Mata-mata

2154 Kata
Ridwan, Malik, dan Akbar-- tiga orang punggawa yang paling dekat dengan Alif tengah menyelidiki seseorang yang paling dicurigai selama ini sebagai seorang penyusup. Sejujurnya dalam hati Ridwan, ia agak ketar-ketir ketika kecurigaan dalang yang sedang ia ikuti kini, ternyata tak lain adalah orang dekat dari Putri Rindu Naqi. Namun, atas perintah dari Pangeran Alif pula, tugas tetaplah tugas. Mereka bertiga tak boleh pandang bulu akan siapa pun yang berani mengkhianati kerajaan. Sesekali orang yang diikuti itu menoleh ke belakang, dan pada saat itu tiga punggawa setia Alif akan bersembunyi. Lalu yang dicurigai berjalan lagi bahkan kemudian berlari karena memang merasakan ada yang aneh sedari tadi. Namun, bukan tanpa alasan tiga orang itu terpilih menjadi punggawa terbaik untuk sang pangeran. Terlebih dahulu sebelum melarikan diri, orang yang dicurigai dikepung sampai tak bisa lagi mencari jalan untuk kabur. “Tuanku, ada apa kau mengendap-endap di malam gelap gulita seperti ini? Bukankah istana itu arahnya ke sana?” Ridwan mengorek keterangan sebelum ia meringkus pengkhianat itu. “Bukan urusan kalian pula aku hendak pergi ke mana. Lagi pula orang biasa seperti kalian beraninya ikut campur dengan urusan bangsawan sepertiku. Pulang! Jangan ikuti aku lagi!” hardik sang bangsawan pada tiga punggawa Alif. Ridwan menggerakkan telapak tangannya, memberikan perintah pada dua lainnya untuk segera menangkap bibit pengkhianat tersebut. Namun, bawahan Putri Naqi itu juga bukan orang sembarangan. Ia berlari dan melompat dengan lihai menghindari kejaran dari hulubalang setia Alif. Tidak ingin kehilangan tangkapan, Ridwan dan yang lainnya pun mengejar dengan sekuat tenaga. Bibit pengkhianat itu mengeluarkan senapan model terbaru yang ia dapatkan dari hasil kerjasama terlarangnya dengan Belanda. Dua kali letusan diberikan sebagai peringatan agar tak lagi mengejarnya. Ia pun masuk ke dalam semak belukar agar jejaknya tak diketahui oleh tiga punggawa Alif. Ridwan, menyisiri jejak kaki yang mungkin terlihat. Hanya saja obornya tak mampu memberi sinar sebaik mentari. Ia tak bisa mencari tahu begitu juga dengan dua rekannya yang lain. Dua alis Ridwan hampir menyatu ketika mendengar pergerakan dari arah belakang. Saat itu juga ia meraih tombak yang dibawa oleh Ibrahim. Melempar ke arah yang ia curigai sebagai tempat persembunyian. Saat itu juga suara jeritan terdengar. Bergegas tiga punggawa itu meringkus orang yang dicurigai dengan secepatnya. Rupanya telapak kaki bangsawsan itu terkena ujung tombak yang tajam yang diarahkan Ridwan. “Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu di hadapan tuan kami. Mengerti?” tekan Ridwan pada bangsawan yang wajahnya memerah menahan sakit. “Le-lepaskan, orang berpangkat bawah seperti kalian tak layak menyentuhku.” “Lebih hina lagi orang yang mengkhianati agamanya demi segenggam emas dan permata. Kau akan rasakan sakitnya jantungmu ditikam oleh pedang panjang dan didatangi malaikat maut tanpa belas kasihan,” sahut Malik. “Ti-tidak, jangan, lepaskan aku. Ambillah emas dan permataku, jangan serahkan aku pada pihak kerajaan. Aku mohon,” rengek bangsawan itu tiba-tiba. “Lupakan saja. Pangeran Alif paling tak bisa memaafkan pengkhianat sepertimu. Kau hanya akan kami adili dalam lingkup kecil saja. Sebab jika dihadapkan pada raja kau pasti akan bersilat lidah dan memutar balikkan fakta.” Tubuh pengkhianat itu diikat tali, ia dibawa paksa walau kakinya tertatih dan berdarah. Ia tak dibawa ke istana. Melainkan ke sebuah tempat di mana Alif telah menunggu untuk melaksanakan sebuah tanya jawab pribadi. Lelaki itu dilempar ke kaki sang pangeran