aku tunggu kau di belakang istana. Bergegaslah.”
Usai menunaikan ibadah wajib, tanpa satu orang pun yang tahu, Alif diam-diam menuju halaman belakang istana. Di sana, tiga orang punggawa kepercayaannya telah menunggu, Ridwan, Malik, dan Akbar. Gegas saja mereka memacu kudanya menuju kediaman Adrian yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Bahkan mereka menyempatkan diri untuk menunaikan shalat Isya terlebih dahulu.
Ketika dinginnya udara malam menyapa kulit mereka, empat pemuda Pesisir itu menambatkan kuda mereka di sebuah pohon. Mengendap-endap mereka memasuki wilayah luar benteng yang dibangun sangat tinggi oleh Belanda.
Alif memimpin misi penyelamatan, tiga orang punggawa setianya mengikuti ke mana saja sang tuan melangkah. Pangeran Pesisir itu melemparkan kaitan besi ke atas benteng, lalu memanjat dengan perlahan-lahan dengan menginjak dinding. Ketika sampai di atas, mereka bergerak dengan cepat membunuh siapa saja yang menghalangi jalan. Belum sempat serdadu Belanda di atas sana melepaskan timah panas, pisau Alif terlebih dahulu menancap di leher itu. Beberapa detik kemudian darah pun mengalir di benteng milik Adrian.
***
“Cantik juga. Pantas pangeran itu jatuh hati ke padamu. Mengapa kau menolak cintanya, ha?” Adrian memegang paksa dua pipi wanita pesisir itu. Perempuan itu menangis sesenggukan, ia takut apa yang ditakutkan terjadi padanya.
“Le-lepaskan, aku wanita bersuami. Kau tak pantas memperlakukanku seperti ini,” bergetar bibir wanita itu memohon pada Adrian.
“Oh, sudah tak perawan rupanya. Tapi tak apa, sudah banyak kucoba, rasa kalian sama saja. Tak ada bedanya. Justru yang lebih berpengalaman itu yang memberikan sensasi tersendiri untukku. Kau bersiaplah. Aku akan menjamah tubuhmu itu inci demi inci sampai kau menjerit karena kepuasan.” Gelak tawa Adrian membuat nyali wanita itu kian menciut. Ia yang tak terlibat dengan perundingan di dalam istana jadi kena getahnya. Adrian memberikannya selembar pakaian tipis dan pendek untuk digunakan. Wanita itu merasa jijik dengan lelaki di hadapannya.
“Demi Allah, kehormatanku hanya untuk suamiku saja!” tegas wanita itu.
Satu tamparan mendarat di pipi perempuan pesisir itu. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Adrian menyentuh dengan telunjuknya. Ia menyesap aroma darah itu, ada kepuasan tersendiri yang mengalir dalam dirinya ketika melihat lawannya menderita terlebih dahulu.
“Kau pakai baju ini dengan sukarela atau mati di tanganku?”
“Aku pilih mati. Tak sudi aku menjadi pelacurmu, kafir j*****m! Cuih!” Wanita bersuami itu meludah tepat di depan muka Adrian. Tak ayal lagi tamparan, tendangan dan pukulan pun ia terima sebagai balasan atas perlawanannya. Pakaiannya dilucuti dengan paksa. Meski sekuat tenaga bertahan bahkan ia telah melukai Adrian dengan kukunya, nyatanya wanita itu tak bisa mengelak lagi ketika kerudungnya ditarik paksa. Kemudian berlanjut dengan ditanggalkannya keseluruhan bajunya. Jerit wanita pesisir itu bergema ke seluruh kediaman Adrian. Malam pekat itu menjadi saksi terampasnya kesucian seorang istri yang mengabdikan diri pada suaminya.
Alif mendengar jeritan itu dan menoleh mencari asal suara. Mereka cukup kerepotan menghadapi serdadu yang terus berdatangan dan mulai menembakkan timah panas. Ridwan mengambil salah satu senapan lalu melakukan tembakan balasan dan mengenai beberapa tentara Belanda, meski demikian mereka tetap saja tersudut.