yang sedang duduk di kursi agungnya. Kali ini ia tak akan bertanya pada sang bunda tentang keputusan apa yang harus dirinya ambil. Ia harus belajar menjadi setegar karang demi kedudukan sultan yang tak lama lagi akan ia emban setelah menikah. “Pangeran. Lihatlah, orang-orangmu telah tak sopan dengan bangsawan bermartabat sepertiku. Mereka layak dihukum mati,” ujar pengkhianat itu yang belum meengakui apa kesalahannya. “Tuan Bangsawan. Maaf, kiranya mereka bertindak gegabah. Tapi, itu atas perintahku pula. Jadi kalau kau tak senang kau seharusnya murka denganku bukan mereka.” Alif berdiri dari kursinya, melihat bekas luka yang terus mengalirkan darah segar. “Apa maksud Pangeran. Tolong, bukankah kita sebentar lagi akan mengeratkan hubungan dengan dasar pernikahan. Setidaknya Pangeran harus berlaku lebih hangat pada kami dari Kerajaan Malaka, bukan memperlakukanku seperti babi yang akan disembelih.” “Iya, maaf kalau begitu, Tuanku. Tapi aku ingin bertanya. Senjata ini bahkan aku yang orang penting saja belum bisa memilikinya. Lalu bagaimana caramu mendapatkannya? Kau bekerjsama dengan kafir Belanda itu?” Alif meraih senapan laras pendek dengan beberapa selongsong peluru di dalamnya. Seketika ia geram, pengkhianat di depannya siap kapan saja untuk meletuskan timah panas dan bisa mengakibatkan kematian. Satu buah tamparan ia layangkan ke pipi orang suruhan Putri Naqi. “Pangeran! Kau sudah keterlaluan!” “Kau ingin menembakkan peluru ini pada siapa? Pada punggawaku, pada rakyat jelata atau padaku? Jawab!” bentak Alif di telinga bangsawan itu. “Hamba tidak sedikit pun memiliki niat itu, Pangeran.” “Ini sudah cukup menjadi bukti. Kau masih saja ingin mangkir. Ridwan!” “Daulat, Pangeran.” Dengan Sigap hulubalang kepercayaan Alif itu maju. “Siksa dia sampai buka mulut. Sampai saat itu tiba jangan beri dia makan minum. Aku tak peduli, sekali pun Putri Naqi terlibat nantinya. Semuanya harus dihukum. Mengerti?” Titah sang pangeran dijawab langsung oleh tiga punggawa setianya. Alif berlalu, menaiki kuda menuju istananya, menembus kencangnya angin malam yang berasal dari lautan. Ikat kepala yang ia kenakan sedikit bergerak tertiup angin. Sang pangeran itu menoleh ketika mendengar jeritan dari rumah yang baru saja ia tinggalkan. Namun setelahnya ia mengentakkan kembali kudanya. Ia harus sampai ke kediamannya. Ada beberapa peta yang belum tuntas ia selesaikan. Peta yang akan menjadi tumpuan pasukannya menyerang Belanda. Kedatangan tiba-tiba seorang gadis nyaris membuatnya hampir menabrak rakyat yang berada di bawah kendali Kerajaan Pesisir. Alif menghentikan kudanya, ia memandang gadis pesisir yang selendangnya berantakan dipermainkan angin. “Adik, ada apa gerangan kau ke luar malam-malam begini. Kembalilah ke rumah. Takutnya ada penyamun yang tertarik dengan rupamu,” ujar pangeran dengan merendahkan suaranya. “Maaf, Pangeran. Hamba hanya menunggu kedatangan seseorang. Kalau begitu hamba kembali saja sekarang.” Saat gadis itu mendongak, Alif teringat pada masa lalunya ketika mengintip seseorang di desa saat menjemur ikan. Gadis yang ia kagumi pertama kali, rupanya telah tumbuh besar sama sepertinya, bahkan tak kalah cantik dari Putri Naqi. Khawatir sebenarnya sang pangeran membiarkan gadis itu berjalan sendirian. Namun, tak lama setelah itu lelaki lain datang dan menggamit tangan perempuan pesisir tersebut. Mereka bersenda gurau sejenak sebelum memberi hormat pada sang pangeran yang masih ada di atas kudanya. Lalu dua orang itu berjalan bergandengan bersama. Sedikit terdengar di telinga Alif, gadis itu memanggilnya dengan gelar Cut Abang, artinya ia telah menjadi istri lelaki lain. Sang