“Kurasa ini perangkap untuk kita, Tuanku,” ujar Malik ketika membidik lawannya dengan anak panah.
“Perangkap atau bukan, kita harus menyelamatkan siapa saja yang ditawan.” Alif semakin kalut ketika jeritan wanita itu terdengar lagi di telinganya. Ia mengambil senapan laras pendek di pinggangnya. Kemudian menembakkan ke beberapa serdadu yang mencoba membunuhnya. Lengan Alif terluka terkena lintasan peluru. Namun, sakit itu ia abaikan, sang pangeran terus melaju demi menyelamatkan wanita yang ditawan Adrian.
Terkepung, empat orang itu tak cukup tenaga untuk melawan seluruh tentara milik Adrian. Tiga orang punggawa itu bergerak melingkar saling melindungi sang tuan walau harus mengorbankan nyawa sekalipun. Lalu tak lama kemudian sebuah pluit ditiupkan. Para serdadu menurunkan senjatanya, dan salah satu orang yang siang tadi datang ke perundingan berjalan ke arah Alif terpaku.
“Bukankah sudah kukatakan kau akan menyesal nantinya, Tuan.”
“Apa aku terlihat menyesal bagimu?” cemooh Alif.
“Oh, ha ha, kurasa Tuan Adrian akan mendapatkan lawan tangguhnya kali ini. Sekarang ikut aku, Pangeran, Meester Adrian sudah menunggumu di kamarnya. Kami menyambutmu dengan ramah satu kali ini saja. Besok-besok kami tak bisa menjamin.”
Lima orang itu berjalan menuju kamar Adrian. Bisa mereka lihat sendiri, tentara pribumi pengkhianat bergabung dalam barisan Belanda, hal yang membuat hati mereka terluka. Memerangi saudara sendiri demi emas yang tidak seberapa.
“Welkome, saudaraku.” Adrian menyambut Alif, bahkan berdiri dan ingin memeluknya. Namun, Ridwan terlebih dahulu mendorong lelaki Belanda itu agar tak menyentuh sang pangeran.
“Terima kasih karena kau sudi memenuhi undanganku. Sekarang bawa pulang wanita ini, aku sudah puas menjamahnya.” Adrian menenggak segelas wine usai merenggut kehormatan wanita bersuami.
“b*****h kau!” Alif yang emosinya tersulut langsung melayangkan pukulan ke wajah Adrian. Lalu bawahan Adrian menodongkan pistol ke kepala sang pangeran, diikuti Ridwan yang meletakkan pisau di leher bawahan itu.
“Sepertinya ini akan menjadi perseteruan yang paling seru. Coba saja kau menuruti permintaanku untuk takluk. Wanita ini pun akan baik-baik saja dengan suaminya malam ini, atau kau ingin mencobanya juga. Kubiarkan kau memakai kamarku, Pangeran,” hina lelaki Belanda itu.
“Kau menantang Kerajaan Pesisir. Kau tak tahu bagaimana derasnya darah pejuang yang mengalir dalam urat nadi kami.”
“Aku kembalikan dia padamu!” Adrian mendorong wanita yang auratnya masih terlihat jelas di mata para lelaki. Gegas punggawa Alif memungut pakaiannya yang berserakan.
“Kita selesaikan malam ini juga, antara kau dan aku,” tantang sang pangeran.
Bawahan Adrian membunyikan pluit lagi. Lalu seketika belasan bahkan puluhan tentaranya datang menodongkan senapan ke arah orang-orang pesisir itu.
“Kau pikir aku takut mati?”
“Tidak. Kau tak takut mati, buktinya kau berani ke mari. Yang akan kulakukan adalah menyakitimu terlebih dahulu tak sampai mati. Lalu menggilir wanita itu pada bawahanku satu demi satu sampai dia mati kelelahan, bagaimana, kau masih mau melawan?”
Tidak ada satu pun dari mereka yang ingin menjawab, terlalu besar mempertaruhkan seorang wanita yang tidak bersalah.
“Maka tinggalkan bentengku sekarang. Aku akan mempersiapkan perang lebih besar. Aku tunggu persiapanmu anak muda. Aku sudah lebih banyak makan garam daripada kau makan nasi. Pengalamanku jauh lebih hebat dibandingkan kau! Pergi!” hardik Adrian.
Empat orang itu mundur dengan harga diri yang terinjak-injak di dalam benteng Adrian. Wanita itu tak henti-hentinya terisak sembari memegang tubuhnya yang memar dihantam lelaki bengis itu. Mereka melewati tangga untuk turun dari benteng. Wanita pesisir itu berjalan di belakang Ridwan, bergegas kembali ke rumah sembari membawa kehormatan yang sudah hancur berantakan.
Tak puas sampai di sana. Adrian mengarahkan senapannya ke salah seorang rombongan itu.
Dor!
Sebuah timah panas diletuskan tepat mengenai wanita yang ia rampas kehormatannya.
“Puas sekali aku malam ini. Jangan bangunkan aku di pagi buta, aku ingin tidur sampai kebugaran tubuhku kembali.” Perintah Adrian pada bawahannya.
***
“Innallilahiwainnailaihiroji’un,” ucap empat orang itu bersamaan ketika wanita pesisir tersebut tak sanggup lagi menanggung derita hidupnya. Sebuah tembakan bersarang dibagian punggung. Darah mengalir tanpa henti. Mereka ingin membalas, tetapi puluhan serdadu Adrian telah mengunuskan senapannya lebih dahulu. Posisi mereka sangat terpojok.
“Kita antar jasad ini ke rumahnya. Kita bantu pemakamannya. Malik, kau pulanglah ke istana. Sampaikan pada pihak kerajaan kematian salah satu rakyat karena ketidaksanggupanku melawan,” ujar Alif dengan suara serak. Dadanya serasa bergemuruh melihat kematian wanita yang pertama kali mampu mencuri hatinya. Entah bagaimana dengan suaminya nanti.
Bergegas mereka berkuda, mengantar wanita pesisir itu sampai ke rumah. Dan benar saja, sang suami yang sedari sore khawatir dengan hilang istrinya, menjerit tak keruan. Luka lebam, luka tembak menjadi bukti wanita baik-baik disiksa tanpa ampun. Tak lama kemudian beberapa orang berdatangan menenangkan suami itu dan menyegerakan pemakaman. Termasuk tuan guru yang turut hadir dalam perundingan.
“Apakah ini menjadi jalan takdir yang harus Ananda lewati, Tuan Guru? Mengapa harus wanita itu yang menjadi korbannya?” Alif hanya berdiri di depan rumah itu, ia tak punya cukup nyali untuk meminta maaf pada suami wanita tersebut.
“Ini sudah jadi bagian dari takdir, Pangeran. Insya Allah dia mati syahid. Aku mengenal wanita itu. Dia muslimah terhormat. Tak mungkin menyerah begitu saja. Surga untuknya, semoga saja.”
“Seandainya saja ....” Alif tak mampu meneruskan perkataannya.
“Apa? Pangeran ini berandai-andai kalau kita menyetujui berada di bawah tekanan para penjajah? Jika itu terjadi maka sama saja kita menggadaikan keyakinan kita, Pangeran. Sudah benar keputusan yang kau ambil. Bersabarlah, peperangan dari dulu memang belum usai. Barangkali ini memang cara kita untuk meraih kemenangan dan surga Allah nanti.”
‘Seandainya saja aku lebih cepat mempersuntingnya. Wanita itu pasti aman berada dalam lindungan kerajaan,’ gumam Alif dalam hati.
Lelaki keturunan Arab itu masih mematung di sana. Ia meyakini masih lebih banyak darah dan air mata yang akan tumpah sebagai bagian dari peperangan melawan penjajah.