pangeran pun hanya bisa tersenyum saja, gadis yang ia kagumi pertama kali telah menjadi milik orang lain. Usai membersihkan diri, Alif memakan kudapan yang dihidangkan oleh dayang-dayang istana. Meski malam semakin larut, lelaki keturunan Arab itu belum mau memejamkan matanya. Ia terus berkutat pada peta kerajaan yang sedang ia gambar dengan pensil. Alat tulis terbaru yang ia dapatkan setelah mengunjungi beberapa pedagang Inggris yang beniaga di wilayah pesisir. Ia terus menggores pensil itu hingga menghasilkan beberapa garis melengkung baru. Tak kuat menahan letih, sang pangeran pun memutuskan untuk tidur sejenak dan peta tersebut akan ia lanjutkan nanti saja. Dalam tidurnya Alif pun tak tenang, ia bermimpi istananya dibakar sampai hangus oleh penyusup yang terus berkhianat dan berpaling dari agamanya. Satu demi satu keluarganya mati, termasuk sang bunda yang begitu ia sayangi. Tak luput pula kematian Putri Naqi yang sebentar lagi menjadi istrinya. Dengan banjir peluh sang pangeran bangun dari tidurnya. Napasnya naik turun demi menenangkan debar jantungnya yang tak beraturan. Pangeran pesisir itu bangkit, ia ke luar menuju kamar mandi khusus yang hanya untuknya. Mengambil air untuk wudhu demi meredam semua rasa panas di dalam tubuhnya. Setelah itu ia menunaikan shalat tahajjud, demi meraih ketenangan di dalam dadanya. Ia tak boleh melupakan sang penciptanya dalam mengambil keputusan. Ia harus mengedepankan perintah Allah dalam menerapkan peraturan yang akan Alif ambil. “Ya Rabb, semoga saja peperangan ini tak meluas lebih jauh. Semoga saja dengan kehendakmu, kerajaan kami selamat dan musuh mundur sebab kau lembutkan hatinya.” Alif menutup doa dengan mengusap kedua wajahnya. Namun, pemuda itu lupa bahwa tak ada musuh yang mundur sebab bermurah hati. Mereka harus dipaksa menyerah bahkan direnggut nyawanya. “Semoga saja kecurigaanku kali ini salah, sebab jika bangsawan itu memang bagian dari pengkhianat. Maka pernikahanku dengan Putri Naqi layak untuk dikaji ulang. Tapi apa mungkin putri secantik dia terlibat?” Alif meragukan keputusannya lagi. Selalu demikian. “Jika memang dia terlibat. Maka kita batalkan pernikahanmu bahkan eksekusi mati juga Putri Naqi di sini,” ucap sebuah suara yang mengagetkan Alif. Sang pangeran menoleh dan seseorang yang sangat ia segani telah memperhatikannya sedari tadi. “Bunda, sejak kapan?” “Sejak kau memulai pergerakan. Bunda hanya diam saja, menanti keputusan yang akan kau ambil. Bunda tak akan ikut campur kali ini. Lagi pula kedatangan Bunda ke sini untuk menguatkan hatimu. Nak, jangan ragu dengan musuh di hadapanmu. Jika memang berbahaya demi keberlangsungkan hidup rakyat kita, bunuh saja. Tak masalah, tak dosa membunuh orang munafik. Jika memang ia bersalah, Putri Naqi pasti bisa memakluminya.” Permaisuri Syafitri mengenggam dua tangan Alif demi meneguhkan hati putranya. “Daulat, Bunda. Ananda akan senantiasa mengingat nasehat Bunda.” “Istirahat, Putraku. Pernikahanmu tak lama lagi digelar, kau harus terlihat gagah dan menawan di hadapan Putri Naqi.” Permaisuri Syafitri berlalu dari kamar putranya. Wanita itu meski telah mulai memasuki usia senja, jejak pejuang dalam dirinya masih sangat jelas. Rencong yang dibawa di pinggangnya menjadi bukti sang ratu siap tempur kapan saja. Bahkan sang ratu memiliki kendali yang begitu dalam dibandingkan ayahnya. Sultan Zulkarnain begitu menyayangi sang istri hingga tak pernah berkata tidak dalam setiap permintaannya. Beruntung Permaisuri Syafitri bertindak di bawah perintah syariat. Alif menunggang kudanya seorang diri menuju rumah yang tadi malam ia tinggalkan. Ia harus melanjutkan tanya jawab pada bangsawan di dalam sana. Sang pangeran turun, ia memberikan bekal pada tiga punggawanya yang ia yakini belum makan apa pun dari tadi malam. Bangsawan yang dicurigai telah babak belur dengan lebam dan di sana sini, sebab sangat susah untuk membuka mulut. “Bagaimana, apa dia mengaku?” Sang Pangeran melipat celananya di atas mata kaki. Ia tak ingin pakaian kerajaannya kotor. “Sudah, Pangeran. Ia mengaku menerima suap dari Belanda untuk mengacaukan hari pernikahanmu,” jawab Ridwan sebelum memasukkan makanan ke mulutnya. Terlihat sekali punggawa itu sangat lapar usai bekerja keras. “b*****h. Cuih!” Alif meludah di dekat lelaki yang kini terus mengaduh. “Am-puni, Hamba, Pangeran,” ucap pengkhianat itu perlahan. Alif merasa jijik dengan permohonan itu. “Sudah kalian dapatkan apa saja yang dibutuhkan?” “Daulat, Pangeran, sudah. Hanya tinggal menunggu perintah darimu saja.” “Bagus. Kita bawa ke alun-alun kerajaan. Hukum mati, tikam jantungnya dengan tombak. Jadikan dia contoh bagi yang lain.” Tiga orang punggawa setia Alif, menyeret tubuh lemah itu untuk dibawa ke istana. Sepanjang jalan mereka menjadi tontotan para rakyat jelata yang sibuk mencari nafkah. Tak luput pula Alif dipuji oleh para gadis sebab rupanya yang sangat tampan. Ketika memasuki alun-alun istana, pengkhianat itu didudukkan di tanah. Seperti itu sampai para penghuni istana lain datang dan matahari telah meninggi menyengat kulit yang telah lebam akibat hantaman. Tak lupa pula Putri Naqi datang, ia sedikit terkejut ketika bangsawan yang diutus oleh ayahnya sekarang di tengah lapangan. Putri Kerajaan Malaka itu memang tak mengetahui pengkhiatan yang dilakukan oleh bawahannya. Ia pun meminta penjelasan oleh Permaisuri Syafitri yang baru saja datang. Apa tak ada hukuman lain selain kematian. Tak bisakah bangsawan itu dimaafkan dan diberi kesempatan kedua? “Tuan Putri, di tanah pesisir ini tak mengenal ampun untuk seorang pengkhianat. Memberi mereka kesempatan kedua sama saja seperti menyerahkan jantung kita untuk ditikam. Biarkan kita menghukum mati mereka. Sisanya serahkan pada malikat Munkar dan Nankir di alam kubur. Kepalanya pasti diinjak sampai hancur karena telah mengkhianati agamanya sendiri.” Ketika semua orang telah datang, Pangeran Alif memberikan titah agar hukuman mati dilaksanakan. Ridwan melangkah dengan tombak berujung besi panjang di tangannya. Bangsawan tersebut memandang dengan ketakutan. Celananya bahkan basah sebab tak mampu menghentikan malaikat maut yang jaraknya sangat dekat. Putri Naqi membuang wajahnya, ia tak mau melihat kematian orangnya sendiri meski bersalah. Sementara itu Permaisuri Syafitri tersenyum puas melihat sang putra berani mengambil keputusan sendiri. Tombak diarahkan ridwan ke tubuh sang pengkhianat. Seketika tubuh itu mengalirkan darah dan menunggu beberapa waktu kemudian bangsawan itu telah mati kehabisan darah. Tak ada maaf bagi seorang mata-mata yang mencurangi kerajaan. Kerumunan itu bubar setelah tubuh tak bernyawa tersebut digotong untuk dikubur ke suatu tempat. Alif berjalan dengan sedikit rasa bangga dalam hatinya. Sang pangeran berpaling ketika di hadapannya Putri Naqi juga mengambil jalan yang sama. Dua calon pengantin itu hanya diam dan tersenyum. “Maafkan jika orangku membuat hatimu terluka, Pangeran.” Putri Naqi berujar ketika membelakangi Alif. “Ini di luar pengetahuanmu, Putri. Tak apa, istirahatlah. Tak lama lagi mawar yang kutanam bisa dipetik dan kau harus menepati janjimu itu.” Alif pun meninggalkan Putri Naqi dengan hidung yang merona kemerahan. Ia merasa geli sendiri sebab pertama kalinya merayu seorang perempuